Talamau & Sejuta Kemistisannya
Banyak hal yang telah aku lewatkan dalam pendakian kali ini. Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku dalam mendaki gunung Talamau di Kabupaten Pasaman Barat. Gunung yang masih jarang sekali didaki.
Kami mulai melakukan perjalanan dari medan dengan sepeda motor. Ada delapan orang yang melakukan pendakian enam orang pria dan sisanya wanita. Bukan perjalanan yang mudah, karena memang gunung ini masih asri dan banyak hewan hewan liar yang masih terus hidup.
Selama satu harian kami diatas sepeda motor dan beristirahat sejenak di hotel pertamina alias pom bensin. Hingga malam harinya kami sampai di Pasaman Barat dan langsung dijemput oleh bang Dedi selaku orang yang sudah lama berkecimpung didalam dunia pendakian. Kami diterima dengan sangat baik disana. Dikota kecil disudut negeri.
Malam itu kami semua mengistirahatkan seluruh tubuh yang kian melemah, sebelum tidur kami menyempatkan mempaking perlengkapan agar besok tinggal berangkat bersiap-siap dalam melakukan pendakian.
Matahari sudah mulai tampak, sinar keemasannya memancar tak menentu lewat dari selah selah jendela.
Kami pun bergegas naik ke atas pik up yang sudah disediakan bang Dedi.
Setelah semua siap kami berpoto bersama tidak lupa juga kami memanjatkan doa kepada sang maha kuasa agar setiap perjalanan yang dilakukan tetap lancar.
Oh iya, kami mendapat teman baru tiga orang dari daerah situ untuk menemani kami dalam mendaki. Ditambah lagi teman yang datang menyusul dari bukittinggi dua orang. Sehingga total tim yang melakukan pendakian berjumlah tiga belas orang.
Di awal perjalanan banyak taman penduduk yang berisi kelapa sawit dan kacang kacangan. Hingga kami melewati sebuah sungai yang airnya sangat jernih.
Butuh waktu dua jam berjalan untuk sampai di pintu rimba.
Akhirnya kami masuk kedalam pintu rimba. Vegetasi hutan yang mistis mulai sangat terasa. Alam yang lirih, suara serangga silih berganti. Hingga baru seperempat jalan kami memutuskan membangun tenda yang tidak terlalu jauh dari sumber air. Digunung ini kita tidak perlu ketakutan dalam kehabisan air karena air sangat melimpah ruah dalam gunung ini. Ada banyak sungai sungai kecil yang membentuk secara alami.
Untuk malam ini kami tertidur dengan rasa pegal dikaki dan dihati. Keadaan malam dan siang sangat jauh berbeda. Disini malam jauh lebih menyeramkan. Karena konon katanya banyak kerajaan jin yang mendiami gunung ini. Masyarakat setempat percaya ketika mendaki gunung ini kalau tidak dengan hati yang bersih maka akan mendapatkan celaka atau ada saja bahaya yang datang, entah dari hujan yang terus menerus, atau kabut yang tidak ada hentinya.
Malampun kami biarkan begitu dan mungkin setan setan juga sedang asik menikmati malam untuk dunia mereka sendiri.
Pagi menjelang, kami bergegas beranjak lagi setelah sebelumnya mempaking perlengkapan. Setelah sarapan seadanya, tim berkumpul dan berdoa. Lalu berjalan lagi, terus menanjak, bahkan aku sampai beberapa kali terjatuh. Rombongan kami terpisah-pisah, aku memutuskan untuk berjalan dibagian belakang sementara kedua cewek dan tiga orang peria berada dibarisan tengah. Sementara sisanya berada dibagian paling depan.
Sudah hampir delapan jam kami berjalan dan istrirahat sebentar. Rasa malas dan jenuh datang silih berganti, bahkan ada yang hendak putus asa karena kelelahan.
Kami berunding dan diambil keputusan untuk menginap lagi karena memang hari sudah kian sore.
Kami juga bertemu dengan beberapa pendaki lain dan bertegur sapa.
