Bab 4 : Gadis Ambigu

Beberapa hari setelah kejadian itu, Alika senyum-senyum sendiri tanpa sebab apapun yang pasti, keanehan rasa membuatnya ramun dalam keseharian. Ada rasa bahagia yang menjuntai didalam dadanya ketika kemarin malam bisa menikmati matahari sore yang tenggelam bersama genangan air laut yang membiru dipelataran pantai. Sudah sangat lama rasanya Alika tidak senyaman itu dengan seorang lelaki, sudah tak terhingga gairah hidup gadis itu untuk tetap merasakan betapa nikmatnya dalam mengkolaborasikan rasa yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Ia sangat menikmati dari setiap detik bersama Danar, lelaki itu seperti sosok yang baru dan idaman dari setiap penantian lama Alika terhadap seorang pria. Namun, ia tidak mau terlalu gegabah dalam sebuah pengharapan atas perasaan karena ketika dia terlalu cepat mengambil keputusan semuanya akan tampak berantakan. Sehingga mungkin ia akan bersabar dan berhati-hati dalam setiap kedekatan yang mereka jalani bersama.

Alika salah satu gadis yang periang, dia senang menikmati kebersamaan bersama teman-temannya dan dia juga hobi menceburkan diri dibalik lipatan halaman tebal beberapa buku-bukunya. Alika Anjani nama lengkap gadis itu, gadis yang kini berkuliah di salah satu kampus Negeri ternama di kota Yogyakarta. Ia tidak berasal dari kota melainkan anak desa yang hanya berusaha untuk mengenyam pendidikan dikota.

Alika menghabiskan sebahagian hidupnya dipelataran desa yang hijau, bahkan ia masih sangat jelas masih mengingat ketika ia masuk sekolah dasar untuk yang pertama kali, diantarkan oleh ibunya ke sekolah dengan berjalan kaki. Gandengan tangan dan langkah kaki mungilnya membuat dia tersungging semu.

Sesampainya di sekolah menengah pertamapun ia masih bisa menikmati desa ini dengan teman-temannya. Senyum tawa mereka akan selalu diingatnya.

Ketika Alika mulai masuk SMA, ia pernah menjadi juara favorit didalam kelasnya karena sangking hobinya dalam membaca buku. Baginya membaca buku sudah menjadi sahabat sekaligus pembunuh waktu yang paling efektif.

Anak tunggal dari Ibu dan Ayahnya itu kini sudah beranjak dewasa, semakin cantik saja dengan rambut sebahunya yang tergurai rapi nan halus menutupi bunga telinga. Ketika ia sudah lepas dari tetek-bengeknya dunia SMA, ia mulai memikirkan masa depannya agar lebih baik, iapun memutuskan untuk ikut tes ujian masuk kedalam perguruan tinggi negeri. Ia pun lulus dengan hasil yang mengesankan. Hingga ketika lulus masuk tes perguruan tinggi negeri ia memutuskan pindah kekota untuk memulai hidup yang baru dan membangun sebuah impian yang sudah ia rencanakan.

Kini ia sudah memasuki semester enam dikampusnya, waktu berjalan dengan cepat bahkan tanpa disadari beberapa semester lagi ia akan lepas dari hiruk-pikuk kampus yang sudah sangat jengah dirasakannya, dia akan menjadi sebenar-benarnya manusia yang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Hari-harinya selalu saja menyenangkan dengan teman-teman yang selalu mendukung apapun kegiatannya. Alika begitu menghargai yang namanya pertemanan. Ia sangat menyayangi sahabat-sahabatnya. Ia lebih menjaga persahabatannya dengan kedua temannya itu dari pada harus sibuk dengan pacaran, bukan karena ia tidak ingin memulai sebuah hubungan hanya saja ia malas untuk memulainya, bukan tak banyak para lelaki yang tampan menyukainya hingga menyatakan cinta padanya, tapi ia merasa enggan untuk membuka hati. Ia masih bersabar akan seorang pria yang benar-benar sepemahaman dengannya. Karena ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan untuk selalu berteman lebih intim dengan kesendirian; baginya sendiri itu adalah peneman disaat malam tiba, ia bisa merasa bebas tertawa ketika merasa dengan teman-temannya namun ketika ia dirumah dan masuk kamar ia tetaplah sendirian.

Semua kesendirian itu kini telah sirna, ada banyak kerinduan yang membuncah samar, salah satunya akan sosok itu. Sebuah sosok yang selalu menjadi bayang-bayang kemanapun ia pergi.

Sosok lelaki yang membuat hatinya terpaut melekat menyentuh kedalam diri lagi dan lagi.

Alika begitu sangat menyayangi Ibunya, sesosok perempuan tangguh yang kuat dalam mengarungi bahtera kerasnya kehidupan. Bagi dirinya ibunya adalah teman terbaik, guru terbaik dan pembimbing terbaik dalam kehidupannya.

Sebagai anak tunggal Alika selalu mendapatkan perhatian yang cukup bahkan lebih dari kedua orang tuanya, Alika tidak semena-mena dengan status anak tunggal yang disandangnya, ia tidak manja dengan menjadi anak tunggal untuk Ibu dan Ayahnya. Malah sebaliknya dia tangguh dalam menghadapi masalah apapun yang datang bertubi-tubi. Ia ingin menghapus kutukan orang banyak tentang status anak tunggal yang sering dikatakan anak manja, anak tunggal itu tidak bisa mandiri. ia sudah mulai muak dengan celotehan orang-orang yang merasa tidak memiliki keperluan penting dengannya mengecap ia dengan kalimat-kalimat jahat tersebut. Dia selalu berusaha menjadi sesuatu yang berguna atau bermanfaat bagi orang lain. Ada sesuatu hal yang harus ia tunjukkan agar kutukan anak manja itu hilang dari peradaban jiwa khatulistiwa.

Awalnya ia ingin meringkis ketika di cap dan diolok-olok dengan semena-mena dengan kata-kata yang tak sepantasnya ia dengar. Waktu disaat masuk awal perkuliahan, ia banyak bertemu wajah baru, sikap baru, orang-orang baru, ia hanya sendirian diawal perkuliahannya tanpa satu orangpun yang mau menemani, ia menjadi wanita tersisihkan karena dianggap kampungan. Ia harus memulai dalam menyesuaikan perilaku anak kota yang terkadang semerawut, sementara ia hanya anak desa yang beruntung kuliah di tempat ini, karena kepintarannyalah ia bisa mendapatkan beasiswa dikampus ternama ini.

Mereka teman satu kelas Alika menyebutnya dengan sebutan kutu buku, mungkin karena melihat kaca mata hitam yang tersemat dipangkal hidungya. Kaca mata itu selalu betah menempel disana peneman Alika dalam membaca dan menulis, ditambah lagi dengan rambut yang dikepang dua kebelakang semakin menandakan dia berasal dari desa, ia tidak malu mengakui bahwasanya ia berasal dari desa karena orang tuanya selalu mengajarkan kejujuran dini pada anak mereka yang satu itu.

Sudah wajar ketika anak desa kuliah dikota akan mendapatkan perhatian yang tidak menyenangkan, awalnya memang begitu bukankah semuanya sudah berawal dari beribu-ribu tahun yang lalu, sama seperti kisah Nabi Muhammad yang pertama kali ingin menyebarkan Agama Islam mendapatkan banyak cacian dan makian dari mereka yang menganggap apa yang dibawa Nabi Muhammad adalah salah. Kegetiran ini berlangsung terus- menerus.

Hingga para penjajah Belanda datang keindonesiapun tidak langsung menjajah, begitulah adanya mereka datang dengan baik dengan tujuan damai dan tidak langsung menundukkan Indonesia. Mereka menawarkan sesuatu yang dianggap sebuah perubahan baik bagi negara ini, tetapi faktanya berbeda. Mereka mulai perlahan-lahan menelisik masuk dan merenggus setiap wilayah yang ada di Indonesia tanpa pengampunan dan pengasihan sedikitpun.

Begitulah kecamuk yang berlangsung dari dahulu hingga sekarang segala sesuatu yang baru itu pasti dianggap aneh bagi setiap orang namun setelah sesuatu itu dianggap biasa saja bahkan sudah mulai muak dengan sesuatu tadi, orang lain akan menganggapnya biasa saja, bahkan tidak menarik lagi. Naluriah sifat manusia itu pada dasarnya hanya bisa menilai orang lain dari sisi luarnya saja entah dari mana kebiasaan ini berawal, seperti di negara kita ini yang kebanyakan masih lebih mengutamakan kuantitas bukan kualitas.

Contohnya saja ketika kita ingin masuk kesebuah perusahaan yang ada di Indonesia, kebanyakan orang dalam perusahaan pasti lebih memilih memasukkan anggota keluarga terdekat mereka, itu tandanya harus ada relasi keterikatan orang dalam agar kita bisa masuk ke perusahaan tersebut dan kualitas terabaikan.

Tak luput pula uang terkadang mengambil perannya didalam perusahaan, padahal dalam hal ini kita ingin bekerja mengumpulkan pundi-pundi uang, ternyata malah mengeluarkan uang. lagi-lagi kualitas terabaikan, begitulah keadaan di Indonesia saat ini. Beda halnya dengan diluar negeri mereka para buruh yang bekerja diluar negeri lebih mengutamakan kualitas dari pada kuantitas.

Begitulah Tuhan sang maha sutradara dari panggung kehidupan sudah mengatur setiap sisi hidup manusia, hanya manusia-manusia yang tidak terleha-leha akan hiruk pikuk dunialah yang akan bisa menyikapi sesuatu hal dalam keadaan baik. Banyak manusia yang lebih menghanyutkan diri dalam permainan yang ia ciptakan sendiri, ketika ajal sudah menjemput dan ketiadaan persiapan berupa amal tak kunjung membaik maka absurdlah kita sebagai manusia.

Alika pernah merasakan jatuh hati pada seorang pria yang cukup tampan dan baik, mereka berdua memadu kasih begitu mesra.

Memang ketika diwaktu remaja manusia mulai merasakan kenaikan hormon yang lebih meningkat, rasa ingin tahu akan sesuatu membuat remaja milenea sekarang menjadi semakin extrim, apabila rasa keingintahuan yang tinggi tidak di arahkan dengan cara yang benar maka akan berdampak buruk pada diri mereka sendiri.

Waktu itu Alika benar-benar merasa bahagia, merasa dunia milik mereka berdua begitulah ketika orang sedang jatuh cinta lupa dengan segalanya, wajar saja pria tersebut adalah pacar pertamanya karena memang ia belum pernah pacaran sebelumnya. ekspektasinya akan pria tersebut sudah sangat jauh untuk bisa bersama sebagai suami istri, tetapi fakta berkata lain mereka akhirnya putus karena pria yang dipacarinya lebih memilih menetap nyaman kewanita lain, hatinya ttampak hancur, dadanya sesak, air matanya berlinang dan jatuh. Ia melihat langsung dengan kedua bola matanya, ketika pria yang ia sayangi harus jatuh kepelukan wanita lain.

Kebanyakan para lelaki memang begitu ketika sudah muak dengan pelukan yang lama ia akan mencari pelukan yang baru, Gumamnya ketika melihat langsung dengan matanya hingga air matanya jatuh bertalu.

Semenjak saat itu ia rehat dari yang namanya pacaran luka lama itu belum sembuh sempurna ia masih memendam rasa yang teramat pedih akan kasih sayang yang tak terbalas. Perlahan-lahan namun pasti semua luka itu hilang dan mulai terobati lagi.

Alika yang terdahulu sudah berbeda dengan Alika yang sekarang, ia sekarang jauh lebih bisa menyesuaikan dengan keadaan orang kota tanpa harus mengubah sifat desa, kini ia tak lagi mengepang kedua rambutnya, rambutnya kini ia pangkas pendek hingga sebahu yang tergurai lurus nan lembut, aksen kaca mata semakin menambah kecantikannya.

