Bab 1 : Sebuah Awal

Danar Mahendra nama lengkap lelaki tersebut, kini ia sedang berkutat dengan tugas akhir skripsi yang belum juga usai.
Sudah hampir empat tahun dia duduk dibangku kuliah tapi belum juga menyelesaikan studinya dengan baik. Terlalu banyak pemikiran pemikiran aneh yang datang menelusup didalam kepalanya itu. Seakan akan dia menjadi orang yang terlalu aneh untuk memikirkan hidupnya sendiri. Dia masih saja terperang dalam satu pertanyaan hidup yang tidak ditemukan jawabannya hingga sekarang. Pertanyaannya hanya sederhana, "Untuk apa dia hidup, apa tujuan hidup manusia sebenarnya?" banyak buku sudah dilahapnya tapi percuma saja, dia masih belum menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu. Pikirannya terus saja mengudara hingga entah kenapa ia bisa berpikir ;

"Bahwa mahasiswa sekarang ini sudah tak ditakuti lagi. Padahal dahulu mahasiswa digadang-gadang sebagai porosnya sebuah pergerakan. Tapi anehnya, mahasiswa sekarang hanya berlabel, 'Mahasiswa SNI (Standar Nasional Indonesia)' . Hebatnya pemangku singgasana kekuasan Orde Baru tetap bergulir dengan cara dan rasa yang berbeda. Mahasiswa diredam lewat bentuk lain. Suara mereka dibungkam dengan kurikulum aneh bin ajaib. Kurikulum yang menstandarkan mahasiswa: lulus 4 tahun! Mahasiswa hanya berkutat pada tugas-tugas yang diberikan dosen, tanpa harus bersifat aplikatif, semua teori-teori aneh atau melalui text book!.
Waktu mereka habis untuk menuruti semua keinginan dosen. Alhasil, mahasiswa tidak keritis, apatis terhadap isu nasional, dan boro-boro ingin melakukan sebuah pergerakan. Padahal mereka sebenarnya potensial untuk menjadi kaum kelas menengah. Tapi semua kegiatan mereka sudah dirancang seperti budak: Pergi kuliah, duduk didalam kelas, mengerjakan tugas dan pulang kerumah. Kalaupun ikut berkegiatan yang sekalipun berbau pemberontakan, napas mereka tak sedikit digunakan sebagai pengalih isu dan 'orang bayaran' kelompok tertentu. Benar-benar mahasiswa standar yang mengikuti skenario sehingga punya pola pikir standar pula. Setelah lulus 4 tahun, tak ada yang perduli! Dilempar begitu saja tanpa dipantau. Disuruh bertahan hidup sendiri, sampai mengemis pekerjaan yang bahkan bukan keahliannya. Sungguh ada rasa penyesalan ketika dulu ia memutuskan menjadi mahasiswa, tapi sekarang penyesalan itu hanya tinggal kabut yang masih saja mengaburkan pandangan".

Ada rasa kekecewaan kenapa ia masuk didalam dunia pekuliahan, padahal dahulu didalam pikirannya hanya ingin mandiri dan memulai segala sesuatunya sendiri. Itu semua atas kemauan Ayahnya. Ayahnya yang menginginkan Danar untuk tetap menjadi mahasiswa dan menyatu kedalam batasan pikirannya sendiri, ia tidak bisa membantah itu sudah menjadi keputusan final ayahnya. Mau tidak mau ia harus menuruti permintaan tersebut.

                                    ****

Danar kini tinggal di kota Yogyakarta. Kota yang identik dengan kota pelajar, kota sejuta seniman. Ia lahir dipinggiran desa dan dibesarkan dikota ini, sebahagian hidup berkembangnya ada pada kota tersebut, kota yang selalu menyimpan segala macam misteri terutama misteri bagi kehidupannya sendiri.

Ia tinggal dirumah yang cukup lumayan besar bersama kedua orangtua dan adik-adiknya. Wajahnya itu tampak begitu menawan dan tampan tentunya. Rambut sebahu hitam gondrong ia ikat kebelakang seperti kuncir ekor kuda, ia memiliki wajah oriental untuk lelaki seusianya, begitu mudah baginya untuk menarik simpati para kaum wanita dengan tampang tersebut, aura keperkasaanya selalu mengagumkan bagi wanita.

