Bab 5 : Manipulasi Kehidupan
Hari ini Danar mendapatkan liputan di Jakarta tentang gembong narkoba yang akan ditembak mati, Danar akan berangkat bersama teman sekantornya yaitu Hendra. Sebelum hari keberangkatan Danar sudah mempersiapkan berbagai macam perlengkapan liputannya, yang akan dia kemas didalam sebuah laporan liputan.Buk, aku izin pamit ada tugas liputan dari kantor, aku berencana keluar kota," Suara Danar bilik lemari mencari baju dan berjalan mendekati Ibunya yang sedang memasak.Mau kekota mana tugas liputannya? Tanya ibunya yang sedang menggoreng sesuatu.Dekat kok buk, hanya di Jakarta itupun hanya beberapa hari, kantor menugasiku untuk meliput kasus gembong narkoba yang dihukum mati buk.Tumben kamu mau menerima liputan yang begituan biasanya ogah." Danar hanya mengernyitkan keningnya mendengar ibunya berbicara seperti itu.Honornya gede buk, ya lumayanlah untuk uang wisuda aku nanti.Idih kamu ya kalau udah katanya uang, pasti langsung diterima, yang terpenting kamu harus jujur dalam penyampaian setiap berita yang kamu liput jangan ada kamu tambah-tambahin dan kamu kurangi-kurangi, jujurlah dalam setiap kamu bekerja, nasehat Ibunya.Iya buk, enggak kok, ya sudah aku pamit dulu buk.Ketika ia hendak beranjak dari rumahnya, Ibunya menanyainya kembali.Sama siapa kamu ke Jakarta? timpal ibunya lagi padahal Danar sudah mau pergi.Sama Hendra buk sama siapa lagi kalau bukan sama dia," Ya sudah hati-hati kamu ya di jalan.Tak lupa Danar selalu mencium punggung tangan ibunya sebagai anak yang selalu berbakti kepada orang tua setiap kali ia bepergian pasti ia mengecupkan ciuman dipunggung tangan Ibunya.Danar langsung berangkat bersama Hendra menggunakan kendaraan umum. Tak pernah ketinggalan kamera kesayangannya yang selalu dikemasnya kedalam tas mana tahu ada moment bagus yang bisa diabadikan, kali ini bukan moment tentang pegunungan yang indah, senja dipinggir pantai atau arakan awan yang menari cantik ketika di potret. Kali ini ia ingin mengabadaikan beberapa moment tentang keadaan, situasi dan kondisi orang Indonesia. Danar ingin mencoba sesuatu yang baru tentang rasa keingintahuannya pada dunia ilusi dan fana ini, tak lain tak bukan melihat secara nyata buruknya rakyat dikalangan bawah yang hidup serba kekurangan yang banyak tersemat dikalangan masyarakat Indonesia menariknya lebih jauh untuk menggali lebih dalam lagi sepertinya akan lebih menarik melihat lewat potret sebuah foto bagaimana wajah orang Indonesia ketika melakukan kegiatannya sehari-hari yang berbeda didalam setiap daerahnya masing-masing, beginilah Indonesia berbeda-beda tetapi tetap bersatu juga. Ke Bhinekaan masih sangat kuat, tradisi akan masa lampau yang masih terjaga sampai sekarang. Semua itu menarik minatnya untuk mengabadikan dalam sebuah moment jepretan camera dan cerita, bukan hanya itu keadaan yang sulit memang sering tersirat di kalangan masyarakat kurang mampu, mereka harus bekerja ekstra keras menghadapi hiruk-pikuk ilusi yang terkadang merelekan harga diri mereka terinjak-injak begitu saja tanpa mereka sadari sedikitpun. Lewat lensa kamera miliknya pemahan akan keadaan dan situasi yang sangat rumit ini, akan ia jelaskan secara mendalam dan kritis, bahkan sampai menjadi sebuah cerita yang objektif menggugah hati bagi siapa saja yang melihat dan membacanya. Sungguh ironis memang ketika mereka harus menyerah