Bab 6 : Memahami Diri

Sepulangnya ia liputan dari Jakarta, ia merasakan lelah yang begitu terasa menggrogoti seluruh tubuh. Ia berjalan lambat dan mengetuk pintu depan rumahnya.Buk aku pulang.Bagimana liputannya? Tanya ibunya, yang sedang asik membaca buku diruang tamu.Alhamdullilah sukses kok buk, walaupun badan terasa letih.Ya sudah kamu istirahat saja dulu sana.Iya buk.Danar langsung meringsek naik kekamarnya dilantai dua, jam di dinding rumah yang berwarna merah sudah menunjukkan pukul 21.00. Ia ingin melepaskan lelah yang tengah bergelayut intim bersama dirinya dari kemarin-kemarin.Danar tergeletak tak berdaya diatas tempat tidur, matanya yang mulai memerah akibat debu dan polusi, ia mulai memejamkannya sesaat sampai ia merasakan kenyamanan tempat tidur yang selalu memanggilnya dengan manja ketika ia lelah, ia langsung tenggelam bersama dengan kasur enpuk berwarna biru dengan dua bantal putihh dikepalanya, lalu iapun tertidur pulas.Sampai suatu saat datang seorang gadis berwajah isma dengan wajah oriental didalam mimpinya, menghampirinya yang sedang duduk ditaman sendirian sambil sibuk dengan earphone di kedua belah bunga telinga dan sebuah buku bacaan digenggaman tangannya. Didalam mimpi tersebut Danar, seperti seorang pangeran malaikat yang memiliki kedua sayap putih yang mampu terbang ke semesta alam. Suasana taman yang indah, dengan bunga-bunga yang megah terhampar luas didepan matanya. Sementara pepohonan yang sedang tumbuh megah menjulang tinggi-tinggi menutupi langit yang berwarna ungu kebiruan. Serangga-serangga mungil berkeliaran kesana-kemari menjadi pelengkap taman tersebut. Ia duduk sendirian dikursi taman yang terbuat dari emas ataupun perak, bersemayam dari gejolak kehidupan semesta yang kian memburuk.Boleh aku duduk, ucap gadis itu, yang tiba-tiba saja datang menghampirinya.Danar melihatnya dengan seksama.Mari silahkan," Kata Danar tanpa ekspresi apapun.Gadis itu duduk termenung belenggu mengenang peristiwa yang terjadi padanya.Kamu sedang apa disini, kok tiba-tiba bisa jatuh ketempat ini? Tanya Danar lagi membuka suara, Danar mengesampingkan sebuah buku dan earphonenya tersebut.Aku sedang kehilangan semangat untuk hidup, hatiku lelah dan telah hancur.Danar terperenjat mendengar kalimat gadis itu, ia langsung mengernyitkan dahinya dan melototkan kedua bola matanya.Kamu kenapa? Tanya Danar.Aku baru saja ditarik kelangit luas tinggi mengangkasa membelah langit dan dijadikan satu, aku baru saja di ajak mengitari bumi, mengawasi arakan awan dari dekat dan menceburkan diri bersamanya kedalam lautan, kami berdua naik lagi untuk mengangkasa. Namun, ketika aku akan sampai ke tempat paling indah di angkasa raya, puncak tertinggi tatanan kehidupan surya, sebuah kerajaan bidadari dengan sejuta misteri. Disitu pulalah jemariku dilepaskan begitu saja. Hingga aku meluncur dengan kecepatan tinggi untuk jatuh ketempat ini. Dia sanggup melepas genggamanku begitu saja sampai aku jatuh ditempat ini. Dia lebih memilih bidadari yang bersemayam dikayangan dari pada aku seorang wanita bumi yang berharap menjadi bidadari. Dari situ aku mulai berhenti berharap pada kehidupan ataupun cinta, jelas gadis itu dengan wajah sendu, air matanya jatuh bertalu-talu. Tanpa jeda maupun seka.Danar menarik nafas berat dan berucap.Itu lebih parah dari yang pernah kupikirkan dalam masalah Cinta. Tidak ada yang mutlak tentang itu semua, setiap orang memiliki jawabannya