Rasa Yang Tidak Terduga

Telah terjadi pertikaian hebat, dilantai dua gedung bank mentari. Ada seorang perampok yang hendak merampok bank. Namun, digagalkan oleh seorang pemuda yang kebetulan berada disana. Pertempuranpun terjadi, tanpa seorangpun yang membantu. Lelaki itu dihajar habis-habisan oleh sang perampok, lelaki itu membalas pukulan. Pukulan itu mengena dibagian wajah. Wajah perampok seketika mengularkan darah. Darah bertebaran dilantai, sampai penutup wajah yang dikenakan perampok tersebut terlepas. Perampok itu mengeluarkan pisaunya setelah sebelumnya menggunakan senjata api. Kini senjata apinya tidak tampak setelah direbut paksa lelaki itu hingga senjata api tersebut terlempar keluar jendela. Jendela kaca yang berukuran tiga kali empat tersebut pecah begitu saja, hingga akhirnya pria itu terjatuh akibat dorongan sang perampok. Perampok itu lari dengan secepat yang dia bisa. Sementara lelaki itu terdiam  tersungkur tak berdaya dipinggir jalan protokol.      "Jangan diangakat, seluruh tulangnya patah, kita tunggu saja ambulane" ucap seorang pria tua yang mengenakan jas hitam rapi datang menghampiri.      Si lelaki kumal ini sedang tersungkur tak berdaya tersungkur dipinggir jalan. Semua tulang dibadannya terasa remuk Ia sedang merasakan kesakitan yang hebat akibat perkelahian tadi. Rasa sakit itu tidak habis-habisnya terus menghampiri dirinya. Tidak ada yang bisa membantunya, banyak orang yang sudah datang hilir mudik silih berganti ingin membantu dengan senang hati. Namun hasilnya nihil. Ia hanya terkapar lemas tak berdaya setelah jatuh dari lantai dua gedung bertingkat tersebut. Mungkin hanya dokter yang bisa membantunya. Seluruh tubuhnya remuk patah tiga empat atau mungkin lebih. Kerumunan semakin mendekat banyak orang yang datang penasaran ingin melihat. Ia sedang tidak sadarkan diri. Namun denyut nadinya masih bergetar pelan.    "Tolong panggil ambulance," teriak wanita paru baya yang sudah berada disampingnya.     Sekelabat kemudian ambulance datang seorang petugas memberinya obat bius penawar rasa sakit sementara dan ia diangkat keambulane untuk dibawa kerumah sakit. Sang wanita datang mengikuti yang langsung masuk keambulance. Lelaki itu langsung dibawa masuk kedalam ruangan operasi ada beberapa bagian tubuhnya yang harus dioperasi. Setelah beberapa menit yang mematikan berlalu,  operasi selesai    "Anda pacarnya pria itu?" Sapa dokter yang baru keluar ruangan operasi.      "Bagaimana keadaannya dok?" Apakah dia baik-baik saja?" Wanita itu meringkis sedikit cemas dan khawatir.       "Syukurlah dia baik-baik saja hanya beberapa bagian tubuh yang cedera dan retak. Kalau terlambat sedikit saja mungkin dia tidak akan selamat."      "Syukurlah, emm saya bukan pacarnya dok, saya hanya ingin membantunya."     "Oh begitu kemungkinan sebentar lagi dia sadar." Rumah sakit itu memberikan kontribusi yang baik kepada pasien termasuk pada lelaki tersebut dan juha pelayanannya yang begitu memuaskan.Hingga beberapa saat kemudian lelaki itu sadarkan diri, ia meringkih kesakitan. Wanita itu datang menghampiri ranjangnya.    "Kamu baik-baik saja?" Ucap wanita paru baya yang sudah berada disamping ranjang pria itu. Lelaki itu sudah siuman dari pingsannya.    Iya tersenyum "Hanya beberapa tulang yang patah."     "Syukurlah kemungkinan kamu akan cepat membaik."     "Terima kasih sudah menolongku."    "Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu?"    lelaki kumal itu menceritakan semuanya, mulai ia menghajar penjahat yang ingin merampok bank, sampai dia terjatuh dari lantai dua bank tersebut.    "Jiwa kamu luar biasa, jiwa seorang pahlawan" ujar sang wanita sambil tersenyum.      "Eh iya aku harus ada pekerjaan lagi, ini no teleponku. Kalau ada apa-apa kabarin aku. Nanti kemungkinan setelah aku pulang kerja aku akan menemuimu lagi."     Lelaki itu hanya tersenyum sembari menyertai kepergian wanita tersebut.     "Febi sadewi" nama itu tertera dikartu nama tersebut lengkap dengan nomor telepon dan alamat rumahnya. Wanita yang baik menurutnya. Beberapa saat kemudian dia menelpon mamah dan papanya.    "Hallo mah, aku berada dirumah sakit sinar sehati, mama bisa kemari aku dirawat disini."    "Hah apa!!! Kenapa kamu bisa dirawat disana apa yang terjadi? Ya sudah mama dan papa akan langsung berangkat kesana.     Sekelabat kemudian papa dan mamahnya datang menjenguknya. Papah mamahnya sangat kahawatir.     "Apa yang terjadi sama kamu?" Ekspresi mamah dan papahnya cemas melihat anaknya tergeletak lemah tak berdaya dirumah sakit. Lelaki kumal itu menjelaskan semuanya apa yang telah terjadi padanya sampai ada seorang wanita yang menolongnya ia beritahu.      "Syukurlah kamu baik-baik saja,"      Hari semakin sore, yang menungguinya hanya tinggal mamahnya saja, sementara papahnya harus kembali kekampus untuk mengajar. Jam dinding rumah sakit sudah menunjukkan pukul lima sore. Tiba-tiba saja, seseorang masuk dengan membuka bunga pintu, seketika pintu itu berbunyi berdesis pelan. Tampaklah seorang wanita anggun yang menawan, rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi roknya yang panjang hingga selutut serta kemeja putih terbungkus dengan rapi oleh pakaian yang lain. Wajah orientalnya yang cerah merona mengukir senyuman yang sangat hangat. Siapa saja yang melihatnya akan terkesima.    "Permisi," gadis itu masuk dengan perlahan sambil menyalami mamah pria itu. Dan memberi senyuman terhangat untuk mereka berdua.     "Ini wanita yang kuceritakan tadi mah."    "Wah cantik ya." Mamahnya tersenyum menyambut hangat. Langsung saja wajah gadis itu kemerah merahan merasa malu merasa dipuji.     "Eh ini tante saya bawa buah-buahan."    "Eh iya terima kasih, selain cantik baik lagi, kalian teman lama atau bagaimana?"     "Enggak ah tante saya menemukan dia tergeletak dipinggir jalan dan saya tadi pagi hanya membantunya hingga membawa dia sampai kemari."     "Sekali lagi tante berterima kasih sama kamu."     "Kamu baik-baik saja?" Gadis itu mendekati ranjang lelaki yang tergelat tak berdaya.       "Sudah jauh lebih baik dari tadi pagi," sebuah senyum hangat dilemparkan begitu saja pada wanita itu.         "Oh iya kita belum sempat berkenalan." Gadis itu menyambut tangan lelaki itu.        "Tama" lelaki itu menyebutkan sebuah nama. Lelaki yang tampilannya sedikit urakan itu merasa hatinya berbunga-bunga ketika sudah ditolong seorang gadis yang cantik dan menawan.      "Febi, Febi sadewi." Febi tersenyum manis.      "Iya sudah tahu,"       "Oh iya tadi akukan memberimu kartu namaku." Febi tertawa renyah. Mereka tertawa hangat bersama-sama.      Tiba-tiba saja Televisi dinyalakan mamah Tama, dan "breaking news, bahwa perampokan yang terjadi tadi pagi disalah satu bank mentari sudah ditangkap pelakunya. Semua kejadian tadi pagi terekam kamera CCT polisi langsung membekuk sang pelaku, dan untuk pahlawan yang dengan sangat berani pihak polisi mengucapkan terima kasih walaupun entah dimana kini dia berada."      "Wah kamu masuk TV." Sergah mamahnya dengan gembira.     "Untung saja aku tidak mati, padahal dengan sekali pukulan saja perampok itu bisa aku lumpuhkan mungkin nasibku saja yang kurang baik."       "Sudahlah yang penting kamu selamat. Oh iya aku harus pulang cepat, aku duluan ya. Tante aku pulang duluan, nanti kalau aku ada waktu aku kemari lagi." Febi bergerak dengan cepat meninggalkan rumah sakit dan sampai di apartemennya yang tidak terlalu besar. Dia masih terkagum-kagum dengan jiwa kepahlawanan pria itu.                                              ***Setelah seminggu dirawat dirumah sakit tersebut, ia diperbolehkan untuk pulang. Walaupun belum sembuh total, Tama bisa beristirahat dirumah, ia sudah berada sangat bosan ketika terus berada dirumah sakit. Tama mulai menggerak-gerakkan tubuhnya secara perlahan dan mulai merilekasasikan seluruh tulang-tulangnya agar uratnya mengalir dan berada pada tempatnya. Dia termasuk seorang yang hebat ia salah satu pemegang medali emas bela diri karate dikampusnya. Kemarin hanya ia mungkin sedikit sial kalau tidak sudah bebak belur perampok tersebut dibuatnya.      "Gadis itu tidak ada menghubungi kamu lagi?" Mamahnya datang membawa susu putih dan Tama langsung meminumnya.       "Semenjak aku pulang dari rumah sakit tidak pernah mah, cuman aku masih menyimpan nomornya sih."      "Hah pas banget minggu depan kakak kamukan menikah. Ajak dia ya, undang dia datang kerumah kita."      "Ya udah entar deh aku hubungi mah."        Malam harinya suara telepon tiba-tiba saja masuk kehandphone Febi. Lalu dia mengangkatnya.    "Halo, siapa?"    "Ini aku Tama, kamu masih ingat?"    "Oh kamu, iya aku ingat, bagaimana lukamu sudah baikan?"     "Ya syukurlah sudah sedikit baikan. Eh iya kamu minggu depan ada acara?"      "Sepertinya tidak ada, memang kenapa?"      "Mamah menyuruhku mengundangmu diacara pernikahan kakak perempuanku. Kamu bisa datang? Aku yang jemput kamu."      "Oh hebat, ya baiklah aku akan datang. Tapi tidak usah dijemput kasi tahu saja alamat rumahmu dimana. Aku bisa datang sendiri."       "Oke ini alamatnya, jalan merpati perumahan gran semesta. Kamu tahu?"      "Oh disitu iya aku tahu, aku akan datang."       "Oke bye."       "Oke bye." Telepon ditutup. Beberapa minggu kemudian pesta berlangsung Febi datang pada malam harinya sendirian. Setelah ia memarkirkan mobilnya, dia masuk perlahan. Febi tampak menawan dengan tampilan gaun berwarna merah, dia bak seorang putri bidadari yang hendak berjumpa dengan sang pangeran semua mata pria tertuju padanya ketika dia mulai memasuki area pesta. Tama langsung datang menyambutnya dengan senyuman hangat, mereka berdua jalan berdampingan dan bergandengan tangan ditengah keramaian orang banyak, suara alunan musik mengiringi mereka yang berjalan dengan perlahan.      "Kamu tampak luar biasa malam ini, begitu cantik."     "Kamu juga sangat tampan malam ini." Mereka menaburkan senyum yang merekah rekah.      "Mah pah, ini Febi." Tama memeperkenalkan Febi dengan resmi kepada papa dan mamahnya. Papa dan mamahnya tersenyum"Kamu cantik sekali sayang."     "Ah tante bisa aja," Mereka semua berbincang-bincang dengan hangat.      "Maukah kau berdansa denganku," Tama menarik Febi dan langsung mereka berada ditengah lampion lampion cantik, berwarna warni suara alunan musik halus dan lembut mengiringi. Banyak orang yang berdansa dengan pasanganya termasuk mereka berdua. Ada rasa yang tidak pernah mereka rasakan diantara mereka berdua. Rasa yang tumbuh begitu saja. Rasa yang datang tanpa diduga-duga.      "Kamu sudah punya pacar?" Tanya Tama masih dalam irama dansa.     "Aku sudah lama tidak mengenal pacaran."      "Kenapa begitu?"       "Aku pernah dikecewakan, dan pernah diangung-angungkan ketika aku merasa dialah pasangan hidupku, seketika saja aku dihempaskan jatuh terurai pecah berkeping-keping."       "Berarti sama dong sama seperti aku jatuh kemarin. Sakitan yang mana?" Tama tertawa renyah. "Aku suka wangimu malam ini sungguh menentramkanku."       "Ah kamu bisa aja, sudah pasti sakitan kamu secara fisik. Tapi perihal hati sudah pasti aku lah."        "Kalau ada seorang pangeran dan menginginkan kamu menjadi istrinya bagaimana?"        "Lihat pangerannya juga bersediakah dia menerima gadis yang biasa-biasa ini untuk jadi istrinya?"       "Bagaimana kalau kamu jadi pacarku?"       "Kamu serius?"       "Iya aku serius kenapa tidak?"        "Bagaimana dengan kuliahmu?"        "Tahun ini aku tamat, Dan tahun depan kita bisa menikah. Bagaimana menurutmu?"        "Emmm enggak ah nanti aku jatuh lagi, kamu aja bisa jatuh gimana entar jagaain aku," Febi tertawa sambil merangkul bahu Tama. Mereka masih tenggelam bersama alunan musik pesta malam yang indah.      "Kamu membuat aku grogi?"     "Hihi ah masa iya, iya deh pangeran aku sabar kok menunggu satu tahun lagi."      "Jadi kamu bersedia?"      "Iya." Mereka berdua tertawa bahagia. Menyenangkan hati dan pikiran, Tama tak menyangka Febi akan menerimanya.                                ***Satu tahun kemudian mereka melangsungkan pesta pernikahan. Dan mereka hidup bahagia. Sampai mereka memiliki anak, dan Febi hanya mengurusi anaknya. Sementara Tama sudah menjadi dosen pengajar ditempat papahnya dahulu mengajar. Selain mengajar Tama juga menjadi manager disalah satu perusahaan pamannya. Begitulah ketika hati yang baik dipertemukan dengan baik pula, hanya hati yang ikhlas menolonglah yang memenagkan peperangan hebat perihal jodoh dan nasib. Karena orang baik-bersama orang baik, orang tidak baik bersama orang tidak baik.                                

Komentar

Postingan Populer