Dunia Ilusi
"Jangan pernah kau datang lagi?, kau tidak pantas untuk anakku, dasar orang miskin."
Cercaan dan hinaan dari Ayah Suci masih terngiang jelas dipikiran Andre, Andre masih ingat masa-masa itu ketika dia ditolak mentah-mentah karena dianggap orang miskin oleh Ayah Suci. Padahal Andre sangat mencintai Suci dengan setulus hati. Memang dizaman yang aneh ini beberapa cinta harus dibeli dengan uang.
Andre memang dari keluarga kurang mampu, ia hanya anak yang sederhana, walaupun begitu Andre tidak malu mengakui bahwa dirinya dari keluarga tidak mampu. Dia perlahan-lahan menjauh dari Suci bukan karena Andre tidak sayang lagi, tapi karena orangtua Suci melarang anaknya untuk berhubungan dengan Andre.
Dua tahun sudah berlalu sejak kejadian itu Andre lebih banyak diam dalam menjalani hidup sehari-hari. Andre sudah membulatkan tekadnya untuk mengkualitaskan diri dahulu, dia mulai banyak belajar dari mana saja, dari majalah, dari bacaan ringan, mengamati sekitar dan dari buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan umum yang ada dikotanya atau melihat dari internet berbagai pengetahuan.
Sampai dia mengikuti seleksi ujian masuk perguruan tinggi dan ternyata dia lulus. Dia mengambil jurusan Tehnik Informatika dia ingin lebih memahami tentang jaringan dan pemograman.
Sementara Suci, sudah dijodohkan oleh Ayahnya dengan orang lain yang menurut Ayahnya baik, Suci hanya pasrah melihat keadaan ini. Mau tidak mau Suci harus menikah muda karena tuntutan Ayahnya. Satu minggu lagi Suci akan menikah dengan seorang pria kaya tapi tidak baik menurut Suci. Ia pasrah dirinya harus dinikahi dengan orang yang tidak dicintainya, Suci masih mencintai Andre, sama Andrepun begitu. Mereka dua insan yang saling mencintai antara satu dengan yang lain. Bahkan yang lebih menyakitkan untuk Andre ketika Suci hendak menikah dengan pria lain, Suci memberikan sepucuk surat dalam diam kepada Andre.
"Mas Andre, bagaimana kabarmu? Sudah hampir dua tahun kita tidak berjumpa, aku merindukanmu Mas, aku tidak ingin pergi darimu, aku masih mencintaimu Mas. Tapi apa daya Mas aku tidak bisa berbuat banyak Bapak menjodohkanku dengan pria lain yang menurut Bapak baik, aku takut Mas, aku ingin berada disampingmu, aku ingin berdua denganmu diantara daun-daun gugur dan menikmati ricik hujan dengan motor bututmu itu, tapi walaupun butut aku bahagia karena bagiku Mas kebahagian bukan tentang harta. Berada disampingmulah yang membuatku bahagia Mas. Melihat senyumanmu itu yang membuatku bahagia, duduk berdua bersamamu sambil menikmati kota tua yang membuatku bahagia. Tapi sayangnya Mas, aku harus dijodohkan Bapak, aku harus menikah minggu depan Mas. Aku tak sanggup menerima keadaan ini Mas. Bawa aku Mas, bawa aku pergi bersamamu, jemput aku dari kejengahan ini, kegelisahanku kini tak bermuara Mas, entah bagaimana jadinya kehidupanku nanti tanpa ada kamu disampingku Mas, yang jelas aku masih menyayangimu dan mencintaimu seperti pertama kali kita bertemu."
Salam Suci Anggita~
Membaca surat itu Andre terduduk lemas, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia gelisah mondar mandir kesana-kemari, Andre hampir gila karena orang yang dicintainya harus dinikahi oleh orang lain. Sementara diantara rinai rintik hujan terus mengguyur diluar rumahnya, Andre hanya bisa duduk terpaku didalam kamarnya sambil memandangi hujan. Hujan selalu peneman yang harmonis ketika seseorang dilanda Nelangsa yang teramat sangat, hatinya berserakan seperti genangan air hujan yang jatuh tanpa henti-hentinya.