Tenda kami dirikan, setelah selesai tenda didirikan, yang lain bergegas memasak makanan. Sementara aku santai dan bercerita tentang banyak hal salah satunya temanku masih saja galau karena wanita. Duh kasihan ya haha. Tapi itulah ketika kita dihutan dan lebatnya rimba. Apalagi yang bisa kita lakukan selain. Berbincang dan bercanda ria. Inilah asiknya dalam mendaki gunung. Kita bebas dalam mengekspresikan hidup tanpa adanya teknologi apapun. Kita bebas berbincang dan bercanda dan kalau tidak percaya ya buktikan saja sendiri.
Oke mulai ngawur ah, kembali lagi ketema pendakian.
Memang belum ada hal yang menarik dari awal pendakian tadi belum. Ini masih awal awal banyak hal mistis nanti ketika kami turun dalam pendakian. Oke lanjut, kami akhirnya tertidur pulas hingga malampun betah mencumbui kami lebih dalam lagi.
Besok paginya kami berjalan lagi. Walaupun pegal pegal diseluruh badan belum hilang tapi ya mau gak mau harus berjalan lagi. Akupun mencoba bertanya sama bang son, teman yang menjadi gaet kami.
"Bang berapa jam lagi ke puncak?"
"Ya gak jauh lagi lah, palingan tengah hari nanti nyampe."
Oke semangat, timbul semangat baru lagi untuk berjalan.
Kaki yang pegal terasa hilang dan terus merangkak, jalur pendakian kian parah karena taid malam hujan deras sudah pasti beceknya minta ampun dah. Tenggelem ni sepatu, bahkan sepatu kawan sampe ada yang lepas, haha kasian. Tapi memang begitu, treknya aduhai. Aku rasa selama aku mendaki gunung baru kali ini aku mendaki gunung paling melelahkan dan terlama jalur pendakiannya, ditambah lagi treknya yang super super membosankan.
Udah ah ngeluhnya jalan lagi.
"Bang gantian bawa ini."
"Oh sini mari,"
Paksa deh nurut ajadah, bawa beban yang lebih berat. Kasian lihat temen udah mau gempor nenteng itu kulkas.
Jalan lagi, terus jalan lagi jumpa deh yang terang perdu perduan gitu. Eh gak taunya hujan deras paksa dah kami harus berteduh dan membuka plasit tenda, hingga berdiam didalamnya sampai hujan mereda.
Padahal katanya ini bukan puncak, puncaknya masih dua jam lagi. OMG bang, kok ngerih amat ya ini gunung naiknya aja kudu tiga hari ditambah dua malam nginap dihutan. Tapi gpp demi memuaskan hasrat dalam hobi ini, sabar ajalah. Nikmati saja setiap sentinya, eseh sok puitis padahal udah opertunis.
Satu jam hujan belum reda jugak, dua jam dan akhirnya agak reda juga dikit.
Kami bongkar dah itu plesit dan berjalan lagi, tarik bang. Patah patah dah itu kaki jalan mulu.
Mana yang dilewati perdu perdu sedada lagi, sabar aja dikit lagi puncak iya dikit lagi. Dikit dikit lama lamakan sebukit. Buset dah kagak nyampe nyampe ya.
"Yok semangat puncak!!!" Teriak salah satu teman dari kejauhan.
"Oke puncak" aku mengumpat sendiri dalam hati. Semangat.
Paksa digas ni kaki dengan sedikit berlari dan akhrinya, akhirnya belum juga puncak.
Hah dasar, tapi tempatnya keren eui. Ada danaunya dipuncak gunung. Kami tiba ditempat kamp ground pendakian terkahir. Dari sini baru keliatan puncaknya yang tinggal dikit lagi.
Aku dan kawan kawan langsung bergegas mendirikan tenda, lagi lagi cuaca tidak bersahabat hujan deras mengguyuri kami.
Aku berpikir dalam hati, "Apa ada yang salah dari kami." Tapi entahlah cepat cepat kubuanh ingatan itu.
Tenda semuanya telah berdiri dan hujan masih saja betah mengguyur. Kami hanya duduk diam dalam tenda masing masing. Dan teman yang lain membagi tugas dalam memasak makanan. Aku diam saja dan mencoba untuk menikmatinya. Walaupun udah boker dua kali haha. Soalnya udha kebiasaan setiap bepergian ketempat bari pasti boker. Katanya sih betah ketempat baru itu, tapi gak tau juga deh namanya udah kebiasaan, hahaha.
Ketika makanan sudah siap, kami makan dengan lahap dan memutuskan untuk tidur saja, besok pagi baru kepuncak yang tinggal sedikit lagi. Aku berdoa ya mudahan cerah agar terlihat ketiga belas danaunya. Gunung ini memang dijuluki dengan gunung yang memiliki banyak danau. Ketika tidak ada kabut yang menutupinya danau tersebut akan tampak jelas.
Oke aku ngantuk dan jleb langsung tenggelam dalam kantung tidur kayak mayat dahtuh. Selamat malam.
Selamat pagi, pagipun menyapa dan tampaknya terlihat cerah. Aku bangun dan langsung bergegas buang air kecil, rencananya sih mau boker tapi keburu teman teman yang lain udah siap siap muncak gak jadi deh yadah ditahan aja deh.
Pagi harinya kami bergegas menuju puncak yang hanya ditempuh dengan waktu sekitar dua puluh menit. Berharap sampai puncak cerah wal apiah. Ternyata zonk, benar benar kabut. Lagi lagi kabut datang menutupi sebahagian permukaan danau.
Hanya tiga danau yang tampak. Sementara yang lainnya sudah tertutup kabut. Mau bagaimana lagi mungkin dalam pendakian kali ini hati kami kurang bersih.
Semesta seakan-akan enggan menampakkan wujud pemandangannya yang begitu tersohor sampai penghujung negeri. Kami hanya bisa berpasrah diri.
Eeh tapi dipuncak ini ada yang menarik yaitu sebuah kubah mesjid kecil yang tinggal di puncaknya. Kami hanya mengabadikan moment lewat kabut kabut yang sudah mengamburkan pandangan.
Setelah cukup dengan beberapa poto akhirnya kami kembali ketenda untuk memasak, waktu sudah beranjak siang. Sembari memasak teman teman yang lain juga mempaking perlengkapan tim ataupun perlengkapan pribadi. Yang lebih anehnya ketika kami sampai ditenda, eh malah cuacanya sangat terang, tidak ada kabut tidak ada embun. Terang yang ada. Mataharipun tampak bersinar dengan terik.
Aku dan teman teman lain hanya bisa terduduk dengan pasrah. Memang ada yang salah dari niat kami dalam mendaki kali ini.
Kami hanya mengabadikan moment lewat pinggiran danau yang airnya begitu tampak jernih. Kelihatannya sih surut, tapi danau ini tampak angker men.
Puas berpoto poto ria, dan tak lama juga makanan sudah makan. Kami semua berkumpul diatas matras dan makan bersama, moment yang selalu kurindukan ketika berada dialam bebas. Bagiku mendaki bukan bukan hanya tentang puncak tapi tentang kebersamaan bahwa kita tidak sendiri dan kita tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain atau orang lain membutuhkan kita, begitulah seharusnya manusia hidup.
Kulihat jam dipergelangan tangan, sudah menunjukkan pukul satu siang. Kami bersiap-siap dan berkumpul untuk berdoa agar diberi keselamatan dalam perjalanan turun.
Perjalanan turun dimulai, setelah sebelumnya berfoto bersama. Aku sudah membayangkan akan bagaimana lelahnya jalan turun nanti.
Kami terus berjalan, sampai rombongan terpisah-pisah. Aku menjadi rombongan paling belakang. Memang doyannya begitu mendaki selalu paling belakang untuk memastikan semua berjalan dengan baik.
Ketika hari sudah semakin sore, dan magrib datang kami memutuskan untuk istirahat. Ada masalaha dan janggal disini. Satu temanku yang bernama Herdi, meerasakan hal yang aneh. Dia hampir kehilangan kesadaran dan putus asa. Dia merasa tidak sanggup lagi berjalan. Seluruh badannya terasa berat. Badannya tak terkendalikan lagi. Bahkan dia nekat untuk menginap satu malam lagi ditengah hutan.
