Bab 9 : Sang Novelis
Kafal feri meluncur dengan pelan membelah ombak lautan biru yang tidak terlalu bergelombang. Air laut nampak tenang, setenang pikiran dan jiwanya, Ia berdiri dipinggir koridor samping kapal menekukkan bahu dan menyandarkan sikunya dipembatas pinggiran kapal tersebut, ia membiarkan rambut gondrongnya dihembus angin sepoi menerpa langsung keseluruh tubuh.
Bagaimana menurutmu, laut Aceh? tiba-tiba saja Citra datang dari belakang menghampiri.
Sungguh mengagumkan, belum pernah aku melihat lautan setenang ini, begitu damai, begitu nikmat.
Inilah tempat aku tinggal dan dibesarkan didaerah ini, tidak terlalu banyak yang berubah dari tempat ini, selalu sama seperti beberapa tahun yang lalu, syukurlah Tuhan masih memberikan kesempatan untuk aku menikmati keindahan ditempat ini.
Tak lama berselang kafal feri besar tersebut sudah bersandar didermaga pelabuhan.
"Kamu tahu kalau dipelabuhan disabang, adalah pelabuhan yang bebas pajak. Semua bebas masuk tanpa pajak, segala macam barang-barang mewah bisa dirasakan orang sabang, jadi tidak heran jika orang sabang memiliki banyak mobil dan perlengkapan mewah, tapi hanya bisa dipakai ya untuk dipulau ini aja." Jelas Citra.
"Menarik ya tempat ini." Jawab Danar datar.
"Pulau sabang ini, pulau kecil yang bisa kita kelilingi pakai motor, jadi nanti kita bisa berkeliling kota, pantai dan tempat-tempat yang menarik dipulau ini."
"Oke aku menjadi bersemangat," Danar sumringah.
"Oke kita nunggu adikku dulu biar dijemputnya, katanya sudah dijalan." Beberapa saat kemudian, "Nah itu dia datang yok Nar."
Mobil BMW hitam klasik datang menjemput mereka, adik Citralah yang berada dibalik kemudi tersebut.
"Hai kak, udah lama sampe," Ucap adiknya yang bernama Nanta.
"Baru aja sampe, eh ni kenalin teman kakak dari Yogyakarta,"
"Danar," ucapnya sambil menjulurkan tangan dengan ramah.
"Nanta," balasnya dengan senyuman sumringah.
"Lama gak pulang sekali pulang bawa calon suami ya kak," sindir Nanta dengan cengengesan.
"Hah apa!!!," Citra bereaksi menjitak kepala adiknya. Sementara Danar, hanya tertawa- tawa, melihat kelucuan adik kakak ini.
"Yadah yok pulang, laper ni," ajak Citra.
Mereka bertiga masuk kedalam mobil, dan mobil BMW tersebut langsung meluncur dengan cepat dijalanan yang lengang dan sunyi.
"Memang benar yang kamu bilang ya Cit, pulau ini bebas pajak. Seumuran adik kamu aja mobilnya semewah ini, belum lagi dijalan-jalan tadi aku lihat banyak mobil-mobil mewah berseliweran," Danar tampak takjub.
Mobil BMW tersebut sampai disalah satu rumah yang berada sedikit jauh dari keramaian. Mereka turun dan Citra langsung berlari kecil menuju rumah untuk bertemu dengan Ibunya. Ia sudah lama tidak bertemu dengan ayah dan ibunya.
"Asallamualaikum....."
"Waalaikumsalam....." Ucap Ibunya. "Lah kapan sampe?"
"Ih Ibu, malah ditanya kapan sampe bukannya disambut kek, dipeluk kek, dipijat kek, entah diapain kek."
"Eh iya-iya, sini-sini."
Anak dan ibu tersebut melepas kangen dan rindu yang sudah lama tidak terlampiaskan.
"Kamu pulang sama siapa? Jangan bilang kamu bawa suami!" Selidik ibunya sinis.
"Hahaha... Ibu apaan sih, ya enggaklah. Itu teman aku jumpa dijalan tadi. Yadah aku ajak aja sekalian kerumah dia wartawan buk. Mari sini buk aku kenalin."
Danar datang menghampiri Ibunya Citra dan langsung menjulurkan tangan untuk memberi salam. "Saya Danar buk, dan saya tidak sengaja bertemu dengan Citra disaat saya berada didalam bus. Tujuan saya kemari ialah saya mau meliput keindahan tempat ini," jelas Danar dengan hangat dan sopan.
"Weleh-weleh, jangan gunakan bahasa baku kali nak Danar ini Sabang bahasanya yang biasa aja, haha," celetuk ibunya. "Widih ganteng juga ya mas Danar ini Cit," coloteh Ibunya dengan nada sanjung.
"Ih Ibu apaan sih, malu tau buk." Citra mencoel bahu ibunya.
"Yadah yok masuk nak Danar, kasihan pasti capek. Mandi dulu deh, nanti siap mandi kita makan bareng, ibu udah masak banyak untuk menyambut kamu pulang Cit," kata Ibunya.
Danar langsung masuk kerumah tersebut, dan menanggalkan tas besarnya disudut ruangan. Ia langsung beranjak kekamar mandi untuk membersihkan kotoran yang betah menempel dari kemarin didalam tubuhnya.
"Ayah kemana buk?"
"Masih dipasar. Bentar lagi kemungkinan pulang."
Mereka semua berkumpul untuk makan bersama, ada banyak makanan dan minuman bermacam-macam bentuk yang tersedia diatas meja. Mereka semua makan dengan lahap, dan menghabiskan makanan yang tadi tergelatak diatas meja.
"Sore nanti kita jalan-jalan Nar," intrik Citra, sambil menikmati teh manis dingin digenggamannya.
"Oke baiklah aku ikut kamu saja, kamu yang lebih paham tentang pulau ini."
"Kak ikut," Nanta memelas dengan wajah lesu.
"Yadah iya, dengan syarat kamu yang nyetir," Citra tertawa.
"Ah dasar, oke dah."
"Nak Danar sudah punya pacar?"
Jlebbb.. Danar langsung tersedak dengan minumannya.
"Ih ibu apaan sih!" Tatapan Citra sinis, sementara Nanta hanya tertawa-tawa gembira.
"Kamu gppkan?" Tanya Citra kepada Danar.
"Iya gpp, haha," Danar tertawa riang. Semua yang berada ditempat makan tertawa bahagia.
"Kalau pacar sih belum buk, tapi kalau teman dekat ada buk, belum kepikiran mau punya pacar buk," ucap Danar dengan ramah.
"Oh begitu, kalau begitu sama Citra aja! Itu anak sayakan jomblo. Umur udah mulai tua, kuliah sebentar lagi tamat. Masa sampe sekarang gak punya pacar, kan ibu cemas nanti Citra gak laku kali ya karena terlalu cuek sama laki-laki." Jelas ibunya tanpa enteng.
"Ibukkkk......" Citra menggeram, dan mencubit paha ibunya dengan cepat. "Malu kali buk, masa dibilang aku gak laku," mata Citra melotot. Bola matanya seperti hendak keluar.
"Hahaha... Ah serius buk, gak laku?" Kali ini Danar yang menyindir tertawa terbahak-bahak. "Makanya Cit cari pacar biar nanti tamat kuliah langsung merid deh," sindir Danar yang juga ikutan.
"Adik kamu aja laku tuh, bahkan dia pernah bawa pacarnya kerumah."
"Hah, si tengil Nanta laku buk, wanita mana yang mau sama dia, amit-amit dah. Buta kali ya kalau ada cewek yang mau sama dia," Citra tertawa renyah.
Nanta menyeringai dengan nada protes, "Ah kakak sepele kali sih, awas aja jangan marah nanti kalau aku yang duluan nikah."
"Yadah sana," ujar Citra.
Keluarga ini sungguh menyenangkan, Danar sangat mudah untuk mengakrabkan diri bersama mereka. Danar seperti bukan orang asing didalam keluarga ini, ia merasa betah berlama-lama ditempat ini, terutama ketika bertemu dengan citra yang sedikit tomboi, ditambah seorang ibu yang selalu ceria dan humoris.
"Yuk Nar kita keluar jalan-jalan," ajak Citra.
"Oke sebentar ngambil perlengkapan kamera dulu,"
"Aku ganti baju dulu kak," Nanta langsung naik kelantai dua kamarnya untuk mengganti baju.
Setelah beberapa menit kemudian ;
"NANTA......!!! AYOK TURUN, KITA JALAN-JALAN." Teriak Citra dari teras rumah.
"OKE KAK, SEBENTAR GANTI BAJU DULU," Balas Nanta cepat.
"Heh bisa gak, jangan pake teriak-teriak, ini rumah bukan pasar," tegas Ibunya sambil memelototi Citra.
"Hehehe, iya buk maaf."
Ketika Nanta sudah siap mereka masuk kedalam mobil dan meluncur ketugu kilometer 0 Indonesia.
Sesampainya disana mereka bertega turun dengan langkah pasti, suasana tugu ini sepi. Tidak terlalu ramai pengunjung, wajar saja mereka datang dihari jam kerja dan para pengunjung biasa memadati tempat ini ketika hari libur tiba. Danar langsung bergegas mengambil tripod dan kamera, ia membuat vidio dokumenter tentang tugu ini, dan beberapa poto. Ia juga membawa sebuah drone kecil untuk mengambil gambar dari langit. Drone terbang tinggi, mengambil setiap moment indah ditugu tersebut. Diseberang tugu ini dia melihat bagian pulau Weh yang lain. Dia baru tahu ternyata pulau Weh itu adalah Sabang. Lautan lepas pantai biru membentangi samudera Hindia. Setelah beberapa menit berlalu Danar menyiapkan gambar pertamanya, dan langsung menyimpan semua perlengkapan.
Dari tugu 0 ini mereka mengunjungi Pantai Gapang. Pantai yang memiliki pasir putih tersebut memiliki lokasi sebelum pantai Iboih. Setiap pantai ditempat ini selalu saja mengagumkan Danar, pantai disini jauh lebih indah dari pantai yang ada dipulau jawa. Suara deburan ombak, desisan semilir angin yang bertiup sejuk, semakin membuat Danar ingin berlama-lama ditempat ini. Selesai dengan beberapa cuplikan video dan gambar, mobil sedan melaju mulus kepantai selanjutnya, yaitu pantai Iboi. Ditempat ini banyak para traveler menginap dan menghabiskan waktu bersantai untuk menikmati senja. Karena waktu surah semakin sore, mereka memutuskan untuk duduk santai saja dipinggir pantai ini, sambil menikmati matahari akan tenggelam bersama dengan semilir angin. Danar memasangkan kamera pada tripodnya untuk merekam tenggelamnya senja dipinggir pantai ini. Sementara Citra dan adiknya mengambil beberapa makanan ringan dan minuman yang mereka bawa dari rumah.
"Ini Nar diminum dulu."
"Eh iya terima kasih."
"Kak aku kesana dulu ya bentar." kata Nanta yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Oke jangan lama-lama."
"Kamu punya tempat tinggal yang begitu indah Cit," ucap Danar sambil menatapi lautan luas yang tak bertepi.
"Aku berpikir juga begitu, tapi semakin lama aku tinggal disini aku malah semakin asing,"
"Kenapa begitu?"
"Mungkin karena semenjak aku lulus SMA tinggal dijakarta bersama pamanku, jadi karakter kota metropolitan sudah melekat didalam tubuhku."
Danar mengangguk tampak paham, "Itu memang wajar, kamu hanya perlu menyesuaikan saja pada tempat ini."
"Oh iya soal tadi diruang makan, maafkan Ibuku ya, ibuku memang selalu begitu, punya selera humor yang tinggi."
Danar tersenyum hangat, "Ibu kamu keren. Di-era zaman yang aneh ini, masih ada seorang ibu yang pandai dalam menghangatkan suasana hati dalam sebuah keluarga, jarang sekali ada seorang ibu yang seperti itu."
"Ibuku dulu pernah kuliah juga di Yogyakarta, dia mengambil jurusan sastra seni dan pariwisata. Kakek dan nenek akupun masih tinggal di yogyakarta, tapi aku lupa apa tempat tinggalnya."
"Pantesan saja, ibu kamu seperti mudah untuk membaur dan menyindir dengan kata dan kalimat yang mencengangkan."
"Iya ibu juga rajin baca dari dulu sampai sekarang, bahkan itu dirumah kami ibu memiliki perpustakaan mini miliknya pribadi."
"Aku semakin salut dengan Ibumu, yang begitu mencintai ilmu pengetahuan dengan sangat baik," ujar Danar santai dan melanjutkan, "Ibu kamu kok bisa tinggal ditempat ini dan bahkan menetap disini?"
"Oh kalau itu, aku lucu mendengar ceritanya dari ibu, dahulu ketika ibu sedang ada tugas akhir skripsinya, ia mengulas tentang pulau ini, ia sendirian datang ketempat ini, dan menginap beberapa hari." Sementara Ayahku yang dahulu sebagai teman yang dikenalnya lewat sosial media datang untuk memberikan bantuan tugas akhirnya. Mereka langsung akrab ketika pertama kali bertemu, ayahku membawa ibuku keliling kesemua tempat yang menarik tentang pulau ini, mulai dari pantainya, gunungnya, kotanya, kuliner ya serta menjelaskan kebiasan-kebiasan aneh yang ada pada warga Sabang. Disitu pula ibuku langsung jatuh hati pada pulau ini. Sama halnya jatuh hati ayah kapada ibu," Citra diam sesaat, dan menarik nafas dalam-dalam. Lalu melanjutkan, "Akhirnya setelah beberapa bulan ibu kembali ke yogyakarta untuk menyelesaikan studinya. Ayah merasa kehilangan dan terus kepikiran. Sudah beberapa tahun mereka berdua tidak pernah berjumpa lagi. Seisi hati ayah kian merapuh ditelan waktu atas ibu yang pergi dan tak berkabar, ayah kalah cepat dengan waktu dalam menumpahkan perasaanya."
"Lalu apa yang terjadi?" Sergah Danar penasaran.
"Terus setelah dua tahun tidak pernah kembali, akhirnya ibu datang kembali lagi, tugas akhir yang ia buat memenangi lomba dikampus tersebut, yang menampilkan ke eksotisaan dan kesederhanaan pulau tersebut. Ibu memang pandai dalam merangkai kata dan cerita ditambah lagi dengan vidio yang bagus dan foto dari setiap pulau yang begitu memukau. Dia mendapat uang dan memutuskan untuk kembali kepulau ini lagi untuk menemui ayah karena telah berjasa dalam tugas akhirnya. Ayahku kaget mendengar ibu akan kembali lagi ketempat ini. Ayahku membuncah semangat yang berapi-api. Ketika ibu sampai dipantai ini dan mereka berjanji untuk bertemu. Ayah langsung terpana akan sosok ibu dengan segala macam kesederhanaannya, ibu langsung berjalan cepat memeluk ayah, ayahku kaget. Ibu menangis karena merasakan rindu yang teramat sangat, dan disitu pula ayahku langsung bersujud dan berkata ; 'aku memang bukan seorang para penulis dan novelis handal seperti kesukaanmu, aku memang bukan orang yang pintar untuk berada disampingmu, aku juga bukan orang yang kaya raya dengan bergelimpangan harta untuk bersamamu. Tetapi akan lebih hancurnya hatiku ini ketika aku harus kehilanganmu lagi, sudah dua tahun semenjak pertama kali kita bertemu aku memendam dengan sabar, dan akhirnya saksi dari sebuah kesabaran itu adalah pantai ini, deburan ombak ini, pasir putih yang kita injak saat ini, desisan angin yang menerpa wajahmu atau senja diujung sana yang kian larut bersama malam. Semua yang ada pada pantai ini adalah milikmu, milik kita untuk itu maukah kau menikah denganku?' Ucap ayah dulu."
Danar terharu mendengar kisah yang baru saja disampaikan Citra. Dia termenung sejenak. Isi kepalanya bereaksi dan mengintrogasi. Kisah tersebut mirip sekali dengan judul Novel yang pernah dibacanya.
"Terus apa kata ibumu?" Danar semakin penasaran. Wajah datarnya kini mencuat juga.
"Menurut kamu apa jawabannya? Sudah pasti iyalah kalau tidak. Mana mungkin aku lahir," Citra tertawa dan mereka berdua tertawa lepas selepas deburan ombak yang meninggalkan buih.