Dahulu Danar pernah memiliki sahabat kecil wanita dan entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu, mungkin sudah beberapa tahun. Banyak kenangan yang sudah mereka rajut bersama-sama. Ia mulai sedikit demi sedikit mengingat tentang gadis itu. Tidak banyak memori yang terekam sempurna tentang teman kecilnya tersebut, yang jelas ia pernah merasakan masa kecil yang indah dengan wanita itu. Terakhir kali mereka berjumpa ialah disaat mereka duduk di pematang hijaunya persawahan disamping rumah. Suasana yang pas untuk menikmati senja yang kian merekah memerah-merah, mereka berdua bercerita dan tertawa sendu bersama tanpa jeda hingga malam larut akan datang menyapa.

Nama gadis itu ialah Andini, sering dipanggil Dini. Dini kecil selalu menjadi anak yang periang, pintar dan rajin didalam sekolah tidak heran Andini sering juara satu dikelas mengalahkan kepintaran siswa-siswa yang lain. Peran penting Ayahnyalah yang membentuk Andini kecil menjadi begitu cerdas dan pintar, Ayahnya seseorang yang sangat disiplin. Maka dari itu Andini sering didik tegas oleh Ayahnya. Bagi ayahnya bermain hanya menghambat untuk belajar, kehidupan ini keras dan hanya dengan belajar ia mampu menjangkau kerasnya dunia.

Suatu sore ketika sedang asyik menikmati senja, Ayah Andini datang dengan memanggil-manggil menyuruh anak bungsunya itu untuk segera pulang.

Ayahnya selalu tidak menyukai kedekatan Danar dengan Andini, selalu saja ketika dirumah. Ayah Dini seperti kerasukan orang gila dalam memarahi anaknya ketika terlalu banyak bermain dari pada belajar, membentak-bentak dengan cara yang tidak wajar, kadang juga memukul dengan tanpa alasan yang pasti. Itu menandakan Ayahnya tidak ingin anak bungsunya menjadi orang yang bodoh, walaupun begitu Dini hanya bisa menangis dengan getiran air mata yang jatuh kedua belah pipinya.

Semua itu dahulu, ketika mereka masih mengenakan seragam putih merah. Hingga akhirnya pada suatu hari kedua orangtua Dini memutuskan untuk pindah ke kota, Ayahnya dipindah tugaskan karena naik jabatan menjadi pemegang saham perusahaan.
Sementara Danar tidak tahu menahu apa penyebab kepindahan Dini yang secara tiba-tiba. Dini tidak sempat mengucapkan salam perpisahan atau sekedar sapaan apalagi sebuah pelukan.

Ingatan Danar akan Dini mulai kembali bugar ia mulai skeptic terhadap semua kejadian yang pernah mereka lalui bersama. Danar mulai berkelana dengan imajinasi masa lampau yang indah bersamanya, di saat mereka tertawa lepas, bermain bersama hingga tidak mengenal lelah. Canda tawa menjadi salah satu pelengkap hari, berlari-lari menjadi olahraga yang begitu alami. Memang banyak moment yang tidak mudah untuk di lupakan hanya perlu untuk dikenang, maklum saja Dini merupakan teman yang teramat spesial di hatinya, teman yang selalu ada untuknya ketika sedih ataupun senang, begitu juga sebaliknya.

Mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama di pelataran sawah atau sekedar duduk santai di bawah pohon yang rindang, sampai lupa waktu hingga senja menampakkan sinarnya. Danar ingin sekali bereaksi ketika Dini di tarik secara paksa untuk pulang sambil memarahi-marahinya tanpa jelas arah. Danar hanya bisa berdiam diri tanpa bisa berbuat banyak sambil berdiri dan menggeram menggepalkan kedua tangan.

Ekspektasi dan harapan ingin bertemu kembali dengan Dini mulai menguat sembari menumbuhi rasa keinginantahuannya yang kini mulai terusik.

Ah, sudahlah suatu saat nanti pabila dipertemukan pasti dipertemukan walaupun jalannya terjal berliku, jika ia menemukanku maka kankudekap dia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaiku, sungguh puitis, pikirnya dalam lamunan hingga ia tersadar.

