Bab 8 : Langkah Baru

Memang hidup terbentuk dari rangkaian panjang yang berkesinambungan yang tidak dapat dipisahkan, kita diberikan hidup hanya sekali dalam setiap jangka waktu yang singkat dibumi. Kebanyakan orang lebih memilih hidup dengan sewajarnya, mereka mengedepankan kepentingan pribadi dan bekerja demi upah yang bahkan tidak cukup untuk membeli susu bayi yang sedang menahan tangis histeris ketika malam telah berganti. Kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran bebas untuk memilih jalan hidup kita sendiri, kita adalah supir dari segala macam kejadian yang terjadi dalam hidup kita ini. Bersandiwaralah dengan bijaksana dan menganggumkan sampai kau tidak memiliki celah menjadi orang yang lemah, semua hakikatnya adalah manusia yang lemah dan hina. Itu sudah menjadi kuadrat kita dimata sang pencipta. Hanya saja kita perlu bersandiwara dalam membijaksanakan diri dalam kehidupan sosial disekitar kita. Karena semua terbentuk dengan adanya kebalikan, ada siang-malam, ada baik-jahat, dan adanya kebahagian-kedukaan. Itu semua dirangkul manis dengan sedemikian rupa agar kita selalu menjadi mahluk yang selalu bersyukur.

Mobil tersebut sampai disalah satu kontrakan yang tidak terlalu besar dan didalamnya hanya ada Chandra dan Rahmat yang sedang duduk santai didepan kontrakan sambil menghisap sebatang rokok kretek yang mulai habis meninggalkan asap. Mereka berdua turun dari mobil dan langsung berjumpa Chandra dan Rahmat.

Ini mas kenalin teman-teman saya, yang ini yang brewokan Chandra dan yang gondrong Rahmat.

Danar berjabat tangan dan berkenalan dengan kedua teman Bima tersebut dan langsung saja Danar diajak masuk untuk beristirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, waktu begitu cepat berlalu, dan hari ini ialah hari pertama dikota orang lain.

Kapan berencana berangkat ke Sabang Mas? Bima mulai membuka cerita sambil duduk dengan memegang segelas kopi hitam.

Kemungkinan Besok malam Bim, karenakan perjalanan aku harus mulai dari titik 0 Indonesia, dari sanalah saya akan membuat jurnal dan melaporkan kepada teman saya yang ada di Jakarta langsung, secara tidak langsung saya hanya memotret, membuat video pendek disuatu tempat yang akan saya kunjungi dan mendeskripsikannya sedikit, lalu teman saya yang akan membuat deskripsinya lebih terperinci atau lebih detail lagi. Jadi setiap saya mengunjungi suatu tempat yang menarik dan menawan saya harus mendiskrpsikannya dengan baik. Seperti titik 0 Indonesia, titik awal nusantara yang begitu tersohor hingga dipenjuru negeri. Banyak orang yang tidak tahu titik 0 indonesia itu seperti apa. Kebanyakan orang hanya mengetahui titik indonesia ya disabang, namun sabang itu seperti apa mereka tidak tahu."

Bima hanya mendengarkannya dengan cermat, ia menghargai lawan bicaranya kali ini yang dengan bangga dengan pekerjaan yang sedang ia lakukan.

Jadi secara tidak langsung, Mas bisa dibilang traveling tapi dibayar," kata Bima sambil tertawa.

Ya bisa dibilang gitu juga mas.

Wah asik dong kalau gitu, aku jadi kepengen, sambung Chandra yang sedang meramu kopi buatannya.

Ya begitulah bang, ini adalah salah satu cara untuk melihat Indonesia dari dekat. Karena kita saja masih asing dinegeri sendiri. Danar menggunakan kata "Bang" kepada Chandra dan Rahmat bukan tanpa sebab, itu tandanya ia menghargai orang Medan yang sering kali ketika memanggil yang lebih tua dengan sebutan "Bang," umur Chandra dan Rahmat ia perkirakkan lebih tua darinya walau hanya beberapa tahun saja. Sedangkan untuk Bima, ia hanya memanggil nama karena umur Bima dibawahnya beberapa tahun juga. Alangkah lebih baik ketika bertandang ketempat orang lain untuk menghargai daerah tersebut termasuk dalam bahasanya juga.

Iya aku setuju sama abang ini, kita memang masih asing dinegeri sendiri masih banyak tempat yang belum kita kenal dan pahami, ucap Rahmat yang sedang menarik rokok tembakaunya dengan nikmat.

Eh bang saya mau nanyak, Apa bener ya merokok terasa begitu nikmat? sergah Danar yang memang ingin tahu karena memang Danar pada dasarnya bukan perokok.

