Kepulangan
Hari sudah menjelang malam, sementara seorang gadis sedang menunggu ditaman kota menunggu sang kekasih menjemputnya.
Gadis itu menununggu dengan sabar dari pukul 5 tadi, sekarang sudah menunjukkan pukul 6 petang, cakrawala sudah mulai menguning dipelataran kota. Sementara orang lalu lalang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, gadis itu sendirian tanpa ada satu orangpun yang menemani.
Tiga jam lalu sang kekasih menelpon untuk menjemputnya.
"Hallo sayang," Sapa sang kekasih.
"Iya, tumben kamu nelpon."
"Nanti setelah sepulang kuliah aku jemput ya ditaman dekat kampus kamu."
"Kamu tidak sibuk hari ini, sampai ingin menjemputku?" Tanya sang gadis.
"Tidak, aku hari ini lagi kosong."
"Oh ya sudah aku tunggu kamu ditaman pukul 5 ya aku keluar jam segitu."
"Oke," telpon ditutup.
Sudah pukul 6 lewat tetapi sang kekasih tak juga muncul, gadis itu mencoba untuk menelpon tapi tidak ada jawaban. Sang gadis mencoba untuk sms tapi tidak dibalas, yang ada hanya layar kosong tanpa panggilan masuk atau sms dari sang pacar.
Sampai akhirnya satu sms masuk dari sang kekasih.
"Maaf ya sayang aku tidak bisa menjemputmu karena aku harus pergi menemani mama tempat saudara yang sedang sakit."
Sang gadis membalas, "ya sudah tidak apa-apa."
Ada rasa jenuh dan kecewa, ketika sang pacar akhirnya tidak jadi menjemputnya, rasa itu ditambatkan dan menahankanya sendiri. Ia memutuskan untuk pulang, dengan menaiki bus dengan menahan rasa sedikit kecewa.
Untuk kali ini sang gadis sabar dan memahaminya dengan baik tanpa harus marah-marah tak jelas.
Gadis itu bernama Rani. Rani berumur 20 tahun sementara sang pacar bernama Bagas yang berumur 22 tahun mereka berdua memiliki jarak 2 tahun. Bagas yang sedang sibuk-sibuknya dalam mengurus tugas akhirnya itu terkadang sampai lupa bahwa Rani itu pacarnya.
Rani mendeham peluh yang ia simpan sendiri, sesampainya dirumah Rani langsung menaiki tangga rumah dan masuk kedalam kamar sambil menghempaskan dirinya keatas tempat tidur rasa lelah dan kecewa bercampur aduk. Belum ada kabar dari Bagas semenjak Bagas mengiriminya kata "maaf" tidak bisa untuk menjemputnya. Rani ingin duluan menghubinginya tapi Rani takut mengganggunya.
Rani dan bagas sudah pacaran cukup lama sekitar 4 tahun. Kedekatan mereka sudah terjalin semenjak Rani dan Bagas duduk dibangku SMA. Dari situ mereka mulai merajut kasih. Namun, akhir-akhir ini Bagas berubah, Bagas yang sekarang bukan Bagas yang dulu ia kenal. Bagas sekarang lebih mementingkan dirinya sendiri, Bagas lebih sibuk dengan segala macam aktivitasnya dan berkumpul dengan teman-temannya. Pernah suatu kali Rani melihat Bagas berboncengan dengan wanita lain, Rani sampai menanyakannya dengan Bagas, namun Bagas mengaku itu hanya sepupunya, Rani percaya dengan Bagas.
Bukan sekali atau dua kali Rani diabaikan Bagas, sudah terlalu sering bahkan. Karena rasa sayang terhadap Bagaslah Rani tetap bertahan hingga sekarang, namun lama kelamaan Rani mulai jengah dengan semua yang mendera dirinya, sepertinya Bagas sudah tidak menginginkan Rani lagi dalam hidupnya. Semua itu tampak ketika sering kali Bagas tanpa kabar, jarang memerhatikannya, kurang simpati kepadanya ketika Rani mendapat masalah. Rani hanya bisa diam didalam kamar dan tidak mau mengambil pusing tentang Bagas, Rani sudah hampir menyerah untuk mempertahankan Bagas didalam hidupnya. Pernah dia berpikir, untuk pergi dari hidup Bagas agar semua kerancuan pikiran ini kembali tenang tanpa harus memikirkan yang tidak-tidak.