Hanya saja seperti ada kekosongan inpsirasi puzzle didalam rongga pikirannya, memang Dini kini menjadi sang misterius kekosongan ruang yang terdahulu hilang, entah sampai kapan ia masih memikirkan wanita itu yang tak jelas pandangnya, yang jelas ia masih memiliki rasa kerinduan yang teramat dalam terhadap gadis tersebut.

Danar memutuskan untuk hanyut dalam tidurnya agar pikirannya tidak jauh mengudara lagi. Dia mulai bermimpi, tentang gadis itu, seorang gadis yang dahulu begitu akrab dikenalinya, karena mereka adalah pertanggungjawaban yang manis bukannya sebuah peluang. Pengelanaan akan gadis tersebut belum juga usai, wajah kecil gadis itu mebawanya hanyut bersama mimpi-mimpi liarnya, ia memimpikan berjumpa dan bermain bersama walaupun mimpi tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan, paras itu tidak begitu jelas untuk dilihat, parasnya dibayang-bayangi keperakaan sinar cahaya universal yang membias cembung berbentuk horizon peristiwa abstrak. Memang pada dasarnya beberapa mimpi harus menjadi bunga tidur bukan untuk diwujudkan hanya untuk di jadikan penghias malam yang indah.

                                 ***

Manusia terbentuk dari impian tanpa itu kita hanyalah robot yang bergerak mengikuti hiruk pikuk dunia yang akan tenggelam bersama masyarakat dan sejarah, semuanya akan hanyut bersama mimpi-mimpi tentang kekosongan ruang dan garis waktu.

Ayam jantan merah yang bertengger di ranting pohon mulai berkokok menandakan pagi sudah datang perlahan, malam sudah berganti kedudukan dengan sang pagi, alarm mungil yang berada di atas meja samping tempat tidurnya sudah berbunyi keras, sampai-sampai Danar tersentak kaget. Disingkirkannya selimut yang menjadi peneman tidurnya yang lelap, ia berjalan ke jendela kamar lalu membuka tirai, langsung saja udara embun pagi langsung masuk menyapa tangan, siku hingga turun kehati. Ia tersenyum. Jam di alarmnya sudah menunjukkan pukul enam pagi, ia harus bergegas mandi untuk bersiap-siap memulai rutinitas hariannya. Hari ini tepat penghujung mei hari dimana satu minggu lagi ia akan melaksanakan ujian akhir semester yang akan ia jalani nanti.

Danar mempersiapkan segala keperluan kuliahnya, setelah semua selesai ia mengambil dan membuka-buka handphone dan beberapa jari-jarinya ikut menari-menari di layar touchscreen seperti membentuk sebuah irama yang menjadikanya satu.

Banyak ucapan selamat pagi dari wanita-wanita yang menaruh simpati padanya. Namun, Danar tidak menggubris atas ucapan tersebut, menurutnya semua ucapan itu hanya palsu bukan hanya itu yang palsu senyuman wanita-wanita yang menaruh simpati padanya juga palsu. Ia masih belum menemukan senyuman yang sebenar-benarnya. Danar sangat jeli dalam melihat sesuatu bahkan sangking jelinya matanya terkadang sampai sakit karena terlalu banyak menyapu pandangan kesesuatu hal yang tidak penting.

"Danar cepat turun, ayo sarapan!" satu suara teriakan Ibunya memanggil, memecah keasikan dengan handphonenya tersebut. Ibunya menunggu Danar yang sudah dari tadi sedang sarapan bersama anggota keluarga yang lain.

Setelah mandi dan berpakaian Danar menuruni tangga lengkap dengan baju kemeja yang jatuh sempurna dibadannya, ditambah stelan celana jeans hitam ketat mulus melewati paha dan kakinya. Sepatu cats putih converse lusuhnya selalu setia menemani. Ia langsung duduk dan mengambil sepotong roti yang di lapis selai cokelat diatas meja, segelas susu putih ditegaknya hingga habis, diangkatnya tangan kiri untuk melihat jam stanlis berwarna perak yang melingkar ditangan kiri.

"Hah sudah jam tujuh gawat aku terlambat," ia tersentak dengan wajah cemas.

Sementara kedua adiknya sudah berangkat sekolah setengah jam yang lalu. Danar langsung menuju bagasi dan mengeluarkan motor tua kesayangannya. Dia langsung berangkat dengan motor bututnya, ada nilai lebih yang terkandung di dalam motor tua tersebut, ia selalu menganggap motor itulah yang selalu ada untuknya, menemani kemanapun ia akan pergi, motor itu adalah warisan dari Ayahnya. Dan sangking sayangnya dengan motor itu Danar tidak berniat sedikitpun untuk menjualnya.

Motor tua tersebut berlabel CB-100. Motor yang memiliki banyak kenangan dari pada kesenangan. Motor yang sudah tua renta tapi masih kuat diajak jalan.
Motor tersebut juga dulu sudah menjadi teman berpetualang ayah dan ibunya. Sudah banyak gunung dan jalanan curam yang telah dilewati motor tua tersebut, nilai sejarah historisnya semakin membuat eksistensi sebuah moment, seni, masa lampau terajut dengan sangat baik dan indah. Motor butut itu berwarna putih mengkilat dengan liris merah ditangki menegaskan aksen klasik yang terkandung di dalamnya. Pernah suatu kali teman-temannya dikampus yang tidak tahu menahu akan perihal seni dan eksistensi sebuah barang klasik. Menatap dengan heran, "Kenapa motor tua masih aja dipake! Pantesnya dibututkan nar." Teman temannya tertawa dengan puas.

Mendengar cacian dari orang-orang tersebut ia hanya tersenyum malas tidak menggubrisnya sedikitpun. Dijelaskanpun percuma mereka semua tidak akan pernah mengerti lebih baik diam, bukan berarti karena mengalah tetapi karena kita menang, menang dalam arti lebih memahami dan menghargai sebuah sejarah dan eksksistensi akan pengalaman hidup terdahulu yang pernah terjadi. Apalagi itu adalah historis perjalanan hidup kedua orangtuanya.

Terlalu banyak dan mahal kenangan akan motor tua tersebut. Motor itu akan terus menjadi sahabat baiknya tidak ada niat sedikitpun untuk menjualnya kepada orang lain.

Itu semua tempo hari ketika ia pergi kekampus dengan motor tersebut tapi kini mereka yang mengolok-olok dengan tidak jelas, malah iri.

                                 ***

Danar mulai menelusuri jalan setapak dengan santai diatas motor bututnya, kemeja berlengan panjang berwarna merah yang digulung dengan sesiku semakin membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang, itulah keunggulan motor butut tua-tua keladi semakin tua semakin jadi. Dia terlihat tampan hari ini, memang setiap harinya ia terlihat tampan hanya saja hatinya sedang senang, entah apa penyebabnya, mungkin karena udara sejuk pagi ini yang bisa dengan puas dinikmatinya.

Motor tersebut sampai didalam parkiran kampus, deru mesin tersebut akhirnya berhenti, jeritan mesin jahatnya akhirnya berhenti. Danar langsung beranjak menuju kelas dengan berjalan pelan ke ruangan yang sudah mulai ramai disesaki oleh para mahasiswa.

"Hei Nar, kamu sudah siap tugas pak Anggar?" seorang teman wanita menyapanya dari belakang ketika ia hendak masuk kelas, wanita itu bernama Suci.

"Eh belom ci, yang mana ya tugasnya? Aku lupa."

Danar mengkerutkan keningnya, tanda merasa cemas karena kelupaan akan tugas tersebut.

"Astaga kamu ya, ini Nar, yang ini!" Suci menyodorkan secarik kertas sambil menunjukkan tugas tersebut, ekspresi wajahnya datar.

"Oh iya aku lupa aku baru ingat sekarang Ci. Kamu sudah siap ci?"

"Sudah dong, ya sudah kamu lihat aja punya aku."

"Bener enggak apa-apa ci,"

"Iya gak apa-apa kok Nar, santai aja kali."

"Oke Thanks Ci," Danar tersenyum hangat. Senyum itu palsu ucapnya dalam hati, namun karena ia belum siap tugas mau tidak mau ia mengerjakannya dengan cepat.

Tanpa pikir panjang Danar langsung mengerjakan tugas yang kemarin tidak sempat dikerjakannya. Danar begitu lupa dengan tugas kuliahnya karena tadi malam ia sedang asyik tenggelam dengan beberapa halaman buku yang ia baca dan kenangan akan Dini.

Suci adalah salah satu wanita yang mengagumi Danar, parasnya lumayan cantik dan pintar pastinya tapi bukan tipe wanita yang disukai Danar. Maka dari itu Suci dengan begitu ekstra untuk menarik simpati Danar, namun Danar hanya menggangapnya tidak lebih dari itu, dia menganggap Suci biasa-biasa saja.

Hari ini baginya tidak ada yang spesial baginya semua terlihat sama seperti hari-hari kemarin. "Adakah hal yang menarik bisa kulakukan hari ini!" Bisiknyan didalam hati. Hingga ia berpikir, demi membunuh kebosanan hari ini ia memutuskan untuk pergi ke toko buku yang berada dipinggiran kota, setelah jam kuliah usai nanti. Danar ingin mencari sesuatu dari pengarang yang sudah ia ingat judulnya.

Jam kelas akhirnya berakhir, ia kali ini beruntung karena ada Suci yang menyelamatkannya dari tugas. Kalau saja dia tidak menyelesaikan tugas tersebut maka karcis untuk masuk kedalam ujian semester akhir nanti tidak akan ia dapatkan, maklum saja dosennya sangat disiplin dan tegas terhadap tugas.

"Lo kemana hari ini Dan?" Ia berniat mengajak Danny, teman satu kelasnya didalam kelas.

"Gue ada kerjaan di Lab Nar, kenapa emang?" Tatapan Danny datar.

"Oh ya dah, lanjut deh. Niatnya sih Gue mau ngajak lo ketoko buku, tapi yadah gue berangkat sendiri aja."

Danar langsung menuju pakiran sementara Danny berjalan cepat menuju Lab. Ia langsung meluncur cepat ketoko buku yang tidak begitu jauh dari kampusnya berada, hanya berjarak beberapa ratus meter.

Motor tua tersebut membelah jalanan setapak, keriuhan angin pelan menerpa-nerpa wajahnya yang kusam akibat debu dan polusi.

Setibanya ia di toko buku, ia langsung menyeret langkah kaki untuk berkeliling dan menyisir keseluruh pandangan mencari apa yang dicari, sudah beberapa rak tumpukan buku-buku yang dilewatinya, tapi belum menemukan apa yang dicari, ia menelaah dengan serius tentang buku satu persatu.

Sehingga sangking seriusnya ia dalam mencari, tanpa sengaja Danar menabrak seorang gadis berkaca mata seketika gadis berambut sebahu itu jatuh kelantai beserta buku-buku yang dipegangnya, rambut sebahu gadis itu jauh menutupi bunga telinga dengan sempurna.

"Aduh!!!" Ucap gadis itu dengan lirih.

"Eh maaf mbak," ujar Danar yang sedang kebingungan.

"Iya tidak apa-apa kok," jawabnya santai yang terus refleks, membereskan buku. Sampai sesaat kedua bola mata mereka beradu, senyum gadis itu terukir indah, gerak-gerik tubuh Danar mulai tak normal ditambah lagi detak jantungnya yang tidak beraturan, saling tukar pandang terjadi, imajinasi mereka melayang seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru oleh ayahnya. Waktu terasa begitu amat lambat, lelaki itu membisu terdiam seribu bahasa, matanya tidak berkedip melihat gadis yang segera membereskan buku tersebut. Rambut sebahunya menutupi sebahagian wajahnya yang tirus dibagian dipipi, baru kali ini lelaki itu benar-benar merasakan hal yang sangat aneh didalam hidupnya untuk perihal hati. Sudah terlalu banyak wanita yang mengaguminya namun ia tidak menggubris semua wanita yang menaruh simpati padanya sehingga lebih memutuskan sementara untuk sendiri dari tetek-bengek masalah perasaan. Saat ini bukan karena takut patah hati karena patah hatilah semakin membuatnya berhati-hati, ia tidak ingin gegabah soal urusan perasaan.

