Bab 2 : Altitude Mahameru

Ujian akhir semester sudah selesai ia jalani pikirannya sedikit merancau dalam menjawab beberapa pertanyaan yang diujikan di atas kertas. Danar ingin melepas penat dari aktifitas yang begitu membosankan, yang pada akhirnya ia memutuskan untuk mendaki gunung semeru di jawa tengah bersama teman-temannya. Demi memenuhi sebuah hasrat yang telah lama terpendam, memenuhi jiwa petualangannya yang kemarin tenggelam begitu saja bersama rutinitas hariannya yang tampak begitu terasa membosankan.

Pagi harinya kota Yogyakarta di guyur hujan, hujan turun dengan deras-sederasnya. Pelataran jalan Malioboro terlihat lenggang dari orang-orang yang merasa penting untuk datang ketempat itu, pelataran jalan itu perlu beristirahat dari senyuman wisatawan yang mengabadikan sebuah moment lewat sebuah photo, tak terkecuali para pedagang kaki lima yang senantiasa setia memenuhi trotoar pinggiran jalan, berjualan demi memenuhi kelangsungan hidup untuk dirinya sendiri ataupun keluarganya. Para pedagang kaki lima tersebut selalu tersenyum ramah kepada para wisatawan yang datang silih berganti itulah ciri khas orang Jogja dengan segelintir keramah-tamahannya.

Hujan mulai mereda awan gelap tak ingin menghabiskan air yang ditampungnya kemarin-kemarin habis begitu saja, suasana sudah mulai lebih baik dari pada harus terus tenggelam bersama rintik gemericik air hujan, hingga sinar keemasan matahari mulai menelisik masuk menyinari kota ini, kota yang indah dengan sejuta umat.

Danar sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan mendakinya, mulai dari perlengkapan pribadi seperti kantung tidur, sarung tangan, senter, penutup kepala, jaket hingga barang-barang lainnya yang diperlukan. Tak pernah ketinggalan sekalipun kamera kesayangan miliknya yang sedari tadi sudah ia masukkan kedalam bodypack mini, selain menulis dan mendaki gunung Danar juga hobi memotret, kesenangannya akan dunia photography memberikan cerita yang menarik didalam hasil jepretan kamera miliknya.

Ada banyak cerita yang hanya bisa ia tuangkan dalam setiap halaman Blog pribadinya atau disegudang aplikasi internet lainnya, setidaknya gairah akan semangat hidup yang kemarin sempat hilang kini muncul kembali, ia sudah mulai jatuh cinta pada senja dipinggir pantai, sunrise di puncak gunung, segarnya udara hutan yang bisa dinikmatinya kapanpun dia mau, dari pada harus jatuh cinta dengan seorang wanita untuk saat ini yang menjadi penghambat hidupnya, maka dari itu ia lebih sering mengabadikan moment tentang kesukaannya yang dituangkan lewat halaman Blog, karena menurutnya para gugusan senja dan arakan sunrise atau segarnya udara hutan semua itu bisa dinikmatinya secara jelas dan nyata tanpa ada tipu daya yang bisa disembunyikan, ia bisa dengan mudah menggambarkan bahtera cerita bagaimana saat senja menyelinap masuk kedalam malam. Berbeda halnya dengan manusia, ia tidak terlalu suka memotret manusia, walaupun sudah ia coba hanya saja gairah dan seni belum tampak didalam tempurung kepalanya. Manusia dengan segala aktifitasnya masih misteri didalam otaknya, baginya manusia itu membingungkan sulit untuk dipahami apalagi wanita sama saja tak ada bedanya semuanya sulit dipahami.

Danar terduduk menunggu kedua temannya datang, matahari sudah menampakkan sinarnya tetapi temannya tak juga kunjung datang. Hiruk pikuk keramaian orang menenggelamkan dirinya bersama dengan lamunan. Ia menilik satu persatu orang-orang yang hendak bepergian, ada seorang ibu-ibu yang memegang tas berwarna cokelat penampilannya nyentrik dengan lipstik tebal dibibir dan jilbab merah muda yang masih tampak baru. Sedangkan diujung lorong stasiun seorang kuli panggul sedang mengangkat beberapa barang untuk dimuat kedalam kereta, rasa lelah dan keringat yang bercucuran membuat Danar ngeri membayangkan bagaimana mereka mampu bertahan dalam pekerjaan seperti itu.

Danar pernah membaca dari salah satu buku yang menarik, buku tersebut membicarakan tentang manusia dan kegiatannya yang ditulis oleh Ahmad Wahib isi tulisan itu berisi.

"Ia tidak mengerti tentang keadaan ini, ada orang yang sudah sepuluh tahun jadi tukang becak tidak meningkat-ningkat. Seorang tukang cukur bercerita bahwa dia sudah dua puluh tahun bekerja sebagai tukang cukur penghasilannya hampir tetap saja, bagaimana ini?. Mengapa ada orang-orang yang sepuluh tahun menjadi pekerja kasar yang itu-itu juga, pengetahuan mereka juga tidak meningkat. Apa bedanya menggenjot becak setahun dengan sepuluh tahun? Ide untuk maju walaupun pelan-pelan masih sangat kurang di Indonesia."

Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Ahmad Wahib begitu jelas terngiang di ruang pikirannya yang kosong, bahkan sampai saat ini ia masih belajar dan mencoba memahami wajah asli orang Indonesia, alangkah mencekam kebekuan pikirannya ia menyerah terhadap keadaan. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi sementara tubuh dan fisik mereka kuat. Mungkin akal dan pikiran untuk maju sangatlah kurang.

Danar tersadar dari lamunannya yang panjang, ia disadarkan oleh salah satu temannya yang bernama Danny.

"Ngelamun aja lo bro!"
Suara seorang pria menyadarkannya.

"Eh enggak siapa juga yang ngelamun, baru sampe lo Dan?"

"Iya baru juga nongol dihadapan lo tadi, mana si Indra kok belum nongol juga itu anak, mana kereta bentar lagi berangkat." Ucap Danny yang dari tadi menyapu pandangan ke arah keramaian orang.

"Tunggu aja palingan bentar lagi muncul itu batang idungnya."

Setelah sepuluh menit berlangsung Indra muncul dengan carrier berwarna biru di punggungnya. Dia merasa agak kepayahan dengan carrier besarnya tersebut.

"Nah ni anak akhirnya muncul jugak,"
Intrik Danny.

"Eh iya sorry gue tadi agak sedikit telat macet," ucap Indra beralasan.

"Yadah yuk naik, kereta sudah mau berangkat," ajak Danar untuk segera naik kekereta.

Kereta api mulai melaju kencang meninggalkan kota Yogyakarta, dengan suara deru mesin berisiknya membawa mereka menuju kota Malang, perjalanan dikereta cukup memakan waktu yang lama.
Sudah hampir tujuh jam mereka berada didalam kereta. Rasa remuk redam disekujur tubuh selalu menjadi peneman yang paling setia ketika didalam perjalanan.

Sesampainya di kota Malang mereka langsung naik ke sebuah Jip dengan beberapa rombongan lain yang memang ingin mendaki semeru, setelah sebelumnya membereskan logistik untuk pendakian.
Stok kontak mesin Jip dihidupkan, Jip berjalan cepat meninggalkan keramaian kota yang berisik, mereka saling bercengkrama satu sama lain sambil menikmati pemandangan yang begitu indah, perbukitan bukit-bukit yang tertengger rapi dengan sejuta misteri, hutan yang menghijau disisi kiri dan kanan jalan semakin menambah eksotisme perbukitan lereng Gunung Semeru, deru mesin berhenti mereka semua turun menandakan mereka sudah sampai di desa terakhir, Desa Ranupane. Tampak bacaan didepan dengan tulisan tersebut.

"KECAMA AN SENDORO DESA RANUPAN" tidak tampak huruf T dan E diujung huruf, entah kemana huruf-huruf tersebut mungkin lagi berkeliling mencari udara segar.

Sebelum memulai pendakian mereka melakukan registrasi kepada petugas untuk mendaftarkan diri, dan langsung menuju ke tempat bermalam dipelataran bukit lereng gunung semeru pinggir danau Ranupane, tenda di bangun jaket di naikkan sedagu, dingin yang sangat menusuk kulit sangat terasa menggetarkan tangan hingga kaki, makanan mulai dimasak untuk mengisi keroncongan diperut, perut mereka sudah demo habis-habisan untuk segera diisi, seduhan secangkir kopi hitam pekat mengembulkan asap menemani malam mereka bertiga, banyak ribuan bintang yang berarakan cantik mempertontonkan gemerlapnya dengan begitu indah, ada banyak gugusan aurora penyinar galaxy yang tersandar di ujung-ujung semesta, mereka bercengkrama dan tertawa riang hingga tak sadar malam sudah semakin larut memaksa mereka untuk tidur beristirahat melepas penat, resleting kantung tidur dikerat hingga menutupi leher seperti lontong yang dibungkus daun pisang. Mereka tidur dengan lelap berharap esok cuaca cukup cerah untuk melakukan pendakian. Malam kian larut beserta dengan suara kerapuhan serangga malam.

Keesokan harinya, ketika sang mentari sudah muncul dari peraduannya membelah sinarnya di sisi-sisi perbukitan, mereka semua terbangun dari tidurnya orang yang lelah dan mempersiapkan segalanya, mempacking ulang perlengkapan dan beberapa logistik. Mereka berkumpul dan membacakan doa bersama agar pendakian kali ini lancar tidak terjadi apa-apa. Mereka panjatkan doa kepada Tuhan semesta alam, agar memberikan restu atas nikmat hidup yang selalu mereka bisa nikmati.

Setelah semua selesai, pendakian mereka mulai dengan berjalan pelan melintasi ilalang selutut yang berwarna kekuningan hingga perbukitan yang menanjak, naik turun bukit mereka lalui dengan seksama, sesekali Danny ngomel-ngomel tidak jelas karena dibeberapa sudut tubuhnya merasakan sakit. Semangat mereka menggebu-gebu akan pendakian kali ini. Tidak terkecuali dengan Danny yang baru pertama kali memijakkan kaki ditempat ini, Danny selalu terkagum-kagum dengan apa saja yang dilihatnya. Lereng perbukitan yang menghijau, pepohonan yang rindang, udara pegunungan yang sejuk dan indahnya sebuah panorama perbukitan yang begitu indah. Gunung Semeru merupakan salah satu gunung tertinggi di pulau Jawa dengan samudera di atas awannya yang sangat mengagumkan. Gunung ini sering kali didatangi oleh para pendaki yang ingin menikmati keindahan alamnya yang luar biasa terutama danau ranukumbolo, danau yang memiliki ketinggian 2400 meter dari atas permukaan laut, salah satu danau tertinggi didataran tinggi pulau Jawa, ditambah lagi airnya yang jernih dan dingin, semakin menguatkan daya mistik dan magis yang menarik perhatian para pendaki seluruh Indonesia.

Sudah beberapa jam mereka berjalan, tidak ada hambatan apapun, mereka sampai di sebuah danau. Danau yang selalu dirindukan Danar, danau yang memiliki sejuta ketenangan sekaligus kenangan.

"Yok semangat sedikit lagi sampai didanau, sergah Indra menyemangati temannya."

"Danaunya sudah tampak tuh dari kejauhan rasanya isinya udah mau gue minum semua air nya,"
Danny tertawa dengan terbatuk batuk.

Mereka semua bersemangat untuk menuju danau menuruni bukit yang terjal dengan sedikit berlari, hingga semangat itu tersampaikan oleh indahnya percikan air Ranukumbolo yang sangat tersohor hingga keujung negeri.

"Welcome to Ranukumbolo," ucap Indra yang sudah berdiri mematung terkesima. Yang kemudian berjalan berkeliling untuk mencari tempat yang baik dalam mendirikan tenda, "sepertinya bagus disini Nar untuk kita dirikan tenda."

Danar tersenyum dan langsung bereaksi mengorak-arik isi tas besarnya membongkar perlengkapan, memulai memasang tenda untuk mereka mengistirahatkan tubuh satu malam di tempat ini sembari menikmati keindahan Ranukumbolo yang penomenal hingga kesudut negeri.

Disini di tempat ini Danar duduk santai dipinggir danau, duduk di atas kayu sambil menikmati hembusan angin yang dingin, memejamkan mata sesaat, menjuntaikan jiwa yang lirih penuh dengan kecamuk di hati akan semua rutinitas yang rumit dan kadang membosankan, semua suara deru mesin, orang-orang lalu-lalang sibuk dengan rutinitasnya, yang membuat ia semakin jengah dengan kehidupan kota.

Danar ialah seorang lelaki yang tidak percaya dengan perkataan orang lain karena sudah terlalu banyak dari mereka terutama teman-teman sekelasnya yang berbicara dengan seadanya, sesuka hatinya tanpa memikirkan sebab-akibat dengan apa yang terjadi, ia percaya akan semua cerita tersebut ketika dia melihat secara langsung dengan kedua bola matanya yang membulat besar.

Sementara Danar sedang asik dengan lamunannya, Dannypun asik dengan poto sana-sini, ia kelewat liar untuk dibiarkan. Smartphonenya sudah penuh dengan poto selfie dirinya sendiri. Seakan-akan dia berada diplanet lain yang sibuk foto kesana-kemari. Danny masih saja takjub akan indahnya tempat ini. Baru pertama kali mendaki gunung, baru pertama kali juga menikmati hawa dingin yang menusuk-nusuk kulit. Danny sering menghabiskan waktunya dikampus, ia terlalu sibuk belajar sampai -sampai untuk bermain saja tidak sempat terpikirkannya. Danny salah satu orang yang pintar sangat pintar bahkan, mungkin yang ada diotaknya hanya teori-teori aneh yang sering berseliweran dan menetap tinggal. Begitulah Danny yang ketika pertama kali diajak mendaki gunung. Sibuk eksis kesana kemari.

Memang semuanya begitu, orang yang baru pertama kali mendaki gunung, akan terkagum-kagum akan indahnya ciptaan sang-Pencipta, sedangkan Danar dan Indra tidak heran lagi melihat tingkah Danny mereka berdua cukup hanya memakluminya saja.

"Yuk Nar mari makan, asik bengong aja lo dari tadi," intrik Indra yang sudah menyiapkan makanan sedari tadi.

"Eh iya gue kagak bengong kok, cuman ngelamun dikit," Danar tertawa samar.

"Yaelah apa bedanya, sama aja kali Nar."

Para serdadu awan menyelinap masuk di bawah mereka, menutupi sinar matahari langsung yang sedang renyah bersinar terang, arakan awan yang berwarna putih dengan background kebiruan sungguh sangat memanjakan mata, sungguh indah ciptaanmu Tuhan, gumam Danar sambil menikmati makanannya yang terasa begitu nikmat.

Sore sudah hendak berkerabat pada senja yang bersiap menggantikan kedudukannya dengan begitu cepat, begitu mudah waktu berjalan dengan tanpa terasa.

Senja diteras danau sangat nikmat untuk dinikmati, sunyinya danau sangat menentramkan jiwa, angin yang berhembus pelan nan samar mulai menelisik masuk kedalam ruang pikiran yang mengangkasa didalam rongga remah imajinasi. Senja terduduk rapi dan sendiri diantara dua bukit yang berhadapan memantapkan sinar orane yang begitu merah merekah berpancarkan warna yang berirama menjadi satu, senja disore hari ini seperti dikhususkan untuk mereka bertiga saja.

Mereka duduk santai bertiga beralaskan matras hitam yang membentang di atas tanah berpasir lembab. Memandangi estetika akan alam yang lirih hingga matahari terbit meninggalkan bumi.

Mereka adalah pengelana yang lelah yang mencoba menyeburkan diri bersama lirihnya semilir angin, riuhnya pepohonan, cahaya keelokan senja, udara dingin yang menelisik lembab yang memaksa mereka mengenakan jaket tebal yang dari tadi tergeletak begitu saja. Resleting jaket langsung dinaikkan kedagu. Senja memang memiliki caranya sendiri untuk terbenam, ditambah lagi aroma kopi hangat mengembulkan asap putih yang lekat masuk kedalam hidung, menenangkan hati dan relung kalbu yang menjadikannya syahdu.

Menyeruput kopi hitam bertemankan dengan senja menjadi daya tarik tersendiri bagi Danar, kopi dan senja seperti tidak bisa terpisahkan dalam hidupnya, ada ketenanga hati dan pikiran yang tidak bisa didapatkan dari buku atau dari segudang ilmu pengetahuan lainnya. Duduk diam dan bertafakur merenungi diri sendiri yang terlalu banyak perangai parau hati dan pikiran yang menjadikannya gundah gulana yang semakin berantakan.

Beda senja beda pula sang malam di danau ini, senja dan malam mempunyai cerita tersendiri dalam setiap penampilannya. Ketika malam mulai mengadirkan diri di danau ini, danau ranukumbolo jauh lebih indah dari pada ketika malam di kota Yogyakarta, jelas saja berbeda bintang di malam hari ditempat ini tampak sangat dekat dan banyak, ketika para butiran-butiran bintang yang selalu bersamaan mengangkasa dialam semesta membentuk sebuah kerlap-kerlip seirama dengan cahaya bulan yang mulai menampakkan diri dari peraduannya, langsung saja Danar mengeluarkan kamera D-SLR miliknya dan sebuah tripod persegi tiga untuk mengabadikan sebuah moment malam dikala itu, tak luput disitu, siluet bayangan dua sisi bukit lebih lagi memancarkan aurora kegelapan yang menghiasi pernak-pernik perbukitan sang malam.

Sudah beberapa kali Danar mendatangi tempat ini, namun tempat ini tidak ubahnya seperti tempat yang selalu baru, airnya, senjanya, udaranya, ataupun gemerlap gugusan gemintangnya. Karena memang segala sesuatu selalu mengalir diatas permukaan tanah bumi pertiwi. Tidak ada rasa jenuh ketika menyambangi tempat ini.

Cahaya sang gemintang sudah tak tampak lagi, perlahan-lahan kegelapan mulai berkelana kemana saja yang ingin ia kehendaki, tidak lupa pula bagaimana kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih danau ini beserta suara serangga perbukitan yang ada disisinya. Kabut tipis perlahan-lahan mulai mengaburkan pandangan, sama seperti tujuan hidupnya yang sedang kabur dan tidak jelas apa yang sedang ia tuju, ia masih bertanya-tanya untuk apa dia diciptakan, untuk apa dia bernafas, untuk apa dia dilahirkan kebumi. Itu semua masih menjadi misteri yang hingga saat ini belum terjawab.

Ketika malam semakin gelap gulita. Memaksa mereka berkelana dialam bawah sadar, untuk sejenak melupakan jengah yang melanda.

Lengkaplah sudah pendakian kali ini mulai dari teriknya panas matahari, cantiknya arakan awan yang mengudara bebas, eloknya senja dipelataran danau atau gemerlap sang gemintang yang memancarkan identitas gunung semeru yang sangat tersohor ini. Ditambah lagi dengan gemericik rintik hujan yang mulai berirama jatuh membasahi atas tenda semakin memberikan kemagestikan sang malam, untuk itu semakin membuat lengkap saja kenikmatan didalam pendakian kali ini.

Sampai-sampai sang malam harus memaksa mereka masuk kedalam tenda dan menelisik kekantung tidur untuk terlelap sejenak sembari mengucapkan selamat malam.

Setelah malam yang panjang berlalu, yang digantikan oleh sinar keemasan mentari.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai memancarkan sinarnya yang benderang mereka bertiga bangun dengan suhu yang masih dingin diluar tenda, Indra menyiapkan sarapan dan memanaskan air untuk menyeduh kopi. Sementara Danar sedang asik dengan kameranya memotret sunrise yang tampak mengagumkan.

Danny mencoba merapikan tenda dan perlengkapan lain dibantu oleh Danar yang telah selesai dengan kameranya. Ketika perlengkapan sudah selesai dipaking sarapanpun siap untuk disantap, aroma dari kentang goreng, tempe sambal dan tumis kangkung menjadi menu mereka pagi ini. Ditambah lagi, makanan cuci mulut beberapa buah pisang dan apel. Mereka menyantap dengan mantap hingga tidak ada yang tersisa sedikitpun.
Perut sudah terisi, kopi sudah diseruput dan tenaga kembali pulih. Kebugaran tubuh yang kemarin hilang kini muncul kembali dengan semangat yang berapi-api untuk mulai mendaki lagi.

Perjalanan mereka lanjutkan dengan sinar matahari yang bersinar terang memanaskan sudut-sudut permukaan bumi, gugusan pegunungan, kuningnya perdu-perduan selutut menenami perjalanan mereka.

"Nar nanti kita naik keatas bukit itu?" sapa Danny.

"Iya Dan."

"Gile ya tinggi jugak,"

"Tanjakan cinta."

"Apa Nar?" Ucap Danny yang penasaran.

"Tanjakan cinta kebanyakan orang sih bilang gitu,"

"Hah, kenapa namanya tanjakan cinta Nar?" Sergah Danny yang memang tidak tahu menahu tentang Gunung Semeru.

"Itu dua sisi bukitnya mirip lambang cinta, kalau kita naik bukit itu, terus memikirkan orang yang kita cintai nantinya semua mimpi tentang cinta lo akan terwujud, tapi ada syaratnya disaat lo naik, lo gak boleh sekalipun melihat kebawah."
Danar menjelaskan singkat kepada Danny.

"Serius lo Nar."

"Ya kagak tau deh Dan, itu sudah menjadi mitos di Mahameru, namanya jugak mitos kadang bener kadang enggak, tapi ya gue mah kagak percaya yang begituan Dan, apalagi masalah cinta mendingan gue nyemplong ke itu danau deh dari pada percaya yang begituan."
Danar tertawa hebat.

"Yaudah gue duluan ya Nar, ndra, gue mau ngejar luna, orang yang gue suka dikampus. Doain gue ya."
Danny tertawa sambil melangkah cepat meninggalakn Danar dan Indra.

"Oh jadi anak fisika itu yang lo suka Dan, kok gue baru tau ya." Ejek Danar dengan tatapan tajam.

"Eh kan kalau suka apa harus dibilang bilang." Bantah Danny. "Ya udah semoga gue bisa ngejar Luna." Tambahnya lagi dengan tertawa.

Mereka bertigapun tertawa.
" Ya udah hati-hati loe Dan."

Tanpa pikir panjang Danny langsung berjalan cepat melangkahkan kaki meninggalkan kedua temannya, ketika sampai ditengah-tengah perjalanan Danny mulai merasakan lelah dan jengah menghentikan langkahnya, namun Danny masih belom melihat kebelakang hingga satu teriakan berkumandang ke gendang bunga telinganya.

"Dan entar kalau udah sampai di atas tunggu kami ya . . .!"

"Ok ndraa . . .!"

Tanpa sengaja Danny melihat kebelakang dan tiba-tiba saja dia mulai menggrutu sendiri.

"Nah loh kan kalau mau cintanya sampai gak boleh melihat kebawah, nah tadi gue kok lihat kebelakang, astaga Indraa . . .! memang lu ye buat patah semangat gue, gagal deh gue ngejar Luna."

"Eh iya sory hahaha kagak sengaja gue manggil elu tadi, sory-sory."

Danar dan Indra hanya tertawa melihat tingkah Danny yang seperti kekanak-kanakan.

"Ya sudah ah yuk kita jalan lagi, udah keburu siang."

Menikmati perjalanan adalah salah satu kesenangan Danar walau rasa lelah dan letih sudah mengguyur keseluruh tubuh, kaki-kakinya sudah merasa keruh oleh keringat, bahunya sudah memerah akibat carrier yang dipanggulnya, semua itu tidak begitu terasa ketika dia bisa menikmati semua-semuanya ditempat ini, ia begitu menikmati setiap rasa letih yang melanda, ia begitu nikmati rasa sakit yang mendera, ia lukis senyuman di kedua belah pipi dengan melihat semua pemandangan dan gugusan serbuk ilalang sepanjang mata memandang, tidak ketinggalan awan yang membiru atau para kabut tipis yang meleburkan saliva. Dari sinilah mengapa lelaki kumal itu begitu jatuh cinta pada alam dan seisinya ada ketenangan jiwa setiap kali ia mendaki gunung-gunung tinggi, belajar memahami diri sendiri mengalahkan ego yang terkadang merusaknya.

Danar pernah teringat dahulu waktu pertama kali ia mendaki gunung untuk pertama kalinya yaitu gunung Gede Pangrango, dahulu ia tidak pernah tertarik pada alam dan gunung. Dahulu ia hanya menyukai pantai dan pasir putihnya yang berbuih, lelaki kumal itu lebih sering bermanjaan dengan kameranya mencuri gambar senja yang terbit meninggalkan bumi, sudah beberapa pantai bagus sering didatanginya hanya sekedar memotret lalu pergi. Mencuci tangan lewat senja baginya sudah biasa, hidupnya terasa hampa ketika ia melihat lautan, matahari dan senja. Terkadang ada rasa yang membosankan dari itu semua, jeroan warna senja yang itu-itu saja matahari yang selalu memanaskan pantai, hingga terkadang ombak pantai tidak bersahabat. Ia ingin sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa mengembalikan gairahnya akan kenikmatan memotret.

Sampailah ia duduk di awal perkuliahan dan bertemu teman baru yang hobi mendaki gunung tak lain tak bukan temannya itu adalah Indra, Indralah yang pertama kali mengajak Danar untuk mendaki gunung, Indra memang sudah menyukai kegiatan di alam bebas semenjak ia Sekolah Menengah Atas, Indra dahulunya adalah anggota organisasi yang bernama Pramuka, dasar-dasar untuk berteman dengan alam sudah tertanam dengan mantap di benakknya. Indra lelaki periang yang ingin selalu bebas dan tak ingin di atur, perawakannya putih dengan rambut lurus sebahu, wajah oriental menyentil hidung yang cukup mancung bagi laki-laki kebanyakan tetap keren dengan kemeja lengan panjangnya. Mereka bertemu ketika Danar duduk santai di taman kampus sedang membaca buku dan earphone menempel dibunga telinganya, tanpa sengaja dilihatnya sekumpulan orang yang lengkap dengan tas besar dibahunya, dengan bendera yang melambangkan mereka adalah Mapala dikampus tersebut, hingga ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada sekelompok orang tadi. Dan ia melihat Indra dikerumunan tersebut, masih menjadi anggota muda diorgansasi tersebut.

"Ndra mau kemana?"

"Mau kegunung Slamet Nar, kami ada kegiatan disana. Biasalah organisasi Mapala." ucap lelaki berambut lurus sebahu yang tidak lain ialah Indra.

"Oh begitu, iya-iya,"
Danar menganggukkan kepala. "Kapan-kapan kalau mau mendaki lagi aku ikut Ndra," Danar menyodorkan diri untuk ikut dalam pendakian.

"Oke nanti kita atur tunggu aku balik."

"Oke Ndra, hati-hati lo."

Setelah Indra balik dari pendakiannya, ia bertemu lagi dengan Danar dan membahas kegunung mana yang cocok bagi pendaki pemula. Indra berkidik dan memutuskan untuk mendaki gunung gede pangrango.

Hingga ia mulai mendaki bersama Indra ke gunung tersebut, dari situlah ia mulai memahami segelintir tentang alam yang lirih dan indahnya pemandangan yang dipertontonkan secara nyata lewat kedua bola matanya, sampai akhirnya Danar dan Indra menjadi sahabat yang sangat dekat, sudah beberapa Gunung di pulau Jawa yang sudah ia daki salah satunya Gunung Semeru ini.

Waktu berjalan begitu cepat, memang waktu itu ialah peramu yang tidak ada obatnya ia bagai bom yang dapat meledak kapan saja perangainya membutakan manusia yang terleha-leha ketika menyia-nyiakan waktu. Dilihatnya jam dipergelengan kiri yang menempel gagah, jam sudah menunjukkan jam empat sore sudah hampir seharian mereka berjalan menyusuri barisan gugusan perbukitan gunung semeru, mereka tiba di Kalimati tapal batas tempat camp terakhir sebelum melakukan summit-attack menuju puncak. Mereka mulai membagi tugas, Danar dan Indra mulai mendirikan tenda sedangkan Danny mulai meramu rempah-rempah sayuran menjadi sesuatu yang bisa dimasukkan kedalam mulut untuk memberikan rasa kepada seisi perut dengan tumpahan yang bisa dikunyah habis oleh mulut sehingga mampu meluncur sempurna melewati tenggorokan jatuh begitu saja kedalam rongga celah perut yang sudah berdemo hendak perang. Beberapa menit kemudian aroma harum begitu menyengat menyentil hidung, aroma itu masuk kedalam dua lubang hidung yang menguap menjadi aroma yang begitu nikmat, ternyata aroma itu berasal dari masakan Danny, Danny memasak tumis daun kol diaduk rata dengan telur sebagai hidangan pertama sedangkan untuk hidangan yang kedua Danny menggoreng tempe dan bakso yang diselimuti tepung, memang menu kali ini cukup lebih baik dari pada kemarin, menggugah selera untuk segera menyantapnya.

Semua makanan sudah siap dimasak, nasi putih dituangkan kewadah piring berwarna ungu, mereka berkumpul didepan tenda beralaskan matras untuk menyantap makanan yang dimasak tadi, pekikan gahar perut sudah tak sabar untuk di isi. Mereka bertiga makan dengan lahap mengahabiskan makanan yang di masak oleh Danny, hingga suapan terakhir masuk kedalam mulut Indra. Selesai makan mereka kembali kedalam tenda mungil berwarna hijau dengan plasit berwarna hitam menyala yang hanya berkapasitas tiga orang, tenda tersebut kepunyaan Danar. Karena malam akan segera berlarut senyap perlahan mereka semua memutuskan untuk merebahkan badan didalam tenda beralaskan matras untuk rehat sejenak agar mendaki menuju puncak jam satu malam nanti jauh lebih baik lagi. Pada malam harinya para gugusan gemintang tidak begitu memancarkan keesoktisannya para bintang lebih cenderung menarik diri dari kawasan gunung semeru sang galaxy tidak mengizinkan para gemintang untuk muncul malam ini mereka harus menyerah pada kabut tipis yang mengaburkan pandangan. Mereka semua terlelap bersamaan dengan tetesan embun nalam yang membasahi ujung dedaunan menyatu sempurna dengan tanah.

Disaat malam sedang asik-asiknya bercumbu dengan gugusan bintang, tiba-tiba saja kejadian aneh terjadi, tenda mereka seperti ada yang menggoyang-goyangkan, plasitnya bergetar seperti gempa. Padahal angin sedang tidak deras menghampiri tenda mereka. Danny tersentak kaget dan terbangun "gempa-gempa . . ." sementara Danny tersentak kaget Danar dan Indra hanya membuka mata sebentar lalu tidur lagi, mereka berdua sudah tau kalau mereka sedang diiawasi jadi menanggapi hal seperti ini sudah biasa bagi Danar dan Indra.

Sementara Danny yang baru pertama kali bercengkrama dengan alam bebas tertegun kaget bukan kepalang, matanya menerawang apakah benar terjadi gempa, dilihatnya baik-baik ternyata tidak ada kejadian gempa, tidur lagi deh, pekikannya memutuskan untuk tidur dan terlelap untuk kembali menyatu bersama rengkuhan alam semesta.

Alarm dihandphone genggam milik Indra berbunyi keras jam sudah menunjukkan angka satu itu tandanya mereka semua harus bangun untuk summit attack menuju puncak.

"Nar bangun Nar," Indra menggoyang-goyangkan bahu Danar agar segera bangun.

"Dan, Dan bangun," Indra juga membangunkan Danny untuk segera sadar dalam mimpinya, Danar dan Danny sudah terbangun sambil mengucek-ngucek kedua bola matanya.

"Sudah jam berapa Dan?" Tanya Danar.

"Udah jam satu ni, yok ah muncak entar kesiangan kita sampai puncak,"
Mereka semua memepersiapkan perlengkapan dan keluar tenda. Seketika udara dingin masih saja bergelayutan dengan intim dengan beberapa pepohonan.

Resleting tenda mulai dikerat untuk segera bersiap mendaki menuju puncak, mereka hanya membawa satu daypack yang di kenakan oleh Indra, daypack tersebut berisi air minum, kamera milik Danar untuk mengabadikan moment, obat-obatan, snack atau makanan kecil untuk mengganjal perut selama diperjalanan, dari sini tapal batas dari sebuah pendakian akan dimulai, mereka bertiga berkumpul.

"Dari sini kita akan benar-benar mendaki, kuatkan fisik kalian terutama untukmu Dan," Indra membuka suara untuk menyemangati temannya.

"Maksud lo apaan Ndra?" sergah Danny.

"Jadi selama kita tadi belom mendaki namanya," Danny menimpali pernyataannya.

"Semua yang kita lalui itu belom ada apa-apaya ketimbang jalur menuju puncak ini Dan."

"Loe pasti bisa kok Dan," Indra kembali menyemangati Danny.

Indra membacakan doa agar pendakian kali ini dapat berjalan lancar, mereka menundukkan kepala sebentar, doa selesai.

Perjalanan dimulai pasir lembut bercampur batu menyambut kedatangan mereka, jalur pendakian Gunung Semeru memang sedikit sulit karena bercampur dengan pasir yang masuk kedalam sisi pinggiran sepatu, dingin mulai meremai kepada mereka yang berada dipunggung Gunung Semeru, tutup kepala dikatupkan lebih rapat, sarung tangan ditarik lebih merapat, pelataran bibir beserta hidung mulai menutup diri dari abu pasir dan dingin yang menusuk. Langkah kaki dipercepat, pasir yang cokelat membuat mereka tambun lambat. Kegelapan selalu menjadi teman akrab, selalu saja sang gemintang menang dalam menguntit dibalik kabut tipis yang turun, cahaya senter yang menyala menerangi secuil jalur pendakian yang sangat rawan dengan ketidak kokohan bebatuan.

"Gimana Dan?, masih sanggup."
Danar membuka suara.

"Gilak loe Nar, kayak beginian jalurnya, ampun deh, ampun gue kagak mau lagi gue kemari capek."

"Haha, nah loh, loe kok nyalahin gue, kan loe sendiri yang mau ikut karena kepengen eksis mencari photo profil sosmed loe."

Indra hanya tersenyum melihat kecandaan kedua temannya, Danny baru pertama kali mendaki gunung, ia iri melihat Danar ketika mengganti photo profil disosial media miliknya, sehingga Danny terpancing untuk ikut mendaki demi photo profil, Danny dan Danar sudah berteman lama semenjak mereka masuk dibangku kuliah pertama mereka sudah berteman akrab. Awalnya Danny itu orang yang membosankan bagi Danar, Danny yang tergila-gila pada dunia Teknologi Informatika dan robot membuat Danar muak ketika Danny sudah menyuarakan teori-teori endorphin aneh tentang robot dan Informatika.

Memang diakui Danar, Danny anak yang cerdas dalam akademik namun lemah dalam bersosialisasi ia lebih suka menyendiri di dalam Laboratorium kampus, hingga tahan berjam-jam mengerjakan robot mainannya, yang jelas Danny lebih pintar dari Danar. Danny lelaki berkacamata dengan kulit putih merekah, wajahnya yang seperti kebule-bulean dengan tinggi semampai hampir menengahi tinggi Danar, itulah segelumit tentang Danny yang tidak sengaja terjebur kedalam pendakian kali ini karena ingin selfie untuk photo sebuah profil sosial media miliknya.

Sampai harus menggerus keringat peluh menetes pelipis mata, diusapnya keringat yang mulai bercucuran.

"Yok semangat sikit lagi puncak," Indra memberi semangat kepada teman-temannya.

Semenjak si pagi belom siap menghembuskan udaranya, mereka masih saja berkelana menyusuri jalan setapak yang sedikit lagi sampai akhir dari sebuah pendakian, mereka beristirahat sejenak duduk diatas pasir coklat yang dingin sambil menikmati segelas kopi hangat yang dibawa dari bawah tadi.

Danny gemetar hebat ia mulai kedinginan hingga menusuk-nusuk seperti jarum yang menggeliat disekujur tubuhnya. Danar langsung bereaksi membawa Danny untuk menggerak-gerakan tubuhnya dengan terus berjalan, "Jangan terlalu lama berhenti Dan, entar loe kenak Hipo," Danar menasehati temannya yang kini sudah lebih baik agar tetap terus berjalan. Tak lama kemudian Indra sudah sampai puncak dan berteriak lantang kepada Danar dan Danny.

"Puncak . . . .!!!"

Sergah Indra yang sampai duluan menginjak puncak dari teman-temannya.

"Ayo Dan, sedikit lagi sampai dipuncak ada photo bagus yang menunggumu disana,"
Danar mengintai Danny agar ia tidak terjerembat didalam kedinginan. Deru nafas yang telah tersingkap menjadi momok yang berat untuk tetap terus bergerak. Walaupun begitu semangat yang tidak pernah pudar menjadi acuan tersendiri bagi mereka semua. Kaki yang lelah akhirnya memijakkan tanah tertinggi dipulau jawa yaitu puncak Mahameru puncak para dewa, puncak tertinggi di pulau Jawa, Danny tersendu sambil memeluk Danar, ia tak segan-segan menteskan air mata yang jatuh bertalu hingga kelabu, ia merasa bangga pada dirinya sendiri dan atas eksistensinya didalam pendakian ini.

Kini ia mulai mengerti betapa kita sangat membutuhkan orang lain, selama ini Danny selalu bekerja sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengerjakan semua tugas-tugasnya sendiri. Dahulu orang lain hanya penggangu saja bagi dirinya. Kini ia sadar hidup dan berkembangitu tidak bisa sendiri. Ia belajar rasa saling menghargai, ia belajar bagaimana rasa tanggung jawab terhadap orang lain dan yang paling terpenting ia belajar bagaimana caranya bersyukur dengan melihat gumpalan awan putih tersbut. Sudah cukup estetika kata-kata yang tidak akan mampu menjelaskan apa yang dialaminya. Hanya rasa dan aroma langsung terjun kependakianlah yang bisa menjelaskan bagaimana estetika tersebut menjadi nyata.

Danny semakin banyak tersadar bahwa ia merasa kecil disini merasa tidak ada apa-apanya ditempat ini, di puncak yang megah ini bukan lagi sekedar mencari sebuah foto profil tetapi lebih ke sebuah perjalanan spiritual kehidupan yang dahulu kurang baik dan berusaha merubahnya menjadi lebih baik.

Pelukannya terlepas air matanya ia hapus dan berjabat tangan sambil berpelukan dengan Indra.

"Makasih Ndra loe udah mengajarkan gue apa itu yang namanya persahabatan, apa itu yang namanya bersosialisasi, apa itu yang namanya saling tolong menolong dan menghargai terhadap orang lain. Dan buat loe Nar, Gue minta maaf karena belom bisa jadi sahabat yang baik buat loe, gue masih terlalu egois dalam diri gue sendiri, gue terlalu berambisi terhadap nilai dikampus, sekali lagi gue minta maaf sama elo Nar." Danny berkaca-kaca mengucapkan beberapa kalimat yang mengalir begitu saja dari remah-remah pesta pikirannya.

"Ya sudah jangan terlalu dipikirin kali Dan, gue mah santai aja kali, hahaha."

