Semangat Menjemput Jodoh
Perkenalkan namaku hafiz, lebih lengkapnya yusuf hafiz. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, aku memiliki kakak perempuan dan adik perempuan. Kakak pertamaku sudah menikah, sementara adikku masih duduk dibangku SMA.
Aku berumur 25 tahun, aku sudah bekerja disalah satu perusaahan dikota ini. Walaupun penghasilanya tidak seberapa tapi itu cukup untuk membiayai hidupku dan keluargaku kelak. Maklum saja aku masih melajang didalam usia yang sudah mapan untuk berumah tangga.
Tapi ada hal yang menghalangiku dalam berumah tangga. Aku tidak memiliki pacar, aku sudah lama tidak merasakan nyamannya bahu wanita untuk bersandar, jemari yang bisa kapan saja bisa digenggam, atau sapaan kata sayang dari wanita. Aku sudah lama tidak merasakan hal itu, aku sudah menangguhkan semuanya dengan selalu bersandar pada apa yang aku yakini. Aku berjanji dengan selalu beristiqomah dengan apa yang aku pegang, tak luput pula serangkaian doa dalam setiap harinya kupanjatkan agar mendapatkan jodoh yang baik. Aku percaya jodoh itu kita sendiri yang menentukannya, dan jodoh itu bukan dicari tetapi dibentuk, salah satunya mengkualitaskan diri sendiri agar jodoh yang diinginkan juga mengkualitaskan diri dalam segala hal apapun. Bukankah orang baik bersama orang baik pula, dan aku berharap hanya pada-Nya, yang bisa menopang keluh kesalku didalam keadaan apapun.
Sampai pada suatu ketika aku berjumpa dengan salah seorang wanita yang tanpa sengaja berjumpa disaat aku tengah menempuh kuliah dahulu, kami berteman lama dan seperti teman baik.
Lama kelamaan rasa untuk memilikinya mencuat, rasa untuk menikahinya sudah sangat pantas untukku, dan kutanyakan padanya langsung. Dia mengiyakannya, betapa bahagianya diriku waktu itu. Tanpa pikir panjang aku langsung datang kerumahnya untuk langsung berbicara pada ayah dan ibunya.
Hari itu hari minggu masih pertengahan september, hujan masih betah menggenangi beberapa pelataran bumi, bahkan sampai membanjiri daerah yang dihampirinya. Hujan deras mengguyur atap rumahku, jam masih menunjukkan pukul 9 pagi, hujan masih betah bercokol dan menerpa pelataran rumah. Padahal hari ini aku akan pergi kerumahnya, untuk berjumpa dengan ayah dan ibunya, aku berencana pergi sendirian, tanpa didampingi ayah dan ibuku, tak mengapa aku bisa sendiri menurutku toh niatku baik dalam bertamu kerumahnya, walaupun hasilnya belum tentu sebaik itu. Aku sudah memantapkan mentalku untuk melamarnya dan mempersuntingnya untuk diriku sendiri. Aku masih menunggu hujan reda, yang sedari tadi masih betah mengguyur, hujan itu rahmat bagi yang paham dan bagi orang yang pandai bersyukur.
Kulihat awan mendung dengan sangat indah menjatuhkan hujan dibumi ini, aku meyakini segala sesuatu itu baru, termasuk diri kita sendiri, segala sesuatu itu hidup ketika kulihat dan mengalir seperti air. Segala unsur yang ada dibumi itu ada juga pada kita.
Aku duduk santai dengan mengecap segelas kopi hangatku, kulihat jam dipergelengan tanganku sudah menunjukkan pukul 1 namun hujan masih betah meringsek nyaman menggugurkan airnya. Sampai hujan mulai mereda, dan aku bersiap-siap untuk kerumahnya, aku sudah tahu dirumahnya dan langsung beranjak pergi dengan mental sekuat tenaga.
Setengah jam telah berlalu, aku sampai didepan rumahnya, genangan air sisa-sisa hujan masih betah menggenangi, aku langsung masuk setelah disambut oleh ibunya, ibunya sudah mengenalku dengan baik, ibunya ramah terhadapku dan akupun ramah kepada ibunya tapi ayahnya sepertinya kurang simpati kepadaku, aku tetap berpikir positif, aku duduk diruang tamu sambil ditemani gadis itu.
Gadis itu bernama laras, ia berumur 23 tahun, lebih muda dia dari pada aku, kami hanya berbeda 2 tahun. Kuakui laras gadis yang baik dan cerdas segala pemahaman dan pemikirannya membuatku kagum. Apalagi ketika kami berdialog dengan membahas sesuatu ada saja hal yang menarik bisa dipetik, aku merasa laraslah yang pantas untuk pendamping hidupku.
Setelahnya, bapak dan ibu laras duduk diruang tamu rumahnya, mereka duduk didepanku dengan muka santai dan rileks, langsung aja aku menjelaskan aa maksud dan tujuanku datang kemari dengan baik.
"Begini pak, maksud kedatangan saya kemari ialah saya ingin mempersunting anak bapak yang bernama laras, untuk saya halalkan menjadi istri saya. Bagaimana menurut bapak?" Tanyaku langsung kepada bapak tersebut.