Sampai-sampai ia pernah menulis di buku hariannya yang berisi; Untuk mendekati seseorang yang disukai membutuhkan waktu, namun aku tidak ada waktu untuk itu, aku lebih jatuh cinta pada dunia sastra dan segelintir hobiku, dari pada seorang wanita yang menyukaiku. Menurutku, sendiri lebih waras di jalani walau terkadang ada rindu yang menguntai datang tanpa permisi. Terutama ketika disaat melihat kawan-kawan punya seseorang yang di dampingi, ada tangan yang mereka bisa genggam sewaktu-waktu. Di kala hari sedang lelah-lelahnya dan ada bahu untuk bersandar dalam setiap harinya. Namun ia berpikir semua itu bushit atau palsu, tak lain tak bukan semua itu hanyalah nafsu sesaat belaka. Ia masih bersabar untuk tambatan hati yang benar dan sungguh-sungguh terhadap dirinya.

Ia pernah memiliki mimpi-mimpi gila yang tidak ingin lebih memilih nafsu alamiah untuk memiliki orang yang disuka, sampai kejadian tidak logispun harus dikerjakan untuk memenuhi nafsu tersebut.

Danar tersadar dari khayalan panjang melihat gadis didepannya tertunduk malu, tanpa memberi aba-aba apapun gadis tersebut pergi begitu saja meninggalkannya yang sedang terpaku dengan seribu macam khayalan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dunianya seakan berwarna seperti ada serpihan detik waktu yang tidak bisa di jelaskan oleh akal sehat, gadis itu sangat berbeda di matanya. Rasa penasaran itu mulai muncul didalam pikirannya. Siapa dia? relung hatinya berbisik samar.

Setelah menemukan buku apa yang telah ia cari, ia memutuskan pulang kerumahnya sambil bertanya-tanya siapa gadis itu. Wajahnya yang oriental menyentil hatinya yang ambigu, kulitnya yang putih mulus membalut tubuhnya yang anggun dengan sempurna.

Suara deru handphone berbunyi, dilihatnya dilayar handphone seorang teman kantornya bernama Hendra menyadarkannya dari lamunan. Langsung refleks tangannya mengangkat handphone tersebut dan ternyata dari redaksi berita swasta tempat ia bekerja.

"Hallo Nar, ada liputan ni tentang seorang pahlawan yang dilupakan di masa lampau, pahlawan tersebut ikut tergabung dalam gerakan supersemar waktu itu, mungkin sekarang umurnya sudah hampir 80 tahun, kamu bisa gak mencari dan mewawancarai pahlawan tersebut?" Hendra menjelaskannya secara singkat tentang pekerjaan yang di tawarkan ke Danar.

"Ok aku ambil kirimkan secara detail lebih lengkapnya ke e-mailku, KLIK," telephone di tutup.

Danar Mahendra selain berkuliah, ia adalah orang yang mandiri, ia membiayai semua kebutuhan pribadinya sendiri, semua itu ia dapat dari hasil pekerjaannya sebagai wartawan lepas yang tidak terikat terhadap kantor sehingga ia bekerja hanya apabila ada redaksi berita yang memerlukan jasanya untuk meliput, bahkan ia menerima meliput sampai pedalaman-pedalaman negeri yang tidak bisa diliput oleh wartawan lain. Ketika ia sudah meliput ia akan tahan hingga berminggu-minggu didalam hutan mengikuti langsung kehidupan masyarakat pedalaman dengan berbaur langsung di dalamnya. Kerena ia berprinsip ketika ia meliput sesuatu hingga ke pedalaman negeri tujuan utama bukanlah berita melainkan bersilahturahmi sebagai sesama manusia, bukan sebagai wartawan yang lengkap dengan camera yang hanya ingin meliput sesudah selesai dan pergi. Namun Danar tidak begitu, ia menyatu dengan masyarakat dan alam sekitar, hal itulah yang membuatnya di terima oleh masyarakat pedalaman. Ketika rasa saling mempercayai sudah didapat maka akan dengan mudah ia menjalankan tugasnya sebagi wartawan, tak jarang Danar sudah dianggap keluarga sendiri bagi penduduk pedalaman karena keramah-tamahannya. Hasil kerjanyapun sangat memuaskan ia menceritakan secara detail, jujur dalam berita, tidak menambah-nambahkan atau mengurang-ngurangi. Ia ingin lebih mengedepankan kejujuran bercerita didalam setiap laporan berita yang ia buat tidak seperti media sekarang yang hanya mengedepankan yang menjual dan komersil tapi tidak dengan isi beritanya.