Mereka semua saling berpelukan, si Danny seorang manusia yang merasa memiliki dunianya sendiri kini tersadar akan arti sebuah hidup yang sebenar-benarnya. Memang di gunung semua keluh kesah bisa terlantun begitu saja disini, sifat dan sikap kita akan tampak jelas dan tingkah laku aslinya semua akan tampak di gunung, hanya saja dirangkum dalam ruang lingkup yang berbeda, mereka yang baru pertama kali mendaki gunung akan merasa muak dan terus mengeluh kapan sampai puncak, sama halnya dengan Danny yang selalu mengeluh akan puncak yang tak pernah tampak, namun kedua temannya sudah mengerti dan paham bagaimana sipat seseorang ketika pertama kali mendaki gunung.

Dilihatnya jam dipergelangan tangan sudah menunjukkan jam delapan pagi menandakan mereka segera harus turun, wedus gembel Mahameru mulai menyemburkan asapnya.

"Yok kita turun," ajak Indra segera.

Setelah beberapa jepretan kamera yang di ambil oleh Danar untuk mendokumentasikan view pemandangan yang waktu itu sedang bagus-bagusnya, tidak ketinggalan pula Danny exis didepan kamera Danar bergaya dengan seadanya. Mereka semua turun dengan cepat meluncur diatas bebatuan dan pasir, waktu turun jauh lebih cepat dari pada waktu naik. Sekejap saja mereka sudah sampai dikalimati dan beristirahat sejenak untuk beristirahat. Perut mereka masih merasakan kenyang dan tanpa pikir panjang Danny dan Indra menyiapkan segala perlengkapan untuk turun danau ranukumbulo. Mereka berjalan lamat-lamat, perlahan namun pasti untuk sampai ketujuan.

Danau Ranukumbolo menahan mereka untuk menginap satu malam lagi menikmati percikan malam memancarkan cahaya gemintangnya untuk di nikmati dengan duduk manis didepan tenda dengan segelas kopi hangat mengembulkan asap putih beraroma menawan yang di genggam sempurna oleh tangan kanan lalu diseruput sedikit demi sedikit merasakan aroma pahit bercampur sedikit manis.

"Oh Tuhan betapa nikmatnya duduk santai ditempat ini," Indra bergumam didalam hatinya.

Tidak henti-hentinya Danar dan Indra mengucap syukur atas pendakian kali ini, bukan hanya karena mereka selamat dari kerasnya alam bebas tetapi lebih kesebuah perjalanan yang dapat dipetik hikmahnya terutama bagi sahabatnya Danny, kini Danny jauh lebih bisa menerima orang lain dalam kehidupannya mulai untuk mempercayai orang lain dalam setiap kegiatannya, memahami persestensi akan sebuah hidup yang sebenar-benarnya dengan baik.

Kita ini hanya segelumit mahluk yang bernama manusia, kita berdiri dibumi pertiwi tanah tercinta, kemarin-kemarin gue pernah beranggapan untuk apa gue perduli pada orang lain, pada rakyatnya, pada pemerintahanya, gue merasa orang lain sebagai penghambat dalam hidup gue, tapi sekarang gue disadarkan oleh lo berdua yang senantiasa menenamni gue sampai puncak, tanpa kenal lelah membantu gue walaupun gue tau lo berdua udah pada capek bawa badan lo sendiri tapi masih sempat nolongin gue, gue terharu sama lo berdua yang sangat menghargai gue sebagai sebuah sahabat bukan sebuah peluang, karena gue dahulu beranggapan tidak ada yang namanya sahabat yang ada hanya kepentingan ternyata gue salah dalam hal itu lo berdua udah ngebuktiin ke gue bahwa tidak ada yang namanya kepentingan diantara kita. Coba saja ditelaah untuk apa kita harus capek-capek naik gunung, capek-capek bawa tas berat, tidak ada kepentingan didalamnya, tetapi setelah gue merasakannya sendiri terjun langsung bersama lo pada semuanya salah tentang persepsi gue, yang malah berlawanan dengan pikiran lo berdua entar setelah gue pulang dari tempat ini, tempat yang paling indah yang pernah gue kunjungi adalah gunung ini, gunung tertinggi di pulau Jawa.

"Selama hidup gue, gue akan merubah sifat buruk gue karena gue secara lumrah membutuhkan orang lain, Danny bercerita tentang hidupnya terdahulu yang merasa ego lebih besar dari pada orang lain."

"Syukur deh kalau lo udah sadar, karena gue malas juga nasehati lo mulu, otak lo itu bebal kayak batu dibilangi gak bakalan mempan deh kecuali ngalami sendiri langsung lo baru sadar," ucap Danar yang lirih kepada Danny.

Indra menyeruput kopi hangat yang digenggam tangan kanannya hingga masuk kemulut sambil mendengarkan dengan seksama percakapan kedua temannya.

Menikmati sejenak malam bertemankan ribuan bintang yang mengangkasa, gugusan orion terbentang luas tanpa batas, sampai akhirnya sang malam sudah berganti sift dengan sang siang turun sembari bergelayut. Keesokan harinya ketika matahari, angin, udara pagi dan segelas kopi berbaur dengan hangat.

Mereka mempersiapkan semua perlengkapan dan memutuskan turun lebih awal agar sampai di kota Yogyakarta tidak terlalu malam, bersamaan dengan jejak setapal sebatas kaki yang kian lelah untuk sampai didesa terakhir desa dingin desa Ranupane.

Desa yang menjadi awal dan akhir pendakian ini, menjadi tempat paling bahagia ketika para pendaki berhasil melakukan pendakian dengan sukses dan selamat. Dan sekaligus tempat untuk transit jip-jip penumpang para pendaki yang hendak kembali kekota, untuk itu mereka segera merapikan tas-tas kedalam jip untuk kembali kekota malang. Untuk pulang kerumah, melepas lelah dari pendakian kali ini. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik kali ini terutama bagi Danny. Ia mampu bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Komentar

Postingan Populer