Duh bulu kudukku jadi merinding, eh memang beneran dah bukan dia aja yang merasakannya. Kemarin saja aku pas tidur ditenda merasakan tenda kami digoyang-goyang seperti gempa. Tapi karena aku tahu yaudah aku diam aja.
Itu baru Herdi yang merasakannya belum lagi si Dana. Dia merasakan ada yang mengikutinya dibelakang orangnya tinggi besar tau sendiri deh itu apaan.
Aku sih gak heran yang begituan, orang itu memang tempat mereka, rumah mereka. Mungkin aja kita yang kurang sopan datang kerumah mereka itu sebabnya mereka marah dan tidak suka.
Kali ini aku mencoba bersikap tenang. Dan terus melapalkan zikir yang kubisa. Duh jadi malu, sholat jarang jarang tapi tiba tiba pas ketakutan baru deh ingat sama Tuhan. Begitulah manusia ingatnya hanya disaat terjepit saja. Padahal Nabi menyuruh agar ingatlah Allah disaat lapang maka Allah akan mengingatmu disaat sempit. Duh kayaknya harus rajin rajin deh untuk ngingat Allah. Amin, hehe.
Nah kembali lagi. Terpaksa Herdi kami bawa terus berjalan dengan aku bopong. Pertama udah ada usaha aku untuk menggendongnya tapi ya ampun buset dah. Aku macam nganggat karung tiga goni beratnya minta ampun. Logika kagaktuh men. Tapi karena aku sudah tahu yaudahlah. Dipapah aja terus.
Oke Herdi aku yang mapah. Sementara itu tasnya dibawa kawanku yang lain.
Perjalana dilanjutkan didalam kegelapan, sesekali suara burung hantu memanggil-manggil. Makin serem deh jadinya beneran ciusan. Tau deh waktu itu bakalan selamat entah kagak sampai kebawah. Hingga ketika sampai seperempat perjalanan satu lagi temanku tumbang tak sadarkan diri namanya sangkot. Dia tiba tiba pingsan tak karuan. Ditampar tampar tapi sadarkan diri, dia kesurupan men. Ingat kesurupan. Duh makin serem, dia menggarung kayak harimau gitu, terpaksa deh kami pegangin dan panggil panggil namanya. Setelah beberapa lama baru dia sadar kami dudukkan dia dan kami beri dia ruang untuk istirahat sejenak. Sambil minum dan memakan beberapa buah cokelat, akhirnya diapun merasa sedikit baikan dan bisa berjalan lagi.
Kami berjalan lagi, dan berdoa supaya selamat sampai tujuan. Lagi lagi hujan gerimis mengguyuri kami, cobaan apalagi ini. Si Nuri nangis karena tidak tahan. Dia merasakan sakit dibagian perut. Yadah istirahat sebentar, setelah enakan jalan lagi .
Hingga akhirnya kami sampai dipintu rimba, aku hanya bisa berucap syukur kepada Tuhan yang maha esa. Telah menyelamatkan kami semua dalam pendakian kali ini. Seumur hidup baru kali ini mendaki gunung banyak hal aneh yang terjadi. Tapi ya sudahlah itu semua sudah berlalu.
Kami mencoba merebahkan badan disebuah rumah panggung dipintu rimba. Menunggu besok untuk turun kembali kekota.
Kami sampai pintu rimba jam sepuluh malam, jadi jalan turun hampir memakan waktu sembilan jam. Karena banyak terjadi insiden tersebut.
Dari pendakian ini aku banyak belajar bahwasanya jangan pernah sombong dalam masuk hutan manapun karena wajar saja yang kita masuki bukan rumah kita. Ada banyak mahluk yang tinggal disana. Termasuk mahluk yang tidak kasat mata.
Kami tertidur terlelap dan ketika pagi sudah datang kami berjalan turun dengan sangat pelan dengan tubuh yang gontai dan terus mengenang kejadian diluar akal tersebut.
Oke sekian dulu cerita dari pendakianku di gunung talamau pasaman barat, tunggu ceritaku selanjutnya.
Salam Aksara.
Komentar
Posting Komentar