Puncak Para Raja Sorik Merapi

Gunung sorik marapi yang terletak dikecamatan puncak sorik marapi kabupaten mandailing natal merupakan salah satu gunung api yang masih aktif diindonesia. Pada tahun 1830 pernah terjadi letusan hebat yang menghantam kaki gunung dan perumahan warga desa, endapan abu vulkanik mencapai jarak sampai 52 KM, sehingga memunculkan semburan berupa lumpur yang membumbung ke langit-langit, sehingga memunculkan sebuah danau vulkanik yang sangat cantikberwarna hijau kebiruan.


Gunung ini pernah tercatat 7 kali sepanjang sejarah yaitu pada tahun 1830, 1879, 1892, 1899, 1917, 1970,1980 dan terakhir pada tahun 1987. Pada muntahan terakhir, sorik marapi memuntahkan debu dan lahar panas  yang  mengalir sampai  kabupaten pasaman di Sumatera Barat. Saampai sekarang gunung ini masih nyenyak dalam tidurnya. Hingga suatu saat nanti akan terbangun dari tidurnya yang panjang untuk memuntahkan kembali lahar panas yang telah dia simpan selama ini.


Pada suatu ketika pada suatu hari yang tidak biasa, kami merencanakan untuk melakukan pendakian di gunung yang mistis ini, kami berenam berencana untuk melihat secara langsung aktifitas vulkanik didalamnya dan betapa indahnya danau vulkanik tertinggi di sumatera ini.
Kami menyiapkan semuanmya mulai dari peralatan pendakian, baju ganti, alat-alat mandi ataupun hal-hal lain yang dirasa perlu untuk dibawa, hari ini bertepat tanggal 31 september 2013 pukul 6.00 WIB, matahari masih terbenam di ufuk barat bersiap menggantikan kedudukan matahari yang menjadi siklus rotasi bumi setiap harinya, kami dari medan menggunakan kereta begitulah orang medan menyebut kendaraan beroda dua yang sering kebanyakan dikota lain disebut motor, mau apapun namanya dia tetaplah beroda dua yang bisa dikendarai oleh satu orang pengemudi dan satu lagi penumpang dibelakangnya, 15 jam kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk sampai dikota panyabungan, kota sebelum masuk ke desa di kaki gunung sorik marapi.


Sudah seharian penuh kami diatas kereta tak perduli panas matahari menyinari hujan membasahi atau kabut asap pekat yang menyertai kereta terus digebeerrr hingga sampai tujuan, tepat pukul 21.00 WIB kami sampai di kota yang kami tuju yaitu kota panyabungan, kota dimana masyarakatnya hidup sejahtera walaupun berbeda suku, ras, dan agama yang menjadikannya satu. Kami menumpang tidur dikantor paman temanku untuk melepas lelah sembari kelemparkan tubuhku ketempat tidur hanya beralaskan tikar ijuk dan sebuah penyangga leher agar membuat tidurku sedikit nyaman, kupinjam lantai dan tempat milik pamannya temanku untuk beristirahat melepas lelah setelah seharian suntuk diaatas kereta.
Mentari senja menampakkan diri di ufuk tenggara kota sinar keemasannya membias mata yang sembab, kami bersiap  untuk berangkat kedesa kaki gunung sorik sekitar satu jam perjalanan untuk sampai didesa sorik, sampainya kami disana kami harus melapor ke rumah kepala desa sebagai pendatang melapor ke kepala desa adalah hal yang wajib kami lakukan sebelum melakukan pendakian, dari sini kuterawang keseluruh desa kufokuskan pandanganku pada atap desa rumah disini ada yang unik dari atap rumah mereka, atap rumah mereka tidak menggunakan seng melainkan daun ijuk yang alami (sabut hitam pohon aren), konon atap ijuk ini lebih mahal dari seng untuk satu  meter langsung yang dipasang untuk  rumah memakan biaya Rp 3.000.000,- bayangkan saja ada berapa meter sisi rumah yang dipasng oleh daun ijuk.


Bukan tanpa alasan mereka masyarakat kaki gunung sorik menggunakan sabut hitam daun aren,  melainkan desa ini berada dikaki gunung marapi aktif yang sering menggugurkan abu vulkanif aktif memiliki zat asam yang apabila terkena seng akan mudah berkarat, sedangkan daun ijok menetralisir zat asam yang terkandung didalam abu  vulkanik sehingga secara tidak langsung menahan zat asam untuk masuk kerumah.


Ada satu aturan dimana ketika melakukan pendakian wanita dilarang untuk naik kegunung sorik marapi, ya begitulah aturan adat yang melarang kami sebagai pendatang hanya bisa mengikuti apa yang sudah jadi aturan semenjak dahulu, untung saja dari kami bereenam tidak ada yang wanita, menurut warga apabila ada seorang wanita yang naik maka perempuan itu takkan kembali entah dimana penalarannya, tapi itulah mitos yang ada dimasyarakat.