Danar memang pada dasarnya begitu menyukai alam bebas, rasa cintanya itu ia dapatkan ketika memutuskan untuk mendaki gunung. Hal itu salah satu nilai lebih didalam pekerjaanya, ia akan serasa kecanduan pada indahnya puncak, senja di sore hari yang memancarkan keperakaan sinarnya mengikuti berputarnya kepingan Bumi, apalagi disaat serdadu awan berarakan gembira di bawah kakinya semakin ia jatuh cinta pada gunung dan alam semesta oleh Sang Maha Pen-Cipta.

Mulai dari situ ia semakin tertarik saja dengan semua-semuanya, alam sudah mengajarkan banyak hal padanya, berbagai rasa sakit ketika didalam pendakian yang membuatnya jengah ingin membuang carrier dipundaknya waktu dalam pendakian di gunung gede panggrango, gunung yang sering didaki para pendaki awam. Petualangan di gunung tersebut membawa makna yang sangat besar di dalam hidupnya karena waktu itu dia masih tidak terlalu banyak mengerti tentang dunia pendakian dan makna yang terkandung di dalamnya tidak seperti sekarang ini.

Dengan menapaki jejak di jalur pendakian yang terjal dan berlumpur sering membuatnya muak, rasa sakit dibahu akibat carrier besarnya terkadang ngilu yang teramat sangat, hingga kaki yang sudah tampak terasa lelah mengeram tak sanggup lagi untuk berjalan, ketika ia tertunduk dan terdiam di dalam rengkuhan hutan lebat yang hijau, ia menyadari akan batas dirinya sendiri betapa tidak berdayanya ia ketika berada dipuncak gunung.

Waktu itu dia hampir menyerah akan pendakian yang dilakukannya. "Apakah sampai disini kemampuanku untuk terus berjalan rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk berjalan dijalur ini, aku muak dengan jalur pendakian ini, aku ingin hingar dari sini, aku sudah lelah." Dia terdiam duduk dalam waktu yang cukup lama, hingga teman-temannya datang untuk menyemangatinya agar tidak mudah menyerah, perjalanan ini harus di selesaikan, motivasi dari temannya mulai merangsangnya untuk terus berjalan hingga batas akhir pendakian yang hanya beberapa jam lagi sampai puncak.

"Aku harus bisa mengalahkan diriku sendiri, aku harus bisa mengalahkan ego yang kubuat sendiri, akan kubakar dapur semangatku untuk sampai di puncak yang tidak mudah untuk dijalani." Semangat yang kuat dan eksitensi dari sesama pendakian yang membuatnya selalu kuat, setiap tempias senyuman mereka yang tidak bisa Danar elakkan, senyuman semangat yang dengan ikhlas menghiasi tempat indah ini. Hingga egonya yang kini menyatakan protes keras untuk tunduk dan mengadu kalah dengan dirinya, ego itu kini telah tertarik dan pelan-pelan akan musnah di dalam didirnya dengan pemandangan yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata, hanya bisa ia nikmati dan rasakan. Kearifan alam semesta telah mengubahnya menjadi manusia yang tangguh dan bijaksana.

Rasa sakit yang menderu dibahunya kini tidak lagi terasa, rasa sakit yang tadi sudah menyatakan protes keras kini diganti dengan semangat akan pemandangan serdadu awan putih yang bergelayut intim bersama angin.

Mulai dari puncak gunung ini ia mulai ketagihan akan puncak-puncak tinggi yang ada di Indonesia, jiwa petualangannya perlahan-lahan terasah dengan sangat baik, ia semakin matang saja di dalam setiap pendakian yang dilakukannya, baginya mendaki gunung tidaklah merugikan, walaupun ada beberapa biaya yang kata orang awam Mahal untuk dibuang dengan sia-sia, bahkan dengan mendaki gunung ia banyak belajar dari setiap sisinya dirinya sendiri, tidak masalah beberapa rupiah yang di keluarkannya untuk menjajaki gunung-gunung tinggi, baginya mendaki gunung adalah cara dia belajar memahami dirinya sendiri dan orang sekitarnya, karena ketika di gunung sifat asli seseorang akan tampak dengan jelas terlihat. Semua pelajaran tentang itu tidak akan pernah ia dapatkan di bangku sekolah ataupun dari wikipidia internet, maka dari situlah ia mulai menyukai hobi mendaki gunung.