masing-masing sebagai orang yang mengaku pernah jatuh cinta, aku mencoba pikirkan untuk menyapanya saja dalam diam. Aku sudah pernah merasakan sesakit seperti yang kamu rasakan saat ini." Sesaat gadis itu melihatnya dan Danar melanjutkan kembali. "Bukankah menunggu yang terbaik lebih mudah walau memang sedikit lebih lama. Tapi akan jauh lebih indah dibandingkan harus lelah dalam keadaan yang semakin menyakitkan hingga terkutuk oleh keadaan. Sudah lumrah ketika keterikatan alam semesta menjalankan perannya sendiri terutama untukmu yang dihempaskan jatuh kebumi."Aku tidak bisa berbuat banyak kali ini, keadaan sudah membuatku hancur," gadis itu menimpali.Danar menoleh sesaat lalu menghadapkan lagi pandangan kedepan."Tenangkanlah dirimu setidaknya untuk sesaat dibumi ini, hingga kemuakanmu sudah jengah ketika menatap awan, kau hanya perlu berdoa dan berusaha sampai akan ada seorang pangeran lain yang akan membawamu kembali terbang mengangkasa. Sampai-sampai kau tak perlu turun untuk membumi. Namun, ketika kemuakannmu sudah tidak tertahankan lagi sesekali sepertinya kau harus coba turun ke bumi untuk menuangkan rindu pada air yang jernih, memanjakan matamu pada ombak pantai yang menjadikannya buih. Dan jika kau membisikkannya pada angin lembut yang begitu riuh, maka saat itupun kau akan terbang mengangkasa kembali seperti dahulu sang pangeran membawamu pergi. Walaupun kini sayapmu telah patah hingga tak mampu untuk terbang kembali, tatapan mata Danar kosong memandanginya. Danar melanjutkan lagi. Mungkin aku bisa membawamu terbang kembali dengan sayapmu yang telah patah.Apakah kamu yakin akan mampu membawaku terbang kembali dengan sayapku yang patah ini? Timpal gadis itu yang sedikit bersemangat.Kenapa tidak, aku masih punya memiliki dua sayap yang mampu terbang jauh lebih tinggi dibandingkan sang pangeran. Aku bisa memegangmu lebih erat dari sebelum-sebelumnya dan tidak akan melepaskanmu begitu saja, kau terlalu menawan untuk dilepaskan.Aku tidak yakin genggaman tanganmu mampu menentramkanku?Kenapa kau tidak yakin, genggaman tanganku ini bak senja berwarna jingga yang sedang jatuh perlahan menapaki lautan yang membiru, sehingga sang gelap memaksa untuk turun dari peraduannya, memaksa gemerlap indahnya gemintang untuk hadir sebagai pelengkap malam kita, mereka akan bergantian untuk melengkapi satu dengan yang lain. Walaupun gelap berdatangan dengan gugusan gemintangnya, tak mengapa. Kegelapan selalu bisa dinikmati bersamamu sembari duduk dipinggir pantai bumi yang menghanyutkan diri bersama terpaan sang suryasengkala. Sampai-sampai kau tidak sadar dan tenggelam bersama sang malam dan akan terbang mengangkasa lagi dan lagi.Mengangkasa? Aku benar-benar ingin meraihnya, tapi apakah genggamanmu itu sebagai penentram dari beberapa kalbuku yang semakin rancau ini, gadis itu menatap pria disampingnya dengan serius, seperti tatapan seorang ibu kepada anaknya begitu tulus dan halus.Iya mengangkasa! kita akan melihat gemintang ditengah kelamnya galaxy yang sedang berarakan dibawah kaki kita, memanjakan mata sambil duduk diatas bebatuan luar angkasa dan melihat bumi yang tampak mungil, atau mungkin sesekali melihat tatanan tata surya yang terampun renyah dengan deretan aurora gerafis tertara indah, sambil kita sedang melupakan jengah yang mengada.Seperti apakah ia? Tapi dengan mengangkasa mampukah aku meraih gugusan gemintang? Aku ingin meraihnya ketika gulita tiba. Bintang