Sampai ia tersadar dari lamunannya, suara adzan magrib menyadarkannya, setan telah membawanya hanyut kedalam rayuan yang paling mematikan, untung saja Andre masih bisa bertahan dari itu. Andre menghentikan lamunannya dan mulai beranjak kekamar mandi untuk mengambil air Wudhu dan mulai melaksanakan sholat magrib, agar pikirannya jauh lebih tenang sebelum dia membaca surat itu.
Ketika malam harinya, Andre mulai memikirkan Suci lagi, padahal kemarin-kemarin dia tidak segalau ini. Dia kemarin-kemarin sudah memberhentikan secara paksa rasa cintanya kepada Suci tapi itu hanya alibi semata, jauh yang teramat dalam dilubuk hatinya Suci tetap ada walaupun samar-samar bahkan hampir hilang. Semenjak Ayah Suci mengusirnya dengan paksa, Andre tidak menyangka rasa itu mencuat kembali dengan begitu saja. Memang beberapa rasa tidak untuk dilupakan dan dihilangkan, sebuah rasa tidak bisa dijelaskan dengan lusinan kata-kata atau bahkan ribuan kata-kata, karena rasa hanya bisa untuk dinikmati dalam diam walaupun terkadang rasa itu sudah mulai meredup perlahan-lahan sedikit demi sedikit mulai menggelap namun rasa itu tetap bertengger disana untuk mencuat kembali terang bercahaya lagi dihati.
Andre bingung harus melakukan apa, dia tidak bisa berbuat apa-apa, baru kali ini Andre menjadi orang yang bingung-sebingungnya. Padahal dia sudah cukup banyak membaca buku tentang asmara percintaan, bahkan tentang filsafat asmara. Seharusnya dia sudah tamat tentang masalah percintaan, seharusnya dia sudah bisa mengendalikan rasa dan dirinya sendiri dengan semua pemahaman yang telah diketahuinya, tapi kali ini berbeda semua buku-buku yang telah dibacanya seperti tidak ada gunanya semua itu seperti dianggapnya sampah yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Suci. Sampai dia mulai lelah dan terlelap akibat lelah pikiran yang tak jelas. lebih anehnya lagi dalam tidurpun Suci datang menghampirinya mendekat dan memeluknya, mereka berudua terbang keangkasa raya dan duduk ditaman surga yang sangat indah. Mereka seperti memiliki sayap dipundak masing-masing, sayap itu memiliki tujuh helai bulu putih yang gagah dan lembut. Mereka berdua bebas terbang kemanapun yang mereka mau, tanpa harus mendekta kegalauan yang merada. Mereka terbang bersama burung-burung penghuni surga berparuh berlian yang mengkilat, bermata kristal berbulu emas, burung itu menemani perjalanan mereka, awan-awan terasa lembut seperti kapas, mereka bebas bertengger disana kapan saja, para peripun ikut bahagia melihat mereka berterbangan bebas, mereka seperti manusia yang dikutuk menjadi malaikat yang bergelora dan bercahaya ditengah kelamnya galaxy.
Mereka tidak puas sampai disitu, Suci menarik tangan Andre dan menggenggamnya dengan erat jari jemari mereka bersatu dan tidak akan terpisahkan lagi oleh siapapun. Mereka terbang lagi mengangkasa kesejuta langit yang dijadikan satu. Mereka melihat para malaikat yang lalu-lalang sedang sibuk mengatur bumi, ada malaikat yang sedang mengatur hujan, angin, udara, air bahkan skema tata letak bumi, para malaikatlah yang menjaganya. Hingga mereka sampailah disatu singgasana yang megah dan luas yang dipenuhi dengan bunga-bunga indah pepohonan yang penuh dengan segala macam buah yang tidak ada dibumi, air terjun madu, sungai cokelat yang mengalir dipinggiran singgasana. Singgasana itu terbuat dari lapisan emas dan perak yang menyilaukan pandangan. Disitu mereka duduk bersila dan bertemu dengan salah satu malaikat. Mereka berdua tersenyum bahagia, mereka mengikat untuk berjanji dalam tali ikatan kebahagian dengan sah ditempat itu yang disaksikan ribuan Malaikat dan dayang-dayang peri-peri kecil, tempat itu adalah tempat yang paling suci diantara gugusan sejuta langit tempat itu adalah taman firdaus, taman yang hampir menyerupai taman surga. Mereka sah menjadi suami istri dan berbahagia bersama ditaman itu dengan para malaikat hanya ada mereka ditempat itu, iya hanya mereka manusia yang berada ditempat itu sementara lainnya adalah malaikat-malaikat dan para dayang-dayang peri. Merekalah orang yang paling beruntung saat itu yang bisa menikmati kebahagian yang paling abadi.
Alarm disamping meja Andre berbunyi keras, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Andre beranjak dari tempat tidurnya dan segera melaksanakan sholat subuh, Andre adalah pria yang sangat taat terhadap agamanya, ia rajin sholat dan pintar mengaji. Ia adalah orang yang kaya iman dan ilmu tapi miskin harta tak masalah baginya. Dia menganggap dirinya adalah seorang musafir yang hanya numpang lewat dibumi dan akan kembali lagi ketempat ia berasal yaitu ketiadaan jasad, Ruhnyalah yang harus diberaihkan dari segala macam dosa. Maka dari itu dia tahu diri ketika dia kejatuhan dibumi, dia sadar bahwasanya ia hanya menumpang hidup dibumi ini, bumi bukanlah tempatnya. Bumi hanyalah sandarannya untuk sementara waktu beribadah dan akan segera naik lagi kelangit begitulah pemahamannya yang sangat luas. Namun, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa bumi adalah hanya tempat untuk singgahan sementara, kebanyakan orang lebih memilih menenggelamkan diri bersama rutinitas bumi yang tak ada habisnya, mereka terlena dengan peradaban bumi yang membutakan mata, hingga panggung kehidupan ini, mereka sendiri yang membuat segala perselisihan ataupun pertikaian dan mereka sendiri pula yang merusaknya. Hidup menjadi begitu semerawut bagi mereka. Allah tidak pernah pergi, merekalah yang pergi meninggalkan Allah dengan lebih memilih mengikuti hawa nafsu dan ajakan setan, maka beruntunglah orang yang menjadi tuan untuk dirinya sendiri, menjadi supir bagi hawa nafsunya dan mampu berkomitmen dengan sang Maha pencipta-Nya.
Andre mulai memahami estetika peradaban bumi dan panggung kehidupan ini, ia banyak mendengar dari penceramah-penceramah dan banyak membaca tentang filsafat alam. Maka dari itu Andre lebih memilih tidak banyak bicara, Andre lebih menyukai mendeham dzikir didalam qalbunya dari pada harus berbicara yang menghamburkan kata-kata tapi tanpa makna. Andre masih dalam proses mengkualitaskan diri untuk bertemu dan pulang menghadap pencipta-Nya, dia berpikir dilahirkan dengan keadaan Ruh yang suci dan bersih, ketika dia pulang nanti Ruhnyapun harus bersih dan suci pula.
Hari begitu cepat berlalu Suci melangsungkan pernikahan dengan orang yang tak dicintainya, Suci menangis didalam pernikahanya bukan air mata bahagia yang jatuh tapi air mata kesedihan yang jatuh berlinang membasahi pipi. Sementara Andre mulai pasrah pada Ilahi Andre merelakan Suci dia percaya pasti ada jalan terbaik untuknya nanti dan Suci. Walaupun mimpi kemarin terasa sangat nyata bagi Andre.