Ditambah lagi dengan kunyahan dari setiap halaman buku yang ia baca, ia kini sangat mudah untuk mendapatkan teman, teman satu kelasnya yang menghinanya dahulu bahkan kaget bukan kepalang ketika melihat Alika berubah menjadi putri cantik yang jelita dipanasnya hiruk pikuk kota. Alika kini lebih mementingkan studinya dikampus yang harus tetap ia pertahankan.

Suatu hari ketika ia ingin mencari buku filsafat di sebuah toko buku, tanpa sengaja dia bertemu dengan seorang pria yang entah dari mana asalnya, ia buru-buru waktu itu karena takut kesorean. karena sore harinya ia harus melaksanakan ujian akhir semester. Bukan hanya di toko buku saja mereka bertemu. Mereka juga bertemu diacara tunangan adiknya mas Hendra. Tanpa disangka tanpa diduga lelaki misterius itu ternyata teman kerja abang sepupunya; Hendra.

Dari situlah semuanya berawal kisah manis yang terukir indah di garis pemecah kebekuan hanyut didalam keheningan dunia yang sepi.

Awalnya Alika tidak memiliki rasa apapun terhadap laki-laki misterius itu, ia hanya menganggap pria itu sebagai penghambat pulangnya untuk kekampus, namun setelah bertemu untuk yang kedua kalinya ia mulai menyadari gejolak yang awalnya biasa-biasa saja kini semua mulai berhasaja menimpa wajahnya yang semakin haru biru. Tak luput pula ketika mata mereka menyatu menikmati senja yang memaparkan keindahannya lengkaplah sudah semua ini seperti terencana tanpa ada sutradara dibalik awal pertemuan mereka, mungkin ini scenario Tuhan untuk mereka yang memang pada dasarnya akan bertemu. begitulah kehidupan maupun kisah cinta bisa dapat berubah kapan saja dan dimana saja, tergantung bagaimana kita melihat secara jeli manakah yang akan baik untuk kita atau yang tidak. Tuhan sudah memiliki rencana dibalik pertemuan ini, entah akhir bagaimana mereka saja tidak tahu yang jelas saat ini dua anak manusia sedang merasakan gejolak aneh yang sudah lama tidak mereka rasakan.

Rasa yang sebelum-sebelumnya asing didalam dada mereka masing-masing.

***

Bu, aku pergi dulu keluar bentar jumpa temen, Danar pamit dengan ibunya untuk keluar rumah.

Mau kemana sore-sore begini Nar?

Jumpa temen buk.

Ya sudah hati-hati yo.

Danar mencium punggung tangan ibunya ia langsung pergi dengan motor tuanya.

Motor tua itu langsung meluncur santai dijalanan yang ramai, percikan bau knalpot sering menyapanya tak lain tak bukan bau asal knalpot itu adalah dari vespa yang ada didepannya, ia hanya tersenyum saja malah ia bangga di zaman era melenia masih banyak orang yang mencintai motor tua.

Hari ini ia ada janji dengan Alika untuk menemaninya ke toko buku sekalian ia pun ingin mencari buku untuk bahan tugas akhirnya.

Sudah lama ya menunggu, Danar sampai didepan kosan Alika.

Eh enggak kok, baru aja. Alika tersenyum.

Ya sudah yok, entar kesorean.

Lagi-lagi sepertinya Alika dengan mudah meluluhkan hati Danar yang kemarin sekeras batu, sama halnya dengan Alika yang selalu larut kedalam pelukan Danar.

Kamu mau nyari buku apa? kata Danar.

Aku mau nyari buku tentang Filsafat, aku suka dengan filsafat."

"Aneh, kenapa kamu suka sama Filsafat?" Danar mengintrik.

"Karena dengan filsafat tersebut kita bisa memandang apa saja dengan ringan tanpa beban jadi aku mau belajar lebih banyak lagi tentang filsafat.

Kamukan kuliah jurusan ekonomi, kok malah lebih suka Filsafat? wajahnya mengkerut.

