Di Ujung Usia
Seorang manusia terdampar hebat didepanku, hanya beberapa meter saja dari aku berada. Pria tersebut berumur kira-kira 64 tahun, sudah tampak dari rambutnya yang telah beruban dan giginya yang mulai ompong. Ditambah lagi kulit yang sudah mulai keriput.
Sudah sering aku melihat orang yang sakit, tapi kali ini berbeda. Entah mengapa aku merasa ada hal yang aneh dalam dirinya, mungkin hanya firasatku saja.
Memang selalu saja kita tidak luput dari kematian, setiap hari kematian selalu membuntuti kita. Karena memang manusia tidak tahu kapan ia akan mati. Banyak orang yang takut akan kematian, mungkin termasuk aku yang terlalu banyak dosa ini. Aku masih dalam proses terus memperbaiki diri agar lebih baik lagi.
Dengan melihat bapak tersebut aku semakin banyak mengingat-ngingat tentang kematian. Karena itu memang diwajibkan bagi agama.
Setiap tarikan nafasnya menjadi beban yang sangat berat untuk dihimpun menjadi sebuah udara pelengkap isi paru-paru.
Sesunggukan, pening, mules, kencing darah, dan penyakit lainnya telah tersarang dalam setiap manusia. Semakin membuatku kekesadaran mutlak, bahwa kesehatan itu sangat penting. Jika tubuh tidak sehat, apapun hal tidak selera. Kehilangan nafsu makan dan tidur ataupun penyakit yang selalu mengganggu pikiran kita. Untuk saat ini aku akan menjaga kesehatan dengan lebih baik lagi. Dan mencoba menata masa depan agar tetap berjalan pada porosnya yaitu poros kebaikan yang perlahan mulai terangkai dengan cara baik.
Betapa luar biasanya bapak tersebut, ketika ia menyadari hayatnya akan dekat ia mampu meminta maaf kepada mantan pacarnya terdahulu. Betapa luar biasanya hal tersebut, hal itu membuatku tergugah bahwasanya meminta maaf bisa saja kapanpun. Dan dengan seksama aku memerhatikannya lebih dekat lagi. Aku belajar lagi hari ini. Meminta maaf tak perlu gengsi yang perlu hanya keberanian untuk mengungkapkannya itu saja. Mengungkapkan dengan cara yang sangat sederhana.
Komentar
Posting Komentar