Lima tahun sudah berlalu Andre menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sudah bekerja disalah perusahaan ternama dikotanya, Andre masih seperti yang dahulu. Orang yang pendiam namun tetap humoris bagi teman-temannya, Andre masih taat beribadah dan mengaji dia tetap istiqomah dengan apa yang dipegangnya, baginya islam itu sempurna, islam memberikan kedamaian baginya dan hidupnya. Sementara dengan Suci, Suci sudah tidak betah dengan suaminya, Suci sering dimarahi dan dipukul dengan tidak jelas oleh suaminya, Suci hanya bisa tersungkur dalam sujud dan menangis dipenghujung malam sambil menengadahkan kedua tangannya dan meminta yang terbaik kepada Allah. Agar segala penderitaanya berakhir, Suci sudah tidak tahan lagi dengan suaminya saat ini, Suci sudah tidak betah untuk tinggal dengan suaminya. Suci masih merindukan Andre rasa itu tetap dengan ada untuk Andre.
Sampai suatu malam Suci terbangun sepertiga malam untuk sholat tahajud, dia melaksanakan dua rakaat sholat tahajud, dia berserah diri dan meminta ampun. Sampai setelahnya dia tertidur begitu saja, dia bermimpi berjumpa dengan Andre, dia merasakan dekapan Andre, pelukan hangatnya dan selalu menyapanya lewat sujud yang entah keberapa kalinya. Mereka berdua sama-sama berkomitmen untuk tetap menjaga sholatnya yang lima waktu menjaga keimanannya dengan baik.
"Mas Andre," ucap Suci dalam mimpi.
"Suci," Andre sumringah.
"Aku merindukanmu Mas, sudah lama kita tak bertemu, aku ingin bersamamu Mas. Aku ingin pulang bersamamu ditempat kita yang paling abadi.
"Bukan hanya kau saja, aku juga yang tanpa satu haripun masih mendekta bayang-bayang wajahmu, tidak ada yang bisa menggantikanmu didalam hati ini, aku bungkamkan namamu dalam mulutku tapi hatiku selalu menyapa namamu dalam diam."
"Maafkan aku Mas, aku tak sanggup mendekta dalam keadaan ini, bawa aku Mas bersamamu, bawa aku pergi sekali lagi denganmu dan kali ini benar-benar pergi."
"Oke baiklah Ci, rasa inipun tak sanggup kutahan lagi dia mencari penghujung yang tepat yaitu kamu, kamulah muara dari rasa ini, ayo kita pulang."
Mereka berdua pergi bersama dan bergandengan tangan. Ruh mereka berdua naik kelangit dijemput oleh malaikat hingga mereka sampai ditaman firdaus, taman surga dan kali ini mereka benar-benar pulang untuk menghadap kepada sang Maha pencipta-Nya. Mereka disambut oleh para malaikat-malaikat, yang memberikan hormat kepada mereka berdua. Suci dan Andre saling bertatapan membuat senyuman yang menawan.
Sementara Jasad Suci sudah tersungkur didalam rebahan tidurnya, Jasadnya sudah tak bernyawa, Suci meninggalkan dunia dan hijrah kedunia lain. Lain halnya dengan Jasad Andre yang tidak jauh berbeda dengan Suci
Jasad Andre ditemukan oleh Ibunya dengan tidak bernyawa diatas tempat tidur. Mereka meninggal dengan istiqomah, mereka telah berhenti dengan panggung sandiwara kehidupan. Semuanya telah mereka tinggalkan mereka pergi dengan hanya Ruh yang berjasad terang benderang.
Betapa haru birunya dua insan yang tetap istiqomah mempertahankan cintanya karena Allah, menerima dengan tabah berbagai macam ujian dan cobaan hingga mereka memenangkan kebahagian yang paling abadi. Kebahagian yang tidak bisa didapat didunia yang ada hanya diakhirat.
Komentar
Posting Komentar