Gunung Singgalang Menenggelamkanku

Gunung Singgalang merupakan gunung yang bertipe strato Vulcano. Strato adalah gunung yang tersusun dari bebatuan hasil Letusan dengan tipe letusan berubah-ubah, sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk kerucut besar kadang-kadang bentuknya tidak beraturan.


Gunung singgalang memiliki ketinggian 2877 MDPL, yang sangat banyak menarik pendaki untuk mengexplore langsung gunung ini, jalur pendakianpun sangatlah jelas, hanya perlu mengikuti kabel pemancar tersebut hingga sampai puncak. Pemancar tersebut merupakan sebuah stasiun Televisi yang berada di kaki gunung pintu rimba singgalang.


Banyak jalur yang bisa di tempuh kegunung ini salah satu yang terkenal dari jalur ini  yaitu dari desa Koto Baru Pandai Sikek, desa ini merupakan salah satu desa yang masyarakatnya bisa membuat kain songket yang terkenal di sumatera barat, songket ini dikenal dengan nama songket pandai sikek. Untuk menuju pemancar kita akan melewati jalan beraspal yang menanjak dengan di selingi tanaman para petani di pinggirnya, semakin mendaki pintu rimba jalan tidak membaik banyak aspal yang tergerus tanah sehingga di perlukan kewaspadaan ekstra untuk melewati jalur ini.


Setelah sampai di tower pemancar kita bisa tempat ini istirahat sebelum memulai pendakian, dan para pendaki yang menggunakan sepeda motor seperti kami. Tower pemancar  inilah menjadi tempat terakhir untuk menitipkan kendaraan dengan hanya membayar Rp 10.000, sebelum menuju puncak start dari tower kita akan melewati tanjakan yang terjal dan lembab tak luput pula tumbuhan Pimpingan (sejenis tanaman ilalang yang tinggi), yang menyelimuti trek pendakian, cukup merepotkan untuk melewati jalur ini sekitar satu jam kami harus jalan, tergelincir, terjatuh bahkan terpeleset. Setelah kita melewati Pimpingan kita akan memasuki Hutan Gunung Singgalang inilah batas pegetasi dengan tumbuhan Pimpingan tadi, hutan di gunung ini sangatlah lembab dengan jumlah cadangan air yang sangat melimpah sehingga para pendaki tidak perlu menghawatirkan kehabisan persediaan air minum selama pendakian. Jalur pendakian cukup menanjak dengan rata-rata kemiringan 60 derajat, selama pendakian kita akan ditemani oleh tiang-tiang listrik yang kokoh, kabel beserta tiangnya inilah penunjuk jalan untuk selama mendaki, tiba-tiba saja awan mengeluarkan airnya yang deras rintikan hujan semakin menambah seru perjalanan ini, kami memutuskan untuk istirahat sekedar berteduh dari derasnya hujan dengan berlapiskan terpal agar melindungi kami tidak basah kuyup, tak teras hujan mulai reda kamipun melanjutkan perjalanan  sedangkan tim kami semua berjumlah delapan orang tiga wanita dan sisanya lagi pria. Semakin jauh kaki melangkah maka akan semakin tampak banyaknya pohon pakis mendiami gunung ini, hutan lumutpun tumbuh dengan subur di sini tanpa ada yang menggangu ataupun merusak mereka selalu bahagia tanpa ada campur tangan manusia yang terkadang semena-mena terhadap mereka, tak terasa kami memasuki cadas singgalang yang terdiri dari bebatuuan padat yang berwarna kekuningan dengan rongga-rongga akibat tetsan air yang terus menerus yang jatuh dari danