j a r a k
Ini tentang sebuah jarak dalam rentetan garis waktu yang memisahkan dua orang. Entah itu namanya sahabat atau untuk orang yang disayang.
Jarak itu tidaklah kasat mata yang melebihi angka, sehingga panjangnya tiada tara. Bagaimana mungkin sebuah jarak tanpa angka sedangkan jalan untuk berjarak bisa diukur dengan matematika.
Jarak itu seperti melintasi ruang dan waktu, diantara ruang dan waktu ada rindu yang sebagai penengah untuk perantara.
Jarak itu seperti haus, iya dia menghauskan rasa rindu yang segera ingin bertemu tetapi dibatasi ruang tapal batas horizon cakrawala. Begitulah jarak lebih dinamis dan kritis.
Jarak itu hanya bisa dirasa namun tak bisa disapa, dia seperti angin yang berhembus lirih bahkan bisa menularkan perih.
Sudahkah kau temui rahasia jarak?
Sampai kau lupa makna dari sebuah jarak?
Yang terkadang kau tarik ulur tanpa sebuah makna.
Kita pasti pernah memiliki jarak, tak mengapa dari situ akan ada seni indah dalam kita berjarak, kita bisa menabung segudang celengan rindu sampai meluber dan tak terhingga lagi.
Sampai pada suatu ketika rindu itu mencuat, gelisah mendera, angkasa meraya. Jarak yang pernah dulu dibuat akan hanya ada kedua kemungkinan jawabannya, ialah waktu; Kalau tidak bertemu sudah pasti melupakan. Kalau tidak menyapa sudah pasti tidak disapa. Hanya orang-orang yang bermental toleran yang kuat bisa menanggulkan sebuah jarak. Hanya orang-orang hebat yang bisa mencintai jarak apalagi berjarak dengan pasangannya.
Angin adalah rindu yang terlampau ramun untuk dikisahkan
Untuk mengiringi bercumbunya ingatan dengan kenangan
Rintik Hujan adalah rindu yang terlalu lama terpelihara oleh awan
Yang terlalu banyak menyimpan rasa
Yang menjelma menjadi suatu cerita
Sampai cahaya adalah jarak yang tak pernah terceritakan
Karena itu tertuliskan kepada awang-awang.
Karena pada akhirnya
Tidak ada yang bisa memaksa
Tidak aku
Tidak rindu
Tidak kita
Tidak kamu
Tidak mereka
Tidak juga jarak
Komentar
Posting Komentar