Tiada Kembali Tiada

Kadang pernah terbersit ingin menginginkanmu.

Menjadikanmu tempat bersandar dikala aku lelah, sehingga aku tidak perlu susah untuk mencari bahu atau jemari untuk digenggam sewaktu-waktu.

Termasuk menginginkanmu untuk menjadi tempatku pulang.
Namun, lekas-lekas kugubris perasaan itu. Itu hanyalah mimpi dalam segala mimpi yang hanya akan terpendar untuk puisi atau imajinasi.

Cukuplah aku yang tahu bagaimana rasanya, kamu jangan.

Hidup memang aneh dan bahkan lucu, aku mendapati diriku membelah dirinya sendiri, kadang kalau tidak sadar aku sudah berada ditempat yang berbeda-beda.

Tapi menyenangkan aku menyukainya.
Betapa hebatnya imajinasi yang mampu mempetakan ingatan dalam keinginan.

 Sejenak aku berhening sepi dengan mengunci pintu kamar dan larut didalam ketiadaan. Hanya ketiadaan yang membuatku mampu melupakan segalanya termasuk ingatan tentangmu yang kadang datang tanpa permisi atau mengetuk dahulu pintu pikiran untuk masuk.

Kini semesta juga tahu, kau masih tegar seperti dahulu.

Termasuk para gemintang berwarna kuning mungil yang mampu kugenggam. Warnanya cantik dan indah. Sama seperti warna senja namun kali ini lebih terang sedikit. Yah mungkin kamu seperti bintang itu didalam imajinasiku, cukup terang benderang diatas langit malam yang begitu luas.

NB : Maaf pikiranku sedang kusut jadi baru mampu menulis ini, kopiku saja sudah hampir habis satu gelas penuh.

Komentar

Postingan Populer