Rani mengambil headset yang tergeletak diatas meja dan memutar beberapa lagu yang dia suka, untuk menghentikan kekacauan pikiran dan merileksasikan akal sehatnya kembali. Sambil ia mendengarkan lagu yang diputarnya disitu pula dia sambil menulis beberapa note esai diatas kertas. Rani salah satu orang yang gemar membaca dan menulis, salah satunya menulis tentang dirinya sendiri yang dia rangkum kedalam sebuah catatan kecil buku harian. Dia mulai memejamkan mata dan mulai berimajinasi tentang apa saja. Salah satunya ia menulis tentang salam perpisahan untuk orang-orang yang Rani cintai.
"Untuk yang kesekian kalinya aku diabaikan oleh Bagas, Bagas akhir-akhir ini berubah, Bagas sepertinya tidak menganggapku lagi sebagai pacarnya. Bagas lebih mementingkan teman-temannya, dahulu Bagas pernah berjanji agar terus membuatku untuk tersenyum tapi sepertinya janji itu hanya bualan yang lalu-lalang dan pergi. Aku ingin pergi darinya, dia bukan orang yang aku kenal. Lebih baik aku sendiri dari pada harus bertahan dengan separuh hati. Walaupun sangat berat untuk melupakannya tak apa aku bisa dan aku kuat. Aku bisa lebih baik tanpa dia, bahkan beribu kali lebih baik, sudah cukup semua drama ini, sudah cukup episode yang dulu indah kini bermuara pada entah. Aku ingin pulang, sebenar-benarnya pulang, rasa sakit dikepalaku sudah tidak bisa kutahankan lagi, kepalaku merasakan sakit yang teramat sangat. Untuk Ibu dan Ayahku yang aku sayangi mungkin hanya kalian yang bisa aku percaya didunia ini, dunia ini indah ya, langit biru, awan-awan yang berjalan, hujan yang mengalir bahkan ada bintang-bintang dan pelangi yang nerwarna warni. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian Ibu dan Ayah, tapi aku sepertinya tidak kuat lagi, aku hanya meminta kalian tidak bersedih didalam ketiadaanku karena sesungguhnya apa yang tampak belum tentu ada namun terkadang yang tidak tampak itu adalah yang ada. Semoga kalian bisa hidup tanpa aku Ibu Ayah. Salam dari putri kesayangan kalian Rani Salsabila."
Sepucuk catatan kecil ditulis Rani untuk mereka yang Rani cintai terutama Bagas dan kedua orangtuanya. Rani mendera penyakit kanker didalam otaknya, kanker stadium akhir. Rani sering merasakan sakit tiba-tiba bahkan mengeluarkan darah dari hidungnya, namun Ayah dan Ibu Rani tidak tahu akan hal ini apalagi dengan Bagas. Rani menderita penyakit ini sekitar dua tahun yang lalu, waktu saat sedang berjalan santai menikmati pagi dihari minggu, ia tidak sengaja ditabrak mobil karena kurang memperhatikan jalan. Rani dilarikan kerumah sakit, bagian kepalanya membengkak akibat terbentur kerasnya aspal jalanan. Darah segar mengucur dari kepalanya, Rani pingsan dan sesampainya dirumah sakit Rani mendapatkan pertolongan pertama yang segera ditangani oleh dokter ahli. Kedua orang tua Rani langsung kaget dan berangkat kerumah sakit. Bagaslah yang menolong Rani karena waktu itu Bagas dan Rani janjian akan bertemu ditaman di akhir pekan.
Setibanya Ayah dan Ibu Rani dirumah sakit, rasa cemas langsung mencercah Ayah dan Ibunya. Ibunya menangis dipelukan Ayahnya, sementara Bagas hanya terdiam dilorong Rumah sakit dengan banyak kecemasan.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dan langsung menjumpai Ayah dan Ibu Rani.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Anak Ibu baik-baik saja kami sudah melakukan pertolongan pertama hanya saja untuk sementara waktu anak Ibu hilang ingatan karena benturan keras dikepalanya, tapi semoga hanya sementara dan sebentar kita doakan saja anak Ibu cepat pulih."
"Terima kasih dok," ucap Ibunya.
Perlahan-lahan Rani berangsur-angsur membaik, Rani cepat pulih dari biasanya ada Bagas yang selalu disampingnya menemani Rani sampai Rani sembuh.
Beberapa tahun sudah berlalu kehidupan Rani berjalan seperti biasanya. Ingatannyapun perlahan-lahan kembali pulih. Rani anak cerdas dan cantik, ia memiliki tinggi tubuh sekitar 158 cm, yang menyukai banyak hal. Rani memiliki satu kakak laki-laki yang kini bekerja diluar negeri.
Tapi kini semua kisah manis harus dibayar dengan mahal oleh sakit yang Rani derita sendiri ia tidak ingin Ayah Ibunya tahu tentang sakitnya itu, Rani tidak ingin membuat Ayah dan Ibunya menangis dan bersedih karenanya. Maka dari itu dia menyembunyikan penyakitnya sampai sekarang ini.
Hingga Rani mencopot headsetnya dan menutup buku tulis lalu meletakkan penanya untuk berbaring lemah ditempat tidur, Rani merasakan kehadiran seorang Malaikat yang akan menjumputnya untuk pulang.
"Aku tahu kamu siapa?"
"Iya aku adalah Malaikat, ayo ikut bersamaku sudah waktunya kamu pulang."
"Baiklah."
Mata Rani terpejam dan Ranipun menghembuskan napas terakhirnya. Rani meninggal dan pergi untuk selamanya.
Keesokan harinya, Ibu Rani hendak membangunkan Rani dengan mengetuk pintu kamarnya yang berwarna cokelat namun tidak ada jawaban. Mau tidak mau pintu itu harus digedor dan pintu itupun terbuka. Ayah dan Ibunya termangu melihat putrinya terbujur kaku tak bernyawa.
Kerumunan warga langsung ramai dirumah Rani, sampai kakak kandung Rani yaitu Iqbal harus pulang dari luar negeri karena mendengar kabar duka bahwasanya adik kandungnya telah meninggal. Iqbal terisak tangis melihat adik perempuannya terbujur kaku tak bernyawa. Begitupun dengan sanak anggota keluarga yang lain.
Sore harinya Jasad Rani dikebumikan yang tidak jauh dari rumahnya. Sementara Bagas tidak tahu menahu, bahwasanya Rani telah meninggal. Orang tua Rani dengan sengaja tidak memberi tahukannya atas kepergian Rani karena takut Bagas merasa kehilangan yang teramat sangat. Lagi pula Rani dan Bagas sudah tidak bertukar kabar dalam tiga hari terakhir.
Saat malam sedang riuh-riuhnya, Bagas tersentak dari lamunannya didalam kamar. Tiba-tiba saja, Bagas memikirkan Rani, Bagas bahkan sampai lupa kepada Rani sangking sibuknya ia dengan segudang aktivitasnya.
Hingga keesokan harinya, Bagas memutuskan untuk menjenguk Rani kerumahnya, dan setibanya dirumah Rani Bagas bertemu dengan Ibunya.
"Rani ada buk?" Ucap bagas.
"Emmm ehh iyaa ada."
"Ada buk kok linglung gitu?"
"Tidak apa-apa Gas, kamu ingin bertemu Rani?"
"Iya buk."
"Ya sudah yuk ikut ibuk."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak,
"Kita mau kemana buk?"
"Sudah ikut saja."
Bagas mengikuti Ibu Rani, dan mereka berduapun sampai ditempat peristirahatan Rani yang terakhir.
"Rani sudah pulang Gas."
"Ibu serius gak bercandakan?" Ekspresi wajah Bagas berubah.
"Iya Gas, Rani sudah meninggal," ucap Ibunya yang menitihkan air mata.
Bagas tersentak, "Rani gak mungkin meninggal buk, gak mungkin," hatinya merasa remuk yang teramat sangat, jantungnya berdegup cepat. Pikirannya kacau, air matanya berlinang. Ia merasa tidak yakin bahwasanya Rani telah meninggalkannya bukan untuk sementara tapi selamanya.
Setelah bagas merasakan sakit yang teramay sangat akibat ditinggalkan Rani Bagas pulang dengan rasa tidak percaya bahwasanya Rani meninggalkannya, Bagas merasakan Nelangsa yang berat dan kehilangan yang tak biasa. Walaupun begitu Bagas masih tetap menyayangi Rani, dia benar-benar menyesal telah mengabaikan Rani dalam tiga hari terakhir kemarin.
Rani sudah pulang, sementara Bagas harus tetap hidup, Bagas harus membangun ulang lagi beberapa mimpinya walaupun dihatinya saat ini masih ada Rani Salsabila.
NB: Kisah diatas menceritakan betapa berartinya arti dari sebuah kepercayaan keyakinan yang harus tetap dijaga. Maka dari itu jagalah pasangan kita masing-masing agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Menghabiskan waktu bersama pasangan jauh lebih menyenangkan dari pada berdiam diri sendirian didalam kamar, atau sekedar duduk disepasang kursi malas ditaman kota yang bisa dinikmati dengan pasangan. Hargai dia cintai dia karena dia seperti embun pagi yang menitih diujung daun yang akan jatuh bila tak dijaga.
Komentar
Posting Komentar