Sekiranya setelah semua kami persiapkan kami langsung memulai pendakian yang kami mulai pukul 10.00 WIB yang dipandu dua orang warga desa, merekalah yang memandu kami sampai puncak, hingga turun lagi sampai kebawah. Jalur pendakian sorik lumayan terjal bagi pendaki pemula seperti kami, treck jalur pendakian di awal inilah yang menentukan kita berhasil atau tidaknya sampai kepuncak karena treck awal saja sudah 76 derajat lumayan miring, dan bebatuan sangatlah licin kalau tidak berhati-hati maka tidak menutup krmungkinan kita akan terjatuh di treck awal ini, seterusnya adalah hutan belantara yang rimbun yang masih jarang terlihat jalur pendakian, semak kiri kanan masih tebal dan alami menandakan sangat jarang orang melakukan pendakian ke gunung ini, dari sinilah batas lahan dari garapan warga dengan kawasan TNGB.


Tanjakan terjal selalu menemani treck yang jalurnya sangat samar-samar untuk dilihat  secara kasat mata terpaksa pemandu atau guide menebang pohon ranting kecil untuk kami lewati, benar halnya jalur pendakian masih tertutup rapat oleh pegetasi yang memang alami hutan ini, sangat indah memang dilihat selama mata memandang  hutan masih asri dengan dibalut lumut didalamnya semakin bertambah eksotis saja alam mini, aku berdecak kagum akan keindahan tuhan yang maha esa.


Sesuatu yang diluar dugaan kami selama pendakian kami hanya membawa 1,5 Liter air, sudah pasti kurang sangat kurang bahkan. Ketidak tahuan akan gunung inilah yang menjadikan kami tidak sesiap yang semestinya maklum saja baru kali ini kami melakukan perjalanan jauh seperti ini. Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami semua, “dimanapun kamu akan bepergian kesuatu tempat carilah info atau deskripsi yang lengkap tentang tempat tersebut”, agar tidak terjadi hal seperti kami. Mau tidak mau otak harus diputar dan berpikir ekstra keras bagaimana mendapatkan tambahan air selama diajalur pendakian.


Sebagaian hutan ini banyak ditumbuhi tumbuhan pandan raksasa dengan ukurannya yang sangat besar jauh diabnormal mungkin sudah ratusan tahun umurnya atau bahkan ribuan tahun, daunnya yang lebar dan panjang menjuntai hingga ketanah memiliki daya tarik sendiri.

Tidak sedikit kami terpeleset dalam melintasi hutan pandan ini, karna hutan ini masih rapat tak jarang kami harus menundukkan kepala agar tidak terkena ranting pohon yang membentang dijalur pendakian dan tak jarang pula kaki dan tanganku terpaksa kurelakan dikala ketika daun pandan menyayat dengan begitu lembutnya dengan daun berdurinya yang sangat tajam.


Hamparan batu kerikil menemani perjalanan kami hingga menuju puncak, tak ada lagi pepohonan menjulang tinggi yang ada disini, hanya ada hamparan krikil putih yang berbalut bebatuan ditanah.
Kami dituntut untuk selalu berhati-hati dalam melangkah, tak lama kaki ini melangkah menyusuri bebatuan sampilah kami dipuncak yang indah ini, suara adzan langsung kami kumandangkan sebagai tanda rasa suka cita akan ciptaan Tuhan yang Maha Esa, lagi pula sudah kewajiban adat disini bagi siapa yang sampai puncak gunung ini diwajibkan untuk adzan, memang begitulah adat yang harus kami patuhi. Kami sampai puncak sekitar pukul 14.00 WIB, lumayan memakan waktu yang sedikit lama kami memakan waktu lima jam untuk mendaki gunung ini.


Dari puncak terlihat danau vulkanik yang airnya berwarna hijau keputihan mungkin karena bercampur dengan belerang beserta asap tipis yang keluar dari perut bumi yang menyembul ke atas disekitar danau ini. Rasa haru dan bangga bisa mencapai puncak gunung menyelimuti kami, aku berpikir kita tampak kecil dipuncak ini masih pantaskah kita sombong akan hal apapun, sekelabat kemudian kami duduk santai untuk melihat pemandangan dengan awan-awan yang menari dibawah kaki kami, terima kasih Tuhan untuk perjalanan sejauh ini yang sangat melelahkan namun mengagumkan untuk diingat dan diceritakan akan kuingat semua moment itu didalam benakku bahwasanya aku pernah emnginjakkan kaki digunung ini dengan membuat tulisan ini bukan untuk umbar kepada orang lain tetapi untuk membagi sedikit cerita, pengalaman dan hal yang terpenting juga agar mereka yang melakukan perjalanan denganku selalu diingat bukan hanya sekedar teman numpang lewat yang akan berlalu begitu saja.


* Seluruh tim yang melakukan pendakian bersama dengan dua pemandu bang saragih memegang bendera dan satu lagi orang kedua dari kiri.

* Pemandangan dari pintu rimba desa simangurjolo.

* Puncak Gunung Sorik Merapi.

Pendakian ini dilakukan pada tanggal 
10 Oktober 2013

Komentar

Postingan Populer