Rahmat sejenak terenyah menghentikan hisapannya sesaat.

Gimana ya bang, kalau merokok memang sulit untuk dijelaskan, karena memang merokok itu memiliki rasa dan kenikmatannya masing-masing sama seperti abang ketika mendaki gunung tinggi, ada rasa nikmat yang tidak bisa dijelaskan pastinya. Ya sama halnya dengan merokok bang, susah untuk dijelaskan hanya cukup dinikmati apalagi ditemani kopi dan cemilan mungil hah sudah pasti nikmat. Rahmat tertawa renyah sambil menyenderkan badannya di dinding.

Pantesan saja setiap orang yang kutanyai perihal rokok berbeda-beda pendapatnya.

Sekali lagi mereka semua berbincang-bincang dengan akrab menyatukan rasa kebersamaan yang tidak bisa dilupakan, beginilah teman baru selalu saja mengasyikkan untuk bercengkrama dan tertawa bersama. Apalagi pemersatu kebersamaan yang tidak bisa dipisahkan yaitu secangkir kopi hitam yang begitu nikmat dijajal melewati tenggorokan.

Ruangan kos-kosan rumah yang hanya memiliki dua kamar tidur, sudah tampak kumuh. Cat putihnya seperti tampak pudar namun lantai keramiknya masih tetap mengkilat untuk dijejaki. Suasana ditempat ini sangat berbeda dengan tempat tinggal Danar, disini terasa cukup panas. Wajar saja mereka tinggal ditengah-tengah kota yang memang ramai oleh penduduk.

Malam kelam saat ini. Malam kelam tanpa bintang, yang hanya tampak awan kelabu dilangit luas. Danar mulai merebahkan badannya yang terasa lemah dan mengambil posisi nyaman untuk melakukan perjalanan besok malam yang akan melelahkan pastinya namun tetap menyenangkan lalu ia mengucapkan selamat malam pada riuhnya langit meskipun tanpa bintang yang datang menghamipiri.

Keesokan harinya embun pagi bersahaja membentang dilangit kelabu, udara pagi sungguh kurang begitu terasa ditempat ini. Maklum saja, diperkotaan sangat jauh berbeda dengan pedesaan yang banyak terdapat tumbuh-tumbuhan. Danar mulai mempersiapkan perlengkapannya yang akan dibawanya untuk meliput, mulai dari kamera, handicamp ataupun tripod.

Hari ini Danar akan menghabiskan satu hari dikota medan sebelum malamnya berangkat menuju Aceh dengan menggunakan bus cepat. Ia diajak berkeliling oleh Bima dan Rahmat, sementara Chandra harus kuliah jadi tidak bisa menemani.

"Mau kemana kita hari ini Bim?" Celetuk Danar penasaran.

"Kita keliling Medan aja deh Mas, karenakan sayang ada satu hari ini sebelum keberangkatan nanti malam."

"Oke deh, aku ngikut aja."

Dengan mengendarai mobil Bima mereka bertiga melaju ditengah jalan raya kota yang kian macat. Tempat yang pertama kali mereka kunjungi ialah Istana Maimun, istana yang sudah berdiri semenjak ratusan tahun lalu. Istana yang menjadi identitas kota medan. Mereka berfoto ria sesaat dengan kamera Danar, Danar masih sangat takjub dengan musium ini yang masih terjaga rapi hingga sekarang. Setelah mereka puas berfoto, mereka melanjutkan perjalanan dan kali ini mereka menuju salah tempat menjual beberapa barang outdoor karena Bima ingin membeli sesuatu.

"Singgah bentar ya mas, ada yang mau saya beli," pintanya lirih.

"Oke Bim," Danar menggangguk setuju.

Mereka bertiga semua turun dan Danar melihat-lihat sejenak. Bima membeli sebuah bodypack kecil warna hitam dengan brand ternama. Sementara Rahmat iseng membeli salah satu baju berwarna hitam. Danar tidak terlalu selera melihat perlengkapan yang ada ditempat ini, karena memang semua perlengkapan yang ia butuhkan sudah tersedia. Dia sudah belanja semenjak dahulu ketika baru pertama-tama kali mendaki gunung. Uang tabungannya habis hanya untuk belanja perlengkapan mendaki. Ia tidak menyesal bahkan sangat puas, dengan perlengkapan itu juga ia sangat banyak tertolong ketika berada dialam bebas.

"Gak beli sesuatu bang?" Ucap Rahmat.

"Kayaknya enggak bang, semua perlengkapan udah punya," Danar tersenyum lebar.

"Yadah yuk, keluar," ajak Bima.

Mereka bertiga keluar dan masuk kedalam mobil, mobil tersebut kembali lagi pada tempatnya berada ditengah jalanan ramai yang riuh dengan para pengemudi lain.