Apa mesti aku kuliah jurusan Ekonomi, aku harus terus membaca buku tentang Ekonomi terus. Ekonomi terkadang membosankan menghitung uang yang tak tampak sama saja semu, maka dari itu aku memerlukan kebutuhan nurani dalam melihat apapun, ya kupikir filsafat ilmu yang bagus untuk kebutuhan nuraniku."

kalau kamu ke toko buku mau mencari buku apa? Tanya Alika balik.

Ada tugas akhirku yang tak kutemukan di buku manapun hanya buku itu yang bisa menyelesaikan beberapa tugas yang sedikit lagi hampir selesai.

Sesampainya di toko buku mereka berdua masuk dan mulai menerawang keseluruh ruangan menyapu setiap pandangan untuk menemukan buku yang mereka cari.

kedua insan ini memang sama-sama menyukai buku, ketika mereka masuk di toko buku mereka seperti orang yang tidak mengenal antara satu dengan yang lain. Alika sibuk tenggelam dengan pencariannya tentang filsafat sementara Danar penuh pengharapan agar buku yang ia cari masih ada.

Sementara Alika sibuk dengan barisan-barisan buku tebal yang sedari tadi masih mencari manakah buku yang tepat untuk dirinya. Danar sudah menemukan buku yang ia cari, bukan Danar namanya ketika masuk toko buku tidak berdiam diri lama disudut ruangan yang sudah tersediakan untuk menyelami beberapa halaman, dan apabila buku itu menarik pasti langsung ia beli, itulah salah satu sikapnya yang tidak bisa hilang, maka dari itu ia betah berjam-jam ditoko buku hanya sekedar membaca sampai halaman demi halaman yang tampak renyah dan menarik.

Beda halnya dengan Alika yang memang niatnya membeli buku ya membeli buku, ketika Alika sudah menemukan buku yang ia cari Alika akan langsung keluar dari toko buku tanpa basa basi untuk singgah sebentar atau setidaknya duduk untuk melihat-lihat, tapi kali ini kebiasaannya hilang ia malah langsung tenggelam dengan buku yang dicarinya tadi, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya ia duduk di toko buku untuk beberapa jam sembari membaca dan hanyut didalam setiap kalimat buku yang dibacanya, lagi-lagi cinta memiliki keselarasan yang saling menutupi ruang kebiasaan diantara mereka berdua. Bahkan keegoisanpun mampu terabaikan ketika dua insan sedang merasakan jatuh cinta, bagaimana tidak kesukaan yang sama membuat mereka betah dengan sesuatu hal yang dahulu dianggap membosankan kini malah lebih menyenangkan.

Sesuatu itu mereka rasakan dan nikmati dengan bahagia, ketika mereka mulai tenggelam didalam halaman, mereka duduk berhadap-hadapan diatas meja kayu berwarna cokelat toko buku, mereka saling tidak menyapa ketika mereka mulai berimajinasi, tanpa suara yang ada hanya balikan dari setiap halaman kertas buku. Danar dengan begitu semangat membacanya begitu pula denga Alika yang seperti memiliki dunianya sendiri, dia merasakan petualangan pikiran yang menurutnya sangat nikmat, tanpa sedikitpun teganggu oleh lalu lalang pengunjung toko buku.

Sudah hampir dua jam mereka duduk diam termangu tanpa suara sembari menceburkan diri dalam buku mereka masing-masing. Hingga Danar membuka kebisuan diantara mereka.

Bagaimana sudah nemu bukunya?

Udah ni yang aku baca beberapa halaman.

Gimana ceritanya menarik?

Kayaknya menarik, banyak pengetahuan yang aku butuhkan dalam buku ini.

Kamu gimana udah nemu bukunya? Alika bertanya balik.

Sudah kok, ya udah yuk kita pulang udah mau malam.

Mereka pulang dengan mengendarai motor tuanya Danar yang dengan santai dipacunya, suasana sore hari yang menerpa langsung lewat biasnya kilauan sinar matahari sudah tersipu malu oleh biasan arakan awan yang akan datang gelap.

