Degupan Di Dada

 

Apa namanya kalau bukan cinta, setelah kureka-reka dengan cara menyengaja.
Dari perkelanan itu, aku sudah terkontaminasi oleh kamu yang tampak mengagumkan.
 Degupan didalam dadaku begitu terasa menggetarkan seluruh tubuh. Biusan auororamu mampu membuatku semakin gaduh. Sebelum akhirnya aku tersadar lalu tersentak, dan langsung menyambut dengan tulus uluran tanganmu.
      "Alfin," Sambarku dengan tersentak yang masih termangu diam didalam kebisuan.
Setelah pertemuan itu tidak ada lagi pertemuan selanjutnya dan kupikir itu hanya rekayasa semesta saja dalam mengujiku.
     Akupun lebih memilih pasrah kekaguman yang berjung pada angan-angan didalam otak, lalu menumpuk menjadi sampah-sampah pikiran yang tidak berharga. Aku mulai kembali lagi kedalam rutinitasku yang sibuk dengan skripsi dan imajinasi. Aku semakin rajin menulis, kugambarkan sesosok bayangan itu dalam sebuah puisi yang tak sengaja kurangkai.

         Dari sorot tajam tatapan itu, aku terhenyak kedalam alam bawah sadar.
         Lidahku merasakan kelu tak sanggup untuk menuai kata. Degupan jantungku mengingkari sang waktu untuk berhenti pada pertautan kita.
         Apakah kita akan bertemu? Entah untuk bertegur sapa, sekedar lewat dan melambaikan tangan atau kita tidak dapat menjadi sepasang burung yang tidak pernah lupa tempatnya untuk pulang. Iya mungkin kau seperti burung itu, terbang dari satu sarang ke sarang yang lain. Sementara aku hanya sebuah sangkar yang hanya bisa menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk kau kembali kesarang ini. Kadang juga aku sering berdoa pada angin agar membawamu kembali lagi kesarang ini, sarang yang masih baru dan khusus untukmu saja. Kalau angin memang tidak mampu membawamu kembal padaku aku akan berdoa pada hujan dan berharap rinai riciknya mampu membawamu kembali pada tempat ini, tempat yang masih hampa tiada tersisa.
      Jika hujanpun tidak mampu mencapaimu yang terlalu tinggi ketika mengangkasa, sapalah aku setidaknya kali saja. Entah itu lewat senja dengan semburat jingganya yang sudah mulai terbenam di penataran pantai. Atau pada lautan awan yang selalu menjadi temanmu ketika kau lupa akan daratan.
 
    Sajak itu menyentuhku, menjaganya agar tetap abadi setidaknya didalam imajinasi. Maafkan aku yang tanpa sengaja memikirkanmu dalam kesepian. Mengharapkanmu dalam letupan.
        Dan untuk malam yang sepi ini, aku ingin mengingatmu, mengingat ketika pertama kali kita bertemu. Aku akan lebih menyelami siapa kita yang sesungguhnya. Akan aku ceritakan semuanya, agar kau puas karena telah memilih pergi bersamanya, seorang yang dahulu pernah sangat dekat, tapi kini menjadi kekasihmu.

 

Komentar

Postingan Populer