"Udah mulai siang, kita makan dulu deh," Bima langsung memarkirkan mobilnya dan mereka semua keluar untuk rehat sejenak mengisi perut yang kini sudah keroncongan.

"Dimedan tempat wisata kota yang menarik dimana lagi Bim selain tempat yang kita kunjungi tadi?" Tanya Danar yang sedang renyah dengan makanannya.

"Kalau dimedan kurang banyak yang menarik, tapi kalau mas mau nanti kita bisa naik gunung bareng ke sibayak."

"Ide bagus Bim, gunung sibayak salah tempat destinasiku yang akan kukunjungi nanti, jadi nanti setelah aku pulang dari sabang kita bisa mendaki bareng kesibayak."

"Iya nanti kita ajak juga Chandra, pasti dia mau itu," sambung Rahmat yang sudah siap dengan makanannya.

"Oke mas, nanti kalau misalnya udah sampai dimedan kabari aja," ujar Bima.

Mereka bertiga makan dengan lahap, wajah-wajah kota metropolitan terlihat dengan jelas dikota ini.

"Setelah ini kita balik aja deh kekontrakan kamu Bim, kayaknya aku butuh istirahat nih."

"Oke deh mas,"

Setelah mereka selesai makan dan membayar tagihan. Mobil sedan tersebut langsung berjalan menyusuri jalan yang kian memanas ditelan teriknya panas sinar matahari.

Danar langsung mengambil tempat untuk sekedar merebahkan tubuhnya sebentar kepenatan selama perjalanan masih saja terasa.

Malam kian datang menghampiri Bima langsung mengantarkan Danar ke stasiun bus, ia membeli tiket keberangkatan. Setelahnya Danar duduk dikoridor tempat menunggu bus datang, ada banyak kerumunan orang yang sudah menunggu bus. Pukul 21.00 WIB, ia akan bertolak langsung menuju Aceh, ada sekitar satu jam lagi sebelum bus berangkat, Danar mengeluarkan salah satu novel yang belum dibacanya habis, ia ingin membunuh waktu dengan tenggelam bersama novelnya, novel yang masih beberapa halaman dibacanya. Danar memang lebih tertarik membaca novel yang memiliki nilai ilmu yang tinggi dan tentunya bermanfaat. Karena baginya untuk apa membaca kalau tidak ada nilai yang bisa dipetik didalamnya, hanya membuang tenaga dan pikiran ditambah lagi waktu.

Suasana koridor bus semakin riuh ketika mendekati jam keberangkatan, semakin banyak para penumpang yang berdatangan, disapunya ke seluruh arah pandangan dan tampak seorang gadis yang sedang sendiri duduk termangu disebuah kursi, gadis itu tersenyum. Danar membalas senyumnya juga tanpa sengaja. Ada banyak pedagang yang menjajakan makanan ringan didaerah ini, ada yang menjual sate berbgai macam aneka bentuk dan rasa, ada yang menjual makanan ringan dan minuman mineral, ada juga yang menjual mainan. Identik dengan keadaan orang Indonesia bisa dimana saja dan kapan saja untuk berjualan. Satu jam berlalu bus yang ditunggu datang, dan para penumpang yang sudah menunggu dari tadi langsung meringsek naik kedalam bus. Danar langsung masuk ke dalam bus setelah melipat bukunya dan mengencangkan carrier besar yang sudah tampak kumuh. Ia meletakkan tas besarnya diatas laci tempat duduk, bus dengan kursi penumpang empat puluh orang ini termasuk katagori bus nomor satu didaerah sumatera utara dengan segala macam pitur pelayanan yang memuaskan, bukan hanya itu saja keadaan bus menuju Aceh ini juga termasuk dalam keadan baik, bus disini langsung diimpor dari luar negeri.