Kenangan akan puncak-puncak tinggi dahulu semakin membuatnya rindu akan sejuknya udara yang menusuk, ataupun beberapa gumpalan awan yang meriuhkan keeksotisan alam semesta.

                                 ***

Ia bergegas berdiri dan mengambil sebuah buku bersampul cokelat. Dibukanya lembaran kertas selanjutnya terbentang sebuah kertas putih bersih yang masih kosong menunggu coretan dari pena yang dipegang tangan kanannya, ia mulai menuangkan sesuatu lewat sebuah pena tentang mimpi-mimpi yang ingin diraihnya untuk masa-masa yang akan datang salah satu mimpi gilanya ialah bisa traveling keliling Indonesia, melihat lebih dekat Nusantara dan menapaki setiap negeri yang belum banyak terjamah oleh manusia, mengabadikanya entah itu dalam sebuah buku atau dalam sebuah album photo. Mimpi tersebut sangat serius ia gagas mulai dari sekarang ini, ia mulai mengumpulkan pundi-pundi uangnya sedikit demi sedikit dengan usahanya sendiri, ada hasrat untuk melihat negeri sendiri karena bagaimana kita bisa mengenal sesuatu sementara kita tidak menegenal objeknya secara nyata, maka dari itu ia mempunyai mimpi untuk melihat Indonesia dari lebih dekat.

Hingga waktunya tiba ia akan pergi, lelaki kumal itu akan terbang bebas bak elang yang mengangkasa mengitari awan-awan biru membelah langit luas dan tenggelam ditengah dalamnya samudera dalam yang membiru. Setelah selesai dengan coretan-coretan usang, dihempaskan seluruh tubuh ketempat tidur untuk melepas penat sembari membaca Novel yang ia beli tadi siang. Danar hanyut didalamnya tenggelam pada setiap halaman. Danar tertidur pulas, dia tertidur seperti tidurnya orang yang telah mengalami penderitaan hebat, istirahatnya menjadi pelarian sekaligus penyembuhan kenangan akan gadis itu yang kadang tidak begitu penting muncul datang dan pergi silih berganti. Dia bangun pagi dan ingin menghabiskan akhir pekannya setidaknya satu kali saja dengan duduk diantara orang-orang yang membosankan sambil menahan gairahnya akan semangat hidup yang tak kunjung datang menghampirinya. Rasa gairah akan hidup yang di carinya masih belum di temukannya, setelah dari pendakian-pendakian yang pernah dilakukannya tersebut, kini ia lebih banyak terdiam diri dan termangun sepi untuk enggan akan semangatnya yang dahulu berkoar-koar, dari pendakian itulah ia banyak mengambil pembelajaran hidup, berbeda ketika ia sebelum mendaki gunung yang merasa sudah hebat dengan akan hidupnya yang sama sekali tidak tahu apa-apa akan persestensi hidup yang sebenar-benarnya, ia mulai merencanakan akan hidup yang lebih bermakna tidak terlalu arogan dan sok hebat dalam segala sesuatu hal, ia belajar untuk membunuh egonya yang sangat kuat. Ego itu kini berdampak buruk bagi dirinya sendiri, yang menjadi sangat angkuh terhadap para wanita yang menyukainya.

Dia pernah mencoba duduk bersama orang-orang yang membosankan sembari menyecap kopi hitam yang mengembulkan asap putih egois putus asa. Di lihatnya kopi hitam di atas meja, seperti kopi tampak hitam dan pahit ketika di rasa namun nikmat ketika di seruput, ia memerlukan penyesuaian hidup yang baru, ia mencoba bermigrasi hidup dari panggung sandiwara yang lama ke panggung sandiwara yang baru. Memanglah bukan hal yang mudah untuk bermigrasi namun dia yakin dan percaya pasti bisa ketika di cobanya asal jangan menyerah ketika dalam mencobanya, semangat tidak putus asa yang harus dia jaga sampai dia benar-benar mendapatkan ketenangan hidup sesungguhnya.

Komentar

Postingan Populer