Kamu pernah tidak suka sama seseorag tetapi seseorang tu pergi meninggalkanmu? kata Alika.

Pernah sih, itu dulu sudah lama sewaktu aku awal akan masuk SMP kalau tidak salah, aku pernah tertarik dengan seorang wanita dia teman kecilku, aku dulu sangat akrab dengannya bahkan sangat dekat, waktu itu aku belum mengerti dengan rasa nyamanku ketika berteman dengannya, kami melakukan pertemanan yang manis disebuah desa pinggiran kota Yogyakarta, tapi akhirnya berbeda dengan seperti yang kuharapkan dia pindah kekota tanpa memberi tanda, tanpa memberikan sinyal apa-apa, raut wajah Danar mengemas.

Jadi kamu tidak pernah mendengar kabarnya sedikitpun saat ini? Alika semakin penasaran.

Tidak sama sekali sampai saat ini, tak apalah mungkin entar ketemu kalau tidak ya tidak apa-apa.

Kalau kamu bagaimana pernah jatuh hati pada seseorang? Tanya Danar balik.

Emm gimana ya itu sudah cukup lama, bahkan rasa pedih yang menggelora masih sangat terasa sampai saat ini tapi tidak apa-apa aku sudah bisa berdamai dengan hatiku sendiri. Dulu aku pernah pernah jatuh hati dengan seorang pria tampan dan menurutku cukup baik, waktu itu aku masih duduk dibangku SMA dan aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran, pria itu dengan mudahnya membuatku jatuh hati dengan begitu saja, maklum saja aku waktu itu gadis yang sangat polos tidak tahu menahu bagaimana rasanya menilai seorang pria aku ambigu dalam hal itu.

Jadi kamu pacaran dengan pria itu? Tanya Danar yang sambil fokus mengendarai motornya.

Hempasan angin menyapu rambut Alika yang sebahu dan mengantam mesra sebahagian wajahnya.

Iya aku dekat dan terus dekat dengan pria itu, dan kelama-lamaan aku merasa nyaman dengannya, aku menaruh simpati dengannya sama halnya diapun begitu waktu itu."

Pria itu menyatakan perasaanya kepadaku pas disaat jam pulang sekolah didepan kelas, hanya ada kami berdua saja waktu itu, tak perduli lagi dengan hari yang sedang terik-teriknya menyinari bumi, yang jelas waktu itu aku adalah orang terberuntung yang bisa mendapatkannya disekolah.

Terberuntung, Danar tertawa keras.

Ah kamu asik ngeledek aja.

Oke baiklah lanjutkan.

Hatiku sangat bahagia waktu itu, bagaimana tidak pria terganteng dan sekeren dia bisa menjadi pacarku, aku sangat bahagia tapi tidak lama.

Tidak lama, maksudnya? Danar mengernyitkan dahinya.

Iya hanya beberapa bulan saja sebelum aku melihat dia memberikan sekuntum bunga mawar merah yang cantik kewanita lain, dan memeluk wanita tersebut. Aku mulai merasakan kecewa yang teramat dalam, aku merasa benci dengannya, ingin sekali kupukul bahunya dengan sekuat tenaga, tapi aku menggeram dalam diam dan menikmati rasa sakit yang perlahan-lahan mulai hilang, karena semua itu bukan untuk dilupakan tetapi diingat dengan cara yang tidak menyakitkan.

Setuju, mengingat dengan cara yang tidak menyakitkan.

Kesenyapan menyapa mereka berdua ketika mereka sudah sampai dikos-kosan Alika, tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepatnya.

Akhirnya sampai, umpat Alika.

Ya sudah aku pulang ya.

Ya sudah hati-hati dan terima kasih ya.

Terima kasih untuk apa?

Karena sudah mau menemaniku, Alika tersnyum.

Ah tidak perlu justru aku yang berterima kasih kepadamu karena sudah mau menemaniku.

Danar langsung beranjak pergi dari menanggalkan senyuman termanis untuk Alika Anjani sang gadis ambigu.

Komentar

Postingan Populer