Buku Jendela Dunia
Buku adalah jendela dunia. Begitu yang sering pepatah bilang. Rasanya itu ada benarnya, dunia tanpa buku ibarat hidup tanpa oksigen. Buku sudah menjadi pegangan wajib bagi anak-anak sekolah dasar. Dengan buku mereka akan lebih bisa memahami, bagaimana menjalani hidup yang baik.
Sudah pasti buku identik dengan ilmu dan membaca. Percuma punya buku bagus hanya tergeletak rapi didalam lemari tanpa berniat mengulas atau membacanya lebih dalam lagi. Tapi sayangnya, ketika orde baru telah dibentuk semua anak dan manusia tampak seperti robot. Yang sudah diatur jalan hidupnya. Etnis penguasa mampu menenggelamkan akal pola pikir mereka untuk tetap mengikuti arus bukan melawan arus. Sehingga kebanyakan anak sekarang lebih memilih jatuh menjadi seorang pecundang bukan seorang pemenang. Kita semua kritis makna. Kita hidup dizaman aneh, yang apabila membaca buku, sering disebut nyeleneh. Kebanyakan orang berpikir bahwa buku itu benda yang aneh, dan lebih memilih bersibuk-sibukan dengan segala macam aktivitas disegudang sosial media. Seakan-akan sosial media sudah menjadi nafas mereka, charger sudah menjadi minuman mereka, upload poto disana sini sudah menjadi tradisi yang terus mendarah daging, ditambah lagi beberapa aplikasi yang tampak memusingkan kepala. Alangkah ada baiknya ketika menggunakan sosial media hanya dengan sewajarnya saja. Coba saja kita lebih sering memegang buku untuk dibaca dari pada gadget yang sering kali menipu. Sudah pasti akan berkurang orang yang menebar kebencian disekitar kita, akan bertambah intelektual-intelektual muda yang memiliki wawasan luas. Akan selalu banyak orang yang bahagia. Akan semakin sedikit orang yang gila. (gila selfie),
Suka tidak suka, sadar tidak sadar kita sudah menjadi seperti orang gila, bahkan lebih waras orang gila lagi yang memang sudah gila. Kita akan marah ketika disebut gila, namun tentu akan senang ketika dipuji dan disanjung.
Begitulah dunia kita yang sudah berbalik. Rasa-rasanya lebih menyenangkan hidup ditahun sembilan puluhan yang tidak terlalu mengenal sosial media. Yang lebih mengedepankan estetika terhadap lingkungan dan hidup dengan normal layaknya seorang manusia.
Kita yang hidup saat ini hanya bisa mengatasi keterpurukan kritis makna dalam pikiran dan candu di segudang media sosial ialah dengan cara membatasi dan menggunakan dengan seperlunya. Bukankah yang sedang-sedang saja lebih baik dari pada yang terlalu berlebihan.
Komentar
Posting Komentar