punya banyak cinta yang hadir, yang hadir tanpa tatkala ketika aku merasa sumringah didalam setiap cerita ataupun derita, seru gadis itu tampak begitu bersemangat. Senyumnya kini kembali kuat. Air matanya sudah ia hapus habis sampai ke akar-akar.Aku tidak bisa menjelaskan padamu bagaimana gugusan gemintang itu namun lebih baik kau ikut saja langsung bersamaku. Tapi aku tidak bisa memaksakanmu untuk ikut karena aku bukan siapa-siapamu."Bawalah aku bersamamu, aku sangat ingin.""Apa kau yakin?""Iya aku yakin, mungkin hanya denganmu aku bisa terbang kembali jadi kuyakinkan dengan sepenuh hati untuk selalu bersamamu mulai saat ini." Danar sumringah mendengarnya."Ketika jiwamu ada pada bibir pantai dan engkau mulai merindukan awan ketinggian, aku juga akan mematahkan sebelah sayapku untuk membawamu dan merasakan betapa perih arti sebuah kerinduan. Tetapi bukankah kita adalah sepasang sayap. Satu sisi ada padamu dan satu sisi lagi ada padaku, kita akan terbang pabila kita saling merangkul satu sama lain. Kalau begitu biarkan lautan lepas yang menyelimutimu pada damainya, karena kurasa ketinggian tidak cukup ramah untuk jiwa yang pernah patah karena kehilangan tanpa adanya pamitan ataupun sapaan," cercah Danar.Ketika hari itu datang aku berselimutkan pantai yang damai, sementara itu pula kau sebagai senja dipelataran selimutku bersinar terang melukis sebuah senyuman tipis dikedua belah pipi hingga tak terasa kau menghanyutkanku dalam kegelapan malam. Dikejauhan, cahaya keemasanmu menyinarkan kedua bola mataku yang kini mulai tertutup rapat, gadis itu membungkukkan kepalanya.Kalau begitu tutup saja kedua bola matamu itu, jangan terjaga sampai kau benar-benar siap menyambut mentari pagi yang akan membakar pikiranmu dengan banyak pertanyaan yang terkadang bermuara pada entah!. Namun, aku hanya bisa termanyun sepi, dengan sempurna dipenghujung sunrise dan akan kutujukan pada pikiran burukku pada sayap yang patah, mengharap sayap yang dahulu patah akan kembali membaik. Keputihan hati yang dulu tercabik-cabik kini mulai membaik dan akan memulai kembali untuk menyemai benih-benih kerinduan lewat gugusan embun pagi yang menempel sempurna di pucuk dedaunan."KRINGGG... KRINGGG..."Nada alarm disamping meja berbunyi dengan keras membangunkannya seketika dari mimpi yang sangat indah. Danar terperenjat dan merasakan wajah gadis itu begitu nyata. Dibukanya kedua bola matanya, dikucek-kuceknya pinggiran mata tersebut, dirasakannya semua atmosfir mimpi yang tampak begitu nyata.Hah, cuman mimpi, namun tetap tampak lebih nyata gadis itu ialah seperti Alika iya mungkin itu memang dia, Dabar berpikir sesaat.Dunia mimpi sekali lagi mengganggu tidur lelapnya, apa yang tampak nyata namun bisa saja ia tidak nyata, namun ketika itu tidak nyata bisa saja itu adalah nyata. Beginilah salah satu permainan panggung kehidupan dalam reluh mimpi. Kertas dan pena tergeletak begitu saja disamping tempat tidurnya, tanpa pikir panjang ia mengambil pena tersebut dan memulai imanijansinya sendiri, Danar betah mencemarkan pena di atas kertas putih yang menjadikan sekelabat coretan diretak untuk menjadi sebuah makna. Ia menggoreskan pena dan langsung menulis ; "Pada hakekatnya kita masih saja tertidur dalam dunia mimpi yang tampak tidak nyata, disitu pulalah rasa cemas, kecewa, harapan, cinta, kasih sayang bahkan putus asa, menjadi bagian mutlak yang akan mengambil alih jalan didalamnya. Tanpa kita sadaripun, kita adalah seperti seekor kelinci berwarna putih yang ditarik dari sebuah topi pesulap. Karena ia adalah kelinci yang amat-sangat besar, tipuannya sampai dipelajari ribuan tahun. Semua mahluk dilahirkan diujung setiap lembar bulu kelinci yang lembut. Satu-satunya yang membedakan kita dan kelinci putih adalah bahwa kelinci putih tidak meyadari dirinya ikut ambil bagian dalam suatu tipuan pesulap. Tidak seperti kita, yang merasa ; Kita adalah bagian dari sesuatu yang misterius dan kita ingin tahu bagaimana cara kerjanya. Sepanjang menyangkut kelinci besar, barangkali lebih baik kita membandingkannya dengan seluruh alam raya. Kita yang hidup disini tak lain seperti mahluk mikrosofis mungil yang hidup disela-sela bulu kelinci. Hanya sebagian orang yang selalu berusaha untuk memanjat helaian-helaian lembut bulu binatang tersebut untuk menatap langsung bagaimana tipuan sang pesulap dibuat.Mereka berada dalam posisi mempertanyakan kemustahilan tipuan tersebut. Namun, ketika mereka bertambah umur mereka sibuk menyelusup semakin dalam ke balik bulu-bulu itu, dan disitulah mereka tinggal dengan nyaman. Disitu pulalah kita yang memiliki tubuh dan bernyawa tidak menyadari akan kelinci yang besar dan sipesulap.Ketika kita semakin bertambah dewasa kita akan semakin tenggelam didalam bulu kelinci tersebut yang lembut dan halus, kita lupa siapa kita dan dari mana asal kita, bukan hanya itu saja kita akan betah didalam bulu kelinci tersebut karena disana banyak menawarkan keglamoran dan kemewahan. Sama halnya seperti banyak orang yang memiliki minat pada membaca. Namun, selera membaca pasti sangatlah berbeda-beda, sebahagian orang hanya membaca koran atau komik, sebahagian senang membaca novel, sementara yang lain lebih menyukai buku-buku astronomi atau margasatwa. Itulah keseleraan yang terkandung didalam bulu kucing dan membaca.Tidak adakah sesuatu yang memikat hati kita semua? Tidak adakah yang menyangkut kepentingan semua orang-tidak soal siapa mereka yang tinggal didunia ini? memang ada banyak masalah-masalah yang perlu menjadi pelengkap didalam bulu kucing tersebut. Apakah arti penting dari sebuah kehidupan? Jika kita bertanya pada orang yang sedang kelaparan, jawabannya adalah makanan. Jika kita bertanya pada orang yang sedang kedinginan? Jawabannya adalah kehangatan. Jika kita mengajukan pertanyaan yang sama terhadap orang yang kesepian dan terasing, jawabannya barang kali ditemani orang lain.Namun, jika kebutuhan-kebutuhn dasar kita telah terpenuhi dan terpuaskan-masih adakah sesuatu yang dibutuhkan semua orang? Sudah pasti jawabannya pasti ada. Aku yakin bahwa manusia tidak dapat hidup hanya dengan roti semata. Sudah pasti setiap orang membutuhkan makanan. Dan, setiap orang membutuhkan cinta dan perhatian. Namun ada sesuatu yang lain-lepas dari semua itu-yang dibutuhkan setiap orang, yaitu mengetahui siapakah kita dan mengapa kita hanya disini. Tertarik pada pertanyaan mengapa kita berada disini bukanlah ketertarikan sambil lalu seperti mengkoleksi buku-buku. Orang-orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu ikut serta dalam suatu perdebatan yang telah belangsung sealama manusia hidup diplanet ini. Bagaimana alam raya bumi, dan kehidupan muncul merupakan suatu pertanyaan penting. Daripada siapa yang memenangi tropi emas didalam laga sepak bola eropa.Sekarangpun setiap individu harus menemukan jawaban-jawabannya sendiri untuk pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kamu tidak akan tahu tentang semua jawaban-jawaban tadi dengan mencarinya diensklopedia ataupun internet. Bahkan internet juga tidak akan memberi tahu kita bagaimana sebaiknya kita hidup. Namun, membaca apa yang telah diyakini orang lain dapat membantu kita untuk merumuskan sudut pandang kehidupan kita sendiri.Bagaimana tidak, kita seperti mayat yang berjalan diatas punggung kelinci putih tanpa mengenali diri kita sendiri, kita sudah terbiasa mengikuti alur yang sudah ada. Alur itu yang sering disebut kebanyakan orang siklus kehidupan. menjadi-bayi ketika Ibu kita mengandung selama sembilan bulan lalu dilahirkan dari seorang ibu yang mengandung tadi, di masa siklus ini kita tidak mengetahui apa-apa, yang bisa kita lakukan hanya bisa menangis, dunia indra kita mulai bekerja melihat dunia, buru nafas mulai mengisi kedua belah rongga paru-paru yang dengan begitu saja menjadi sebuah udara. Apalagi jantung mulai berdetak lengkaplah kita menjadi anak dari manusia. dan ketika dia besar sedikit lagi, ketika itu pula dia melihat seekor kambing, dan mengatakan Embek..embek... dia gembira bukan kepalang melihat seekor kambing yang bersuara sambil meronta-ronta digendongan Ibunya, kita orang dewasa hanya melihatnya dengan biasa, iya itu kambing ucap sang ibu. Karena kita sudah menyadari bahwa suara seekor kambing memang begitu, itu memang sudah menjadi hukum alam yang berlaku. Namun ketika kita melihat dari luar kebiasan yang pernah kita alami sebagai orang dewasa, misalnya kita melihat kambing itu memiliki sayap dan terbang, mungkin kita akan terheran-heran atau bahkan pingsan. Namun, bagi sang bayi, yang baru pertama kali melihat seekor kambing itu bisa terbang akan menganggapnya biasa saja, itulah dunia alam yang sudah ada pada siklusnya masing-masing. Untuk itu biarkan sang bayi mulai memahami kejadian yang baginya sangat baru untuk dilihat, biarkan ia menjadi pemikir didalam ruangan imajinasinya sendiri yang tanpa harus dilarang untuk berkembang, ketika ketika menjadi penghambat didalam akan cara berpikirnya maka dari situ pulalah yang tanpa kita sadari kita memaksanya untuk tumbuh dan memulai kehidupan yang akan nyaman dibalik punggung kucing putih.Banyak orang yang memilih tetap dalam keadaanya, seperti kemarin waktu dijakarta aku melihat seorang pengemis yang berusia sekitar 50 pulahan, pengemis itu duduk dipinggir trotoar jalan sambil menyodorkan mangkuk berwarna biru kesetiap pengguna jalan yang lewat, hingga banyak orang pula yang merasa kasihan dan simpati terhadapnya. Akupun merasa simpati dengannya, kulihat pengemis itu dengan seksama, wajahnya lesuh, rambutnya acakan, bajunya tidak beraturan, dengan kaki yang cacat. Namun, ketika Satpol-PP datang untuk merazia mereka para pengemis tadi berlarian tanpa jeda, disitu pulalah akupun ikut tersentak sedikit kaget, mataku melotot ketika sang pengemis yang malang tadi akan hendak dirazia oleh Satpol-PP lari ketakutan.Bagaimana tidak, ketika hendak di razia pengemis itu langsung lari kalang kabut, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, hingga terjadi kejar-kejaran antara Satpol-PP dengan pengemis, seperti kartun Tom and Jerry yang selalu bertengkar hebat. Sungguh ironis memang, aku mulai perihatin dengan keadaan saat ini, apa yang tampak lebih nyata tetapi faktanya itu hanya palsu. Itu adalah tipu daya yang dibuat-buat agar mendapatkan rasa iba dan kasihan dari orang lain. Dia Pengemis rela membuang harga dirinya jauh-jauh hanya demi segelintir uang logam dan kertas, aku tidak bisa membayangkan diera zaman milinea ini, orang-orang begitu mudah dengan membuang harga dirinya hanya untuk beberapa rupiah. Betapa banyak Pengemis yang dalam arti sebenarnya bukan pengemis, tetapi manusia yang dengan sengaja mencacatkan bagian tubuhnya yang lain agar orang lain tampak iba padanya dan memberikan beberapa rupiah untuknya. Mereka lebih mengesampingkan rasa malu dari pada tetap menjunjung tinggi rasa harga diri. Budaya malu sudah tidak ada lagi didalam diri mereka, karena mereka menganggap dengan duduk dipinggir jalan, sambil menadahkan sebuah mangkuk kecil, beberapa uang logam atau rupiah akan turun dari langit dan masuk kedalam mangkuk tersebut. Maka dari itu aku masih terombang-ambing untuk memahami bagaimana keadaan yang terjadi pada masyarakat dinegeriku sendiri.Tetapi, ada sebahagian orang yang memang cacat justru lebih bisa mandiri dalam penghasilannya, betapa aneh bukan! Melihat kondisi dimana kekurangan fisik tidak membatasinya untuk tetap bertahan hidup dari kerasnya rutinitas perkotaan, mereka yang memiliki kekurangan tampak lebih semangat dalam mengais rezeki dalam setiap harinya. Bagiku merekalah yang menjadi pelopor penggerak orang lain untuk tetap semangat dan tidak putus asa dalam menjalani rutinitas hidup yang hanya numpang lewat ini. Jiwa mereka kuat, jiwa mereka tangguh, jiwa mereka sempurna walaupun jasad mereka tidak lengkap. Mereka lebih menghargai apa itu hidup, mereka lebih menjunjung tinggi rasa harga diri sebagai manusia, bukan hanya seonggok daging yang memiliki sebuah nama dan duduk dipinggir jalan sambil meminta-minta. Hah. dasar panggung kehidupan. Dia berhenti disitu, dia memang lihai dalam memanipulasi kalimat demi kalimat. Kalimat yang diataspun akibat dari sebuah buku yang dibacanya kemarin. Buku tersebut berjudul 'Dunia Sophie' buku yang dibelikan Alika untuknya perihal Filsafat. Buku itu mampu mengubah cara dan pola pikirnya dan ia tak segan langsung mengutip beberapa kalimat dalam buku tersebut sebagai lensa sudut pandang kehidupan yang lebih baik lagi. Hingga sampai ia menghentikan tulisannya dan menutup rapat buku catatannya. Namun, reluh pikiranya tentang kesadaran masih bernyanyi, dan Danar mulai melanjutkannya lagi dengan menulis. "Mereka seperti memiliki selusin wajah topeng didalam setiap harinya yang bisa mereka ganti dimana saja dan kapan saja mereka mau. Ada seribu peran didalam setiap harinya yang ketika mereka memerankannya, mereka tidak menyadarinya. Semua orang bisa saja diam didalam keterpuraan, semua orang bisa saja bahagia didalam kebohongan, ketika seseorang tertawa lepas, kita melihatnya dia sangat bahagia. Namun, didalam relung hati peluhnya, ada rasa kesakitan yang sedang disenyumbunyikannya, rasa yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun, rasa menyayat hati yang terdahulu pergi dan tidak bisa terobati lagi. Aku perlahan-lahan mulai bisa merasakannya, merasakan tawa kebohongan yang terlansir darinya, sudah sering aku melihat wajah-wajah seperti itu, mereka menyembunyikannya didalam ruang kegelapan hati, lalu menutup rapat-rapat pintu hitam itu sampai memberi gembok berlipat, agar orang lain tidak menyadari apa yang disembunyikannya. Apalah daya, pintu itu enggan untuk ditutup rapat, aku masih bisa menguntit sedikit saja kedalam hatinya, walaupun kadang samar-samar atau bahkan buram, tapi tetap saja aku masih bisa melihatnya, ada celah yang bisa aku lihat sedikit demi sedikit."Danar berhenti lagi, dia mulai merasa aneh dengan tulisannya sendiri. Dia pernah melihat secara tidak langsung bagaimana keadaan wajah temannya ketika merasakan kegundahan yang teramat sangat. Sampai raut wajah temannya langsung berubah ketika ia mennyakan.Lagi galau bro?Ah enggak kok.Udah cerita aja gak apa-apa, aku siap kok menadahkan gendang telingaku untuk sahabtku sendiri.Iya nie Nar, aku lagi galau berat.Ada masalah apa?Aku baru saja kehilangan pacarku yang sudah hampir 4 tahun aku pacari.Waduh tahan amat, pacaran selama itu.Iya mau bagaimana lagi namanya juga sayang.Sayang sih sayang tapi putus jugak, kenapa kok bisa putus?Dia lebih memilih orang lain dari pada harus memilihku.Oh berarti dia selingkuh?Tidak, ada beberapa hal yang terjadi sehingga menjadi seperti sekarang ini, yang paling utama adalah kesenjangan orangtuanya terhadapku, terutama Ibunya yang tidak terlalu suka denganku, padahal aku berusaha untuk baik didepan Ayah dan Ibunya, tetapi Ibunya tetap saja masih dingin denganku.Bagaimana dengan Ayahnya?Ayahnya cukup ramah untukku, tapi tidak dengan Ibunya, mungkin karena status kita masih duduk dibangku kuliah, karena waktu itu dia pernah menceritakan, bahwa Ibunya tidak ingin anak perempuan terakhir dikeluarganya tidak terlalu larut-marut dimasa kesendiriannya, Ibunya menginginkan agar ia cepat untuk menikah, mendenagar dia berbicara seperti itu aku bisa apa. Awalnya mungkin aku tidak terlalu menggubris dan tidak mempermasalahkannya, ketika berjalannya waktu, semakin terasa wanita semakin cepat menua. Lama-kelamaan dia mulai membahas tentang kedepannya, tidak kusangka dan tidak kuduga ia tidak ingin berlama-lama untuk dalam berstatus lajang, ia ingin segera menikah. Doktrin dari Ibunya telah sampai kepadanya, aku didesak agar segera mengumpulkan uang dalam beberapa tahun lagi agar setelah aku siap wisuda bisa untuk melamarnya, ucap temannya itu dengan lirih.Gawat mah kalau udah gitu, asal kamu tahu ya, memang pada dasarnya wanita cepat menua dibandingkan kita, jadi menurutku wajar saja kalau dia ingin cepat-cepat menikah, lagipula Ibunya adalah pembakar api doktrin nomor satu untuknya, sudah pasti dia lebih mendengarkan apa kata ibunya dari pada harus mendengarkanmu.Tetapi setega itukah dia melepaskanku, aku mencintainya.Cinta katamu, haduh kalau sudah begini kau harus menguburkan cintamu dalam-dalam atau tidak masukkan cintamu itu kekeranjang sampah, apakah kamu menyadari hidup itu bukan hanya tentang cinta. Jujur saja aku tidak terlalu memahami penafsiran tentang kata 'cinta' sebagai orang yang pernah merasakan kecewa sama sepertimu saat ini. Apakah dengan cinta kamu bisa untuk tetap hidup? Tidak, bukan. Sudahlah lebih baik kesampingkan dia bukan untuk dilupakan namun ketika dia datang, kita memngingatnya dengan cara tidak menyakitkan, lebih baik kualitaskan saja dirimu, jadi dia bukan orang yang baik untukmu, masih banyak wanita baik diluar sana yang menunggu untuk dijemput hadirnya, bukankah ketika kita sedang mengkualitaskan diri sendiri jodoh kitapun ikut pula mengkualitaskan dirinya dalam segi apapun. Aku sudah terlalu lama tidak merasakan cinta, sehingga aku tidak terlalu memahami apa yang kau rasakan saat ini kawan.Aku mengerti apa yang kamu maksud, oke baiklah untuk saat ini aku akan rehat dari tetek-bengek pacaran yang terkadang aku berpikir banyak tidak baiknya ketimbang baiknya.Syukurlah kalau begitu, Danar tersenyum. Tersadar dari lamunannya.Dan melanjutkannya lagi dengan menulis."Masalah cinta, duh aku tidak terlalu memahaminya sudah hampir lima tahun aku tidak mengenalnya, hatikupun sudah tertutup rapat dan kunci yang dahulu ada kini sudah tidak tampak lagi entah kemana. Aku masih tetap dengan mengkualitaskan diriku dalam diam, menunggu dengan tabah hadirnya sebuah kunci baru untuk membuka pintu yang sudah hampir tidak bisa dibuka. Tak mengapa cepat atau lambat pintu itu akan terbuka aku disini masih sabar menunggu sambil menikmati beberapa hobiku yang lebih waras untuk dijalani. Terutama hobi menulis dan mendaki gunung, aku semakin jatuh hati pada alam yang lirih, ada semangat haru-biru menyongsong pagi setiap kali aku tidur dibawah kelamnya langit berbintang, suasana alam yang menyapaku lewat angin lirih takkala aku sedang penat, hingga menjadi pengobat paling efektif dari pada harus berdiam diri didalam kamar berjam-jam. Ada gairah yang tertumpahkan ketika aku duduk dipinggir jurang yang terjal menatap awan ataupun bintang yang membawaku hanyut didalam sungai awan dan bintang. Aku perlahan-lahan sangat pelan mulai memahami kenapa matahari terbit menghangatkan bumi. Betapa tidak sudah sering kedua bola mata ini, melihat yang tampak nyata namun tidak nyata, melihat yang tidak nyata tampak nyata, hanya beberapa orang yang menyelinap ditengah pertikaian ini untuk lebih memahaminya termasuk pak Suherman Abimana yang kutemui dikereta kemarin. Beliau lebih memilih tenggelam bersama keadaan yang terjadi saat ini, bukan untuk mencari nafkah melainkan untuk melihat secara dekat dan memahami setiap kejadian yang akan ia tuangkan dalam sebuah buku, beliau adalah salah satu individu-individu yang berpikir bebas, bahkan egoismenya saja enggan untuk memperbudak dirinya, apalagi keadaan. Jiwa beliau setangguh samudera atau seganas gelombang ombak pantai, beliau salah satu orang yang sangat bisa untuk dicampur urusi dalam masalah tulisan. Sepertinya aku harus sesekali mendaki bersama dengan beliau, agar aku lebih banyak belajar tentang dunia tulis menulis dan keadaan orang Indonesia saat ini. Mungkin nanti akan aku hubungi, bukankah lebih baik mendengar pengalaman orang lain dan menjadi penerapan yang penting bagi diri kita juga, pengalaman adalah guru terbaik, belajar dari yang benar bukan belajar dari biasanya. Sedikit banyaknya ada sesuatu yang aku petik didalam pekerjaanku kali ini, memang ilmu itu bisa didapat dari mana saja, kapan saja asal kita tahu bagaimana memilah-milah ilmu itu dengan baik. Ilmu yang bermanfaat itu ketika ilmu itu tersalurkan dan dapat diterapkan dengan baik didalam kehidupan orang lain, maka ilmu itu akan terus berjalan dan mengalir bukan untuk kita saja ilmu itu, ilmu itu perlu juga untuk hinggap diakal remah-remah pikiran orang lain. Agar kesenjangan hidup dapat terukir dengan baik, tidak ada batas waktu untuk kita belajar dari mulai kita dilahirkan sampai kita mati nanti adalah tempat kita belajar, belajar buka hanya dibangku sekolah, belajar memahami kehidupanpun perlu dilakukan untuk menjaga diri dan memebentengi diri dari sifat-sifat negatif yang muncul dari sekitar kita bahkan dari teman dekat kita sendiri."Dia menutup catatannya dengan sebuah senyuman kebahagiaan.

Komentar

Postingan Populer