Danar duduk dekat jendela agar ia bisa menikmati pemandangan disepanjang jalan. Sambil menunggu penumpang lain masuk ia mengeluarkan novelnya kembali dan mulai membacanya, begitulah ketika kita sudah tertarik dengan membaca maka akan terus tertarik, membaca sudah menjadi ritual wajib dalam setiap harinya. Baginya membaca sudah menjadi teman pembunuh sepi yang paling efektif selain harus berkutat dengan gadget. Ketertarikan membacanya dimulai semenjak ia pertama kali masuk kuliah, ketika ia masih berhungan dengan seorang wanita, yang kemudian wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja. Ia merasa hatinya sedih yang tidak habis-habisnya, ia ingin melampiaskan amarahnya atas rasa sakit yang mendera begitu dalam. Hingga akhirnya ia mendapati sebuah buku adiknya yang tergeletak diatas meja ruang tamu, buku tersebut tentang sebuah petualangan, ia mulai membacanya kata demi kata, kalimat demi kalimat dan halaman demi halaman. Ia tercengang kenapa sebegitu menyenangkan ketika rasa sakit hati yang teramat dalam dilampiaskan kesebuah buku dan tenggelam didalamnya. Ia lupa untuk seketika atas rasa sakit yang dialaminya. Semenjak saat itu ia mulai berpikir kenapa tidak dari dulu ia suka membaca, mungkin hidupnya akan tidak seterpuruk ini dalam menghadapi rasa dan cinta. Dengan membaca ia mengembalikan gairah hidup yang kemarin surut, ia mulai menjadi bijaksana dalam mengambil tindakan. Karena membaca membuat kita semakin kritis dalam mengambil tindakan dan ketika kita semakin banyak tahu maka kita akan merasa tidak tahu apa-apa.

Deru mesin bus sudah terdengar dan bus sudah berjalan dengan pelan untuk keluar perlahan memasuki keramaian jalanan. Tanpa disangka wanita yang sedari tadi dilihatnya kini sudah berada duduk disampingnya ia tidak menyadari kalau ada wanita duduk disampingnya karena terlalu asik dengan buku yang dipegangnya.

Mau kemana mbak? Danar mulai membuka percakapan untuk meleburkan kebekuan diantara mereka.

Mau pulang kampung mas di Sabang, gadis itu tersenyum ayu. gadis itu mengenakan kemeja kotak-kotak biru, dengan setelan jeans ketat dengan sepasang sepatu cats berwarna hitam berliris putih, rambutnya ia ikat dengan rapi.

Kalau masnya mau kemana, dengan tas besar itu?

Pandangan mata dan jarinya langsung menunjuk kearah carrier merah yang mulai tampak kumuh.

Saya wartawan mbak, dan saya dapat tugas dari kantor untuk membuat sebuah jurnal dan video documenter tentang betapa cantiknya pulau sumatera.

Oh begitu, kalau begitu entar mampir kerumah saya mas, nanti bisa saya tunjukan tempat-tempat yang menarik dikampung halaman saya.

Danar diam sesaat dan kinerja otaknya langsung mengkonfirmasi untuk mengiyakan ajakan tersebut.

Ide yang bagus mbak, oh iya ngomong-ngomong mbak dari mana kok logat bicaranya seperti orang Jakarta?

Saya kuliah di Jakarta mas, jadi tebawa deh logat orang Jakarta, hehe," ia tertawa manis.

Pantesan aja, logatnya berbeda.

Masnya emang dari mana? tanya gadis tersebut balik.

Saya tinggal di Yogyakarta, tapi kadang sering juga ke Jakarta, karena kantor utama saya disana.

Wah pas banget dong, gue juga sering kejogja kalau libur kuliah, makanannya enak-enak terus pantainya jugak menarik.

Haha gaya amat pake gue segala," sindir Danar seloroh. "Emang sih, Jogja makanannya enak-enak tapi setelah saya searcing di goggle pantai pulau Sabang tidak kalah menarik dengan Yogyakarta.

Eh iya maaf mas terbawa logat jadi gitu deh, hehe."

Kira-kira berapa jam mbak kalau kita sampai banda Aceh?

Ya palingan entar pagi jugak sampe mas, sekitar jam 10 gitulah.

Bus langsung meninggalkan koridor dan berjalan dengan cepat menyusuri jalanan yang sepi, suasana didalam bus tampak ramai oleh beberapa penumpang yang duduk rapi didalam bus, bus ini dilengkapi dengan kamar mandi yang cukup mewah. Ada juga pendingin ruangangannya, karena memang bus ini tidak memiliki jendela, hanya ada beberapa AC yang dirancang khusus didalam bus. Tempat duduknya yang berwarna merah semakin menambah aksen yang kuat untuk sebuah bus. Ada juga selimut yang disediakan, selimut tersebut berwarna putih bersih, selimut tersebut terlipat rapi dibagian bawah tempat duduk.

Setelah sepuluh jam perjalanan dengan bus akhirnya ia sampai dikota banda Aceh, mereka berdua turun diterminal yang sudah ramai oleh para penumpang lain.

"Habis ini kita kemana?" Tanya Danar kepada gadis itu.

"Kita langsung aja menuju pelabuhan untuk belik tiket penyebrangan."

Mereka berdua menaiki becak motor khas aceh, satu motor bergandengan dengan becak beroda tiga.

Setelah sampai dipelabuhan mereka membeli tiket kapal feri dan langsung beranjak melakukan penyeberangan dengan kapal tersebut.

Komentar

Postingan Populer