Melerai Jarak

Tiba-tiba saja waktu berputar dengan sebegitu cepat, banyak kisah yang akhirnya kita mirip-miripkan. Dan kau percaya barangkali sudah menjadi rencana semesta. Semesta memiliki perjalanan penting didalam hidup semua manusia. Kau tahu rasanya dicampakkan dan temanmu juga tahu bagaimana rasanya dikhianati. Jam-jam berdetak mengelilingimu, seolah-olah kaulah yang menang dalam perseteruan asmara yang tiada akhir. Kau meyakinkanku sesuatu, perihal jarak dan waktu bukanlah penghalang rindu. Itu bisa diatasi dengan aktivitas disegudang sosial media. Namun kau tetap kekeh dengan pilihanmu yang memilih pergi dengan orang lain. Lebih tepatnya sahabatku sendiri. Orang yang diam-diam telah memintamu menjadi bagian hidupnya. Dia tega menyatakan hal yang terlarang untuk kita kepadamu. Dan kaupun mengkhianati dengan menerimanya. Padahal kita telah mengorbankan banyak hal demi rencana-rencana yang sudah kita tetapkan bersama-sama. Segalanya berakhir tragis hingga menumpahkan tangis. Dulu sebelum ada kamu, aku tidak pernah seterbengkalai ini. Kehidupanku merasa baik-baik saja. Aku menikmati segala macam hobiku, pergi traveling dengan destinasi kemanapun yang kumau. Tetapi ketika ku mengenal cinta dan tetek bengeknya semua berubah. Kau menghanyutkanku, tenggelam kedalam samudera terdalam, terangkat kepuncak gunung yang paling tinggi. Kau merubahku menjadi manusia melankolis. Rasa kebebasanku perlahan hilang. Padahal waktu itu hatiku sekeras batu. Aneh memang cinta mampu membuat pria dengan hati yang sekeras batu berubah menjadi semelankolis debu. Begitulah semesta yang tidak pernah kutahu jawabannya. Aku akan menghilang darimu, menghilang dari dunia yang indah ini namun tetap kotor. Sementara kau berbahagialah, kau berhak bahagia.

Komentar

Postingan Populer