"Kamu bekerja dimana?" Tanya bapak laras dengan ekspresi datar sambil menyenderkan badan disofa warna cokelat.
"Saya bekerja disalah satu perusahaan pak, bagian keuangan," jawabku dengan santai.
"Gaji kamu berapa perbulan?"
"Sekitar 3 juta rupiah pak."
"Apa alasan kamu ingin melamar anak saya?"
"Laras itu cerdas dalam pemikiran dunia, dan bijaksana dalam setiap tindakan.
Ada perasaan cemas yang menghampiri lelaki itu. Perasaan takut ketika wanita yang sudah mulai dicintainya tidak direstui orang tuanya.
"Oke baiklah, kamu sediakan 40 Juta untuk melamar anak saya."
"Apakah itu tidak terlalu berlebihan pak?"
"Oh jelas tidak, saya sudah bersusah payah dalam membesarkannya, dan menguliahkanya sampai gelar sarjana. Kamu tahu berapa biaya dia dalam kuliah sungguh banyak saya mengeluarkan uang untuk menguliahkannya, saya rasa dengan dana segitu cukup tidak besar."
"Kalau hanya begitu pemikiran bapak saya tidak memiliki uang sebanyak itu pak. Uang saya hanya ada 25 Juta."
"Tidak bisa itu mana cukup untuk perlengkapan pesta untuk biaya ini itu yang sekarng sudah semakin mahal."
"Apakah tidak ada jalan lain pak selain mengurangi biaya pernikahan?" Lelaki itu sedikit mengkerut senyumannya.
"Tidak ada, kalau kamu tidak sanggup silahkan kamu pulang dan kembali lagi kalau sudah punya uang yang cukup."
laras mulai sedikit khawatir dengan pemaparan bapaknya. Orang tua laras tidak terlalu memahami ilmu agama, bapaknya yang sangat jauh dari Tuhan lebih mementingkan kehidupan duniawi, secara tidak langsung bapaknya mematok harga yang tinggi sama saja seperti menjual anaknya. Sangat perhitungan dalam hal segi apapun. Orang yang dari agama selalu diikuti oleh kecemasan yang berlebihan.
"Oke kalau tidak ada pilihan lain. Saya akan terima persyratan bapak. Asal dengan beberapa syarat dari saya"
"Apa syaratnya?" Ucap bapak tersebut.
"Apakah laras fasih dalam mengaji? Apakah laras baik dalam sholat? Apakah laras paham dalam beberapa hal ilmu agama?"
bapak itu tertegun diam sambil menelan ludah.
"Bagaimana pak? Kalau memang laras fasih dalam mengaji dan bagus dalam membaca al-quran. Saya akan rela melamar anak bapak dengn harga 50 juta. Dan bagaimana dengan sholatnya? Apakah dia baik dalam sholat? Kalau ia baik dalam sholat, saya akan dengan rela dan bekerja lebih giat lagi untuk melamar anak bapak dengan harga 70 Juta. Itu masih hal sholat dan membaca al-quran. Apalagi ketika anak bapak hafiz dalam al-quran saya akan pulang dan bekerja lebih giat lagi untuk benar sebenarnya melamar anak bpak dengan harga 90 Juta."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Karena jujur saja, bapak seperti menimbang-nimbang harga untuk anak bapak. Anak bapak itu bukanlah barang yng ingin diperjual belikan. Saya bisa membuat nak bapak jauh lebih baik dari ini. Asal anak bapak menurut dan mau saya bimbing kejalan yang benar. Ia adalah aset untuk anak saya nanti dan untuk cucu bapak juga. Kalaulah orangtuanya baik pastilah anaknya juga baik karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya."
Bapak tersebut hanya terdiam dan tidak bisa berbicara.
"Kalau begitu saya pamit dulu pak, asalamualaikum"
lelaki itu pergi dengan begitu saja, ada rasa kejengkelan kepada bapak tersebut. Sementara laras malu dengan keadaan dirinya yang dengan tidak begitu baik dalam mengkualitaskan diri.
keesokan harinya, lelaki itu bangun pagi dan mulai bekerja seperti biasanya. Harapannya telah pupus untuk menikahi laras. "mungkin tidak jodoh pikirnya." Namun sekenario Tuhan berbicara lain. Suara handphone lnua berbunyi dan itu laras. "Kamu disuruh bapak lusa nanti untuk membawa orangtuamu dan menikahi aku, kita jadi menikah bapak sudah memikirkannya."
Lelaki itu bahagia bukan kepalang. Ada rasa haru dalam dadanya dia merasa Tuhan telah mendengan segala macam doanya disepertiga malam dalam sujudnya dan merapal doa yang entah keberapa kalinya.
"Oke baiklah. Assalamualaikum."
"Waalaikumusallam."
mereka berdua benar-benar menikah dan mulai merajut tali rumah tangga bersama-sama.
Ada banyak hikmah didalam mencari jodoh salah satunya kisah ini yang bagaimana seorang lelaki bersabar dalam mengkualitaskan dirinya. Dan berbuh manis pada akhirnya, kualitaskan saja diri sendiri perihal jodoh berdoa dan tetap bersemangat dalam menjemputnya.
Komentar
Posting Komentar