pada keadaan yang memaksa mereka menggugurkan rasa harga diri yang seharusnya dijaga dan di hormati. Mereka lebih memilih untuk tunduk dan patuh kepada keadaan, sementara keadaan tidak pernah memberi mereka bernafas lega sebagai orang yang hidup sebenar-benarnya manusia. Entah scenario Tuhan, entah ini keadaan yang memang harus diterima dengan getir menjerengah atau hanya permainan dari beberapa quisioner kehidupan yang tidak memiliki jawaban yang jelas, mereka harus menyerah kepada keadaan yang membuat mereka merintih dan tertatih, hanya beberapa orang yang lebih memilih tetap dengan pendiriannya tidak terlena dengani Ilusi dunia, mereka-merekalah yang benar-benar menikmati hidup bukan berarti orang yang menyerah pada keadaan tadi, tidak menikmati hidupnya, justru itu menjadi sebuah problem yang sudah sedemikian rupa adanya, mereka yang menyerah pada keadaan masih betah terjerembab di dalam ilusi yang mereka buat sendiri, keterbukaan pikiran mereka masih sangat rentan dan enggan untuk melompat dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang jauh lebih baik.Seumpama senja yang dengan begitu mudahnya menghanyutkan seseorang didalam dekapannya sehingga tak tersadar waktu sudah menjelang malam. Begitulah mereka yang masih betah bergelayut lebih akrab dengan ilusi dunia. Beberapa orang lebih memilih tertidur pulas dengan mimpi-mimpi indah, hidup bahagia, bergelimpangan materi, harta yang banyak, menikah lalu kemudian memiliki anak, tanpa sadar kehitaman rambut sudah mulai memutih, raga yang dahulu kuat kini tidak lagi kuat, mencuatkan nafsu ingin lebih, ingin melampaui batas, nafsu selalu menggrogoti jiwa yang lemah, sama halnya seperti kita berolahraga agar mendapatkan tubuh yang sehat begitu pula dengan jiwa, jiwa perlu diperbaiki agar tetap waras dan menjadi lebih baik lagi. Namun apa daya, ketika utusan Tuhan sudah menyapanya dengan teguran. Kau di keluarkan secara paksa dalam sekenario film panggung kehidupan. Tuhan ingin mengambil jiwa itu untuk kembali kepada-Nya, maka absurdlah kita.
***
Mereka langsung beranjak dari kota Yogyakarta menuju Jakarta dengan menggunakan kereta api, media surat kabar tempat mereka bekerja menugaskan mereka dalam pencaharian berita ini, kereta api langsung menggilas angin dan membelah hempasan udara merangsak masuk meninggalkan kota pelajar. Selama didalam kereta Danar mengeluarkan kamera DSLR miliknya, ia mencoba mengabadikan beberapa moment dan mencoba memahami moment dalam setiap poto yang di ambilnya, potret wajah-wajah orang Indonesia, dengan segala profesi dan pekerjaannya. Sementara ia sedang sibuk dengan kameranya tiba-tiba saja datang seorang bapak yang berjualan sate lengkap dengan penutup daun pisang di atasnya menyapa dengan hangat.Sate nak, bapak tersebut menawarkan ke Danar.Iya pak. Dibelinya beberapa tusuk sate untuk mengganjal perut selama diperjalanan.Ndra Sate, kagak mau lo! tawarnya pada Hendra.Kagak deh lu aja, gue masih kenyang.Oh ya udah kalau gitu.Di ambilnya beberapa tusuk sate dan langsung melahap habis hingga yang tersisa tusuknya saja, sambil menikmati satenya Danar memberanikan diri bertanya kepada bapak penjual sate itu.Sudah berapa lama berjualan sate pak?Kira-kira sudah hampir sepuluh tahunlah mas, jawab wajah bapak tersebut tanpa ekspresi.Wah, sudah lama juga ya pak.kenapa tidak mencari pekerjaan lain saja pak? Danar menimpali pertanyaannya lagi.Ya bagaimana ya, saya sudah tua, orang tua seperti saya bisa bekerja apa?""Ya mana tau ada pekerjaan ya ng lebih baik lagi pak?""Belum terpikirkan oleh saya.""Dahulu bapak bekerja dimana? Maaf, sebelum berjualan sate," selidik Danar yang mencoba memahami kepahitan hidup bapak tersebut.Danar tidak mengetahui bapak tersebut ialah salah satu penulis terkenal yang tulisan-tulisannya sudah cukup banyak menggugah banyak hati manusia. Jualan sate hanyalah manipulasi dirinya untuk sebuah buku yang sedang dia garap. Bapak tersebut hanya berakting didepan khalayak ramai. "Dahulu saya pernah bekerja disalah satu perusahaan swasta di Jakarta, waktu itu saya masih dalam masa-masa produktifnya yang masih kuat kesana kemari, sibuk dengan surat-surat kantor yang tidak ada habisnya, bertatapan langsung dengan komputer setiap harinya, sepertinya bekerja seperti itu tidak ada bedanya dengan buruh bangunan yang sedang membangun rumah, yang membedakannya hanya tempat dan apa yang dikerjakan para buruh bangunan. Mereka bekerja dengan otot mereka tetapi otak mereka terkadang harus dipakai agar rumah yang mereka bangun tidak asal jadi, sementara saya yang dahulu bekerja dikantor harus menggerus alam pikiran saya lebih dalam lagi, mengejar rating-rating perusahaan agar meningkat dan menunggu bonus datang dengan sendirinya, itupun harus bekerja sampai larut malam. Tetapi lama kelamaan saya mulai stres sendiri, mereka para buruh bangunan terkadang masih bisa tertawa lepas dibalik pekerjaan otot yang berat mereka lakukan masih sempat terjadinya saling berbicara, bercanda gurau kesesamanya, nah saya mau mengobrol pada siapa?, pada komputer didepan layar, padahal didalam kantor itu banyak orang, namun mereka semua sibuk dengan masing-masing pekerjaannya. Terkadang disaat stress mulai muncul saya hanya terdiam dan mengamati teman-teman saya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka seperti kehilangan hakikatnya sebagai manusia, mereka terlalu sibuk dengan tugas disecarik kertas itu, mereka khawatir bukan kepalang ketika di saat jam seharusnya untuk pulang ada beberapa orang yang masih harus lembur menyiapkan berkas-berkasnya yang belum siap, sampai-sampai pernah ada teman saya karena sangking sibuknya bekerja makan siang saja dia lupa, makan saja bisa lupa bagaimana ia mengingat yang lain.Danar masih mendengar dengan jelas penjelasan bapak itu sambil menikmati sate yang ada ditangan kanannya.Jadi bapak berhenti dari pekerjaan itu? Nanta kembali bertanya.Iya bisa dibilang seperti itu, setelah saya bekerja diperusahaan itu cukup lama dan pundi-pundi uang saya terkumpul untuk memulai loncatan yang paling berbahaya didalam hidup saya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu. Bahkan istri saya terkejut ketika saya mengundurkan diri, namun sudah saya jelaskan secara perlahan-lahan kepada istri saya, dan istri saya memahaminya. Ada kegetiran di saat saya mengundurkan diri dari perusahaan itu bukan tentang saya tetapi tentang teman-teman saya. Apakah mereka akan seperti itu terus sampai hari tuanya, entahlah mudah-mudahan mereka tersadar bahwasanya mereka kehilangan hakikatnya sebagai manusia.Setelah itu kenapa bapak, memilih berjualan sate?Sebenarnya saya berjualan sate ini hanya kamuflase untuk eksperimen buku yang saya tulis. Jawab bapak tersebut datar.Danar terperenjat kaget