"Aku terkesima ibu dan ayahmu benar-benar orang yang romantis seperti sebuah novel yang pernah kubaca, kalau tidak salah judulnya ; Senja Deburan Ombak Pantai Sabang. Pengarangnya Ratna Sasmita Dewi."
"Kamu penggila novel Ibuku juga?"
"Maksud kamu?" Danar merasa keheranan dengan pernyataan Citra.
"Itukan novel karangan Ibuku," sabda Citra dengan santai. Tatapannya jauh kelautan yang luas dan tenang.
"Apa???" Kali ini kekagetannya tidak tertahankan lagi, jadi ibumu salah satu penulis bestseller itu, penulis yang hanya mencantumkan nama tapi tidak pernah wajah. Penulis yang begitu misterius, penulis yang mampu membius banyak anak muda tentang pantai dan alamnya. Apalagi kisah percintaanya. Jadi itu Ibu kamu?" Kali ini kekagetan Danar membludak, seperti pecahnya letusan gunung berapi.
"Iya Nar," jawab Citra santai.
"Kamu lucu kalau lagi kaget," tawa Citra seketika pecah.
"Sungguh aku merasa sangat terhormat bisa bertemu langsung dengan beliau, dan putrinya tentunya."
Danar masih terheran-heran semua kejadian satu hari ini, sungguh diluar dugaan. Banyak kejadian yang diluar pikiran perjalanannya, betapa beruntungnya ia bisa bertemu dengan seorang penulis idamannya. Ia benar-benar menikmati segala macam kebersamaan dengan citra dan keluarganya. Malam kian larut senja sudah tenggelam bersama deburan air biru laut, bersamaan dengan tenggelamnya rasa pensaran tentang keluarga Citra.
"Yadah yuk Nar nanti kita balik,"
"Adik kamu kemana?"
"Entahtuh, kemana itu anak."
Ketika mereka berjalan menuju mobil dan mendapati Nanta yang tergeletak nyaman di jok belakang sambil mendengkur dengan keras. "Ternyata molor disini ni anak, eh bangun ayok pulang."
Langsung saja Nanta terkesiap kaget, "Eh iya kak, hehe," Nanta nyengir dengan wajah lusuhnya.
Mobil sedan tersebut langsung beranjak dan masuk kepekarangan rumah. Danar memutuskan mandi dan istrahat sejenak, didalam pikirannya banyak sejuta pertanyaan yang ingin disampaikan ke ibu Citra.
"Mari Nak Danar kita makan dulu, kebetulan itu bapak udah pulang, kita makan berbarengan."
Satu persatu para anggota keluarga menuju meja makan, Danar menyalami bapak Citra yang sudah rapi untuk segera makan. Semua sudah berkumpul dan mereka makan dengan lahap selahapnya.
"Maaf buk saya mau nanya?"
"Iya nak Danar mau nanya apa?"
"Ibu penulis buku ; Senja Deburan Ombak Pantai Sabang?"
Tiba-tiba Ibu Citra terkesiap dan menghentikan kunyahannya, semua yang ada diruang tamu bengong keheranan.
"Ehm..." Suara Citra menyadarkan.
"Iya kamu kok tahu?"
"Saya yang kasi tahu buk,"
"Owalah pantesan aja, padahal para pembaca novel ibuk gak ada yang tahu wajah ibu hanya tahu nama saja."
"Saya penggemar novel ibuk," Ujar Danar dengan mata yang berbinar-binar.
"Kamu suka baca juga?"
Danar menggangguk pelan, "Iya buk, saya udah baca sampai habis novel ibuk, dan isinya sungguh romantis, tadi Citra juga cerita bahwa nama yang pantai yang ada dipulau itu adalah pulau Iboi, tadi kami kesana. Saya merasa sangat terhormat bisa bertemu langsung penulisnya," ujar Danar dengan senyuman semangat.
"Kalau begitu nanti kita bisa cerita banyak soal penulisan sekarang selesaikan dulu makannya."
Danar tersenyum bahagia. Salah satu penulis idolanya kini bisa berdialog langsung dengannya.
Mereka makan dengan cukup hikmat, garpu dan sendok melenting diatas piring kaca beradu seperti seorang kesatria bertarung melawan musuh-musuhnya.
Komentar
Posting Komentar