mendengar jawaban bapak tersebut. Ia melongok diam tanpa kata seperti seorang pujangga ketika diputuskan cinta.Apa! Bapak serius??? Berarti bapak seorang penulis? wajah Danar sumringah.Sementara Hendra lebih memilih tidur dengan mimpi-mimpi indahnya.Ia masih tidak percaya mendengar pernyataan bapak tersebut.Bisa di bilang seperti itu. Wah pantesan saja dari tampang bapak tidak cocok jadi penjual sate, ia tertawa. Ah kamu ada-ada saja,"Mereka berdua saling tertawa dan berbagi kisah masing-masing, dan yang tak disangka dan tak diduganya lagi ternyata bapak tersebut adalah seorang yang menyukai kegiatan di alam bebas, sama juga seperti Danar sehingga arah pembicaraan mereka semakin akrab saja.Kamu mau kemana? gantian bapak itu yang bertanya, seolah agar tidak saling menyudutkan.Ke Jakarta pak, ada tugas liputan dari kantor.Berarti kamu wartawan dong.Ya aku bukan wartawan professional pak seperti kebanyakan orang, hanya memanfaatkan peluang yang ada, lagi pula aku masih kuliah pak, ya jadi bisa dikatakan wartawan lepas ketika pekerjaannya cocok ya aku ambil, jelas Danar dan tersenyum hangat.Bapak itu langsung bereaksi dan bertanya karena melihat kamera yang tergantung di leher Danar.Kamu suka motret juga?Ya bisa dibilang begitulah pak, sekedar hobi saja sih.Lebih dominan kemana?Lebih ke pemandangan sih pak, ya seperti sunrise pagi di gunung, tentang awan yang sedang berarakan, atau senja dipinggir pantai."Kok hampir sama ya hobi kita, wajah Bapak tersebut terlihat sumringah.Seriusan pak? kata Danar sambil mengernyitkan dahi.Iya serius, dahulu saya sering mendaki gunung hanya untuk motret. Tapi karena memotret dan mendaki gak bisa dipisahkan jadi sekalian deh perlengkapan mendaki semua saya beli karena awalnya, tetapi kesiapan kita ketika di alam bebas juga harus di perhatikan seperti tenda untuk bermalam, perlengkapan memasak untuk masak, dan beberapa perlengkapan mendaki lainnya, yang harus saya siapkan. Walaupun tidak sedikit uang yang saya keluarkan untuk hal tersebut. Untuk mendapatkan moment bagus kita harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk naik gunung, seperti bulan-bulan mei pas itu untuk mendaki semeru karena dalam bulan itu oro-oro ombo semeru sedang berbunga cantiknya. Padahal ketika saya me daki gunung ialah memotret tapi, ternyata fakta berbicara lain memotret di alam bebas itu lebih sulit dari pada memotret didalam ruangan, semuanya haruslah berkesinambungan dengan perlengkapan mendakinya pula, semenjak itu saya mulai ketagihan bergelut dialam bebas, bukan hanya keasyikan memotret saja yang saya dapatkan ketika di alam bebas. Terkadang alamnya membawa saya hanyut bersamanya, ketenangan akan pikiran bisa saya dapatkan di gunung, kecanduan mendaki gunung mencuat ketika saya mengunjungi gunung-gunung tinggi lainnya. Bukan hanya semeru, beberapa gunung di pulau jawapun satu persatu saya daki, dari situ saya belajar lagi hakikat sebagai seorang manusia yang bisa saya temukan di dalam berkegiatan di alam bebas, rasa tolong menolong, rasa saling menghargai saya dapatkan di tempat indah yaitu di gunung, dan saya terinspirasi untuk membuat beberapa buku tentang keberagaman Indonesia, tentang gunung-gunungnya yang gagah, tentang alamnya yang begitu luar biasa dan keadaan para warga tradisionalnya yang beranekaragam. Berarti kamuflase yang bapak lakukan saat ini adalah eksperimen bapak untuk buku itu?Ya bisa dibilang begitu, karena kalau tidak begini saya tidak akan bisa memahami bagaimana bisa menyatu dengan masyarakat dan saling berdiskusi, dengan cara melihat langsung keadaan yang sedang terjadi inilah yang bisa menumbuhkan sesuatu atau inspirasi langsung yang akan dengan mudah kita muat dalam tulisan, semua itu tidak akan saya dapatkan dari terus menerus membaca buku dan internet. Disini saya bisa menjadi siapa saja merasakan secara langsung masyarakat kurang mampu. Dan menatap langsung pula para pencaci dan penolong."Lagi-lagi Danar hanya kagum mendengar penjelasan bapak tersebut yang begitu menyentuh di hatinya, ia yang kurang memahami bagaimana keadaan masyarakat ini semakin semangat untuk lebih banyak belajar lagi.Kalau begitu kapan-kapan kita bisa mendaki bareng dong pak. Kata Danar sambil tersenyum.Wah boleh juga, saya baru tahu kalau kamu juga hobi bergelut di alam bebas.Sekedar hobi pak.Ini kartu nama saya. Bapak tersebut menyodorkan kartu namanya kepada Danar.Oke pak saya simpan, oh iya sebelum bapak pergi bapak belum menjelaskan setelah mengundurkan diri bekerja apa?Kalau itu nanti saja kalau kita mendaki bersama saya ceritakan kembali, ya sudah saya turun dulu ya, sampai jumpa mas. lambaian tangannya lenyap bersama dengan tubuhnya dan aneka sate tersebut.Suherman Abimana tertera dikartu nama tersebut.Ah dasar benar-benar kali ini, niatnya ingin belajar memahami lebih dalam lagi bagaimana keadaan bapak tersebut, ternyata yang ada hanyalah Danar yang di buatnya terheran-heran. Tetapi tak apalah aku belajar banyak dari bapak itu tentang betapa perlunya untuk menghargai hidup, agar tidak semena-mena dan tidak di perbudak keadaan, ia beruntung masih sempat untuk menikmati alam bumi pertiwi yang teramat indah ini karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama sepertinya, dan dari sini ia mulai untuk lebih menghargai orang lain terutama terhadap wanita, karena kita pada dasarnya hidup membutuhkan orang lain.Dahulu ia pernah ingat, ada seorang wanita yang menaruh simpati padanya namanya Gita. Parasnya lumayan cantik, dengan kulit yang mulus dan putih, tidak terlalu pendek-pendek amat untuk wanita seusianya. Gita sering menelpon Danar entah itu keperluan yang penting atau tidak penting, kebanyakan sih hal yang tidak penting. Dia sering keruma Danar, bahkan sampai akrab dengan Ibu dan adik-adikku, aku hanya menganggapnya biasa saja tak lebih dari sekedar adik kelas kampus yang mengunjungi kakak kelasnya dirumah, ya Gita ialah adik kelas Danar dikampus. Danar memahami Gita menyukai Danar, namun Danar tidak terlalu tertarik dengan Gita. Ada rasa yang tidak bisa di jelaskan padanya, ya memangsih parasnya cantik, kulitnya putih, tubuhnya seksi, tapi apalah daya yang tidak terlalu menyukai karakternya, bukan berarti dia tidak baik, dia baik sangat baik bahkan hanya saja keselarasan dalam segala hal mereka tidaklah sama. Sementara Danar lebih menyukai pergi ke alam bebas untuk menikmati liburan, Gita lebih menyukai ke Mall untuk menghabiskan uangnya, ketika Danar lebih menyukai bepergian dengan motor tua, Gita lebih menyukai bermewah-mewahan dengan mobil miliknya, disaat Danar lebih menyukai menikmati senja dipinggir pantai, Gita lebih menyukai menyibukkan diri berdandan berjam-jam di sebuah salon, sementara Danar lebih memilih tenggelam berjam-jam disetiap halaman, Gita lebih memilih berkumpul dikafe dengan teman-temannya. Dari situlah kupikir keselerasan kami sangat berbeda jauh. Ketika kesabarannya sudah tak tertahankan lagi dengan semua sikapnya yang sudah terlewat batas, terpaksa ia ditarik keluar rumah dan duduk di taman pinggir rumah dan ia ikut dengan wajah masam.Git, udah deh kamu tidak perlu seperti ini terus, sudah ya Git aku sudah mencoba untuk menyukaimu tetapi hatiku berkata lain, aku sudah coba untuk memperhatikanmu tetapi hatiku berkata tidak dan kali ini aku mengikuti kata hatiku, lebih baik kamu mencari yang lebih baik dari aku, aku tidak pantas bersamamu Git, kita ini berbeda, kamu ngerasa gak sih yang kutakutkan ketika perbedaan kita di paksakan maka akan lebih menyakitkan nantinya. Danar mulai mengeluarkan amarahnya pada Gita yang terus membuncah parau.Bukankah perbedaan itu indah, timpal Gita, masih dengan wajah sayunya mendengar penjelasan Danar.Bukan begitu Git, aku lebih suka menjadi manusia bebas yang tidak terikat dengan siapapun setidaknya saat ini aku masih ingin menikmati indahnya alam Indonesia, aku masih mempunyai segudang aktivitasku sendiri, aku lebih suka berdamai dengan diriku sendiri lewat tulisan-tulisanku, jadi kumohon Git aku bukan pria yang baik untukmu, masih banyak pria yang baik di luar sana Git, bukan aku orangnya Git.Air mata dari gadis itu mulai jatuh mebasahi pipi, dia tak sanggup untuk menerima ini semua, dadanya mulai sesak mendengar pemaparan Danar yang begitu tajam begitu ironis dan tragis, jantungnya berdegup kencang sampai akhirnya dia menengadah ke langit luas dan berkata;Lihatlah langit biru itu, mereka selalu akrab dengan awan dan angin yang menghembuskannya hingga terombang ambing begitu saja, lihatlah burung-burung itu yang terbang bebas, apakah kamu ingin seperti burung-burung itu yang terbang bebas?, sedangkan aku hanya sebuah sangkar untukmu, kau adalah tempat aku pulang, tempat aku bersandar di saat hari sedang lelah-lelahnya tak sulit mencari sandaran bahu, tak sulit mencari jemari yang ingin di genggam, kuingin kau ada di saat tersulitku ataupun di saat-saat bahagiaku."Air matanya jatuh bertalu membasahi pipi yang kemerah-merahan. Isakannya membuat Danar termangu sendu.Sekali lagi maafkan aku Git, aku tidak bisa untuk tempat kamu pulang, kamu harus mencari kepulangan-kepulangan yang lain yang lebih bisa membukakan pintu hati untukmu yang menjagamu di saat hari sedang lelah-lelahmu, aku sudah lama kehilangan tempat pulang bukan untuk saat ini akan begitu. Lebih baik aku sampaikan saat ini dari pada kau larut di dalam ketidakpastianku, bukankah lebih baik aku jujur seperti ini Git, jujur dalam setiap kebaikan untuk diriku dan dirimu kelak.Gita terdiam dan kali ini tidak mampu mengucapkan apa-apa, Danar langsung memeluk Gita dengan pelukan yang sangat hangat bukan sebuah pelukan kekasih kepada pacarnya tetapi lebih ke pelukan seorang kakak ke adiknya.Kau tetap akan menjadi adikku Git, bukan tempat untukmu pulang, sekali lagi maafkan aku."Seisi gempita ruang tersendu. Begitu juga Gita yang kini menangis didalam pelukan Danar, sebuah pelukan uang akan melepaskannya dari rasa sakit sebuah ketidakpastian pengharapan. Dengan begini Gita sudah jelas apa yang diinginkan Danar dan tidak akan pernah lagi untuk mencoba mencari celah diantara hubungan mereka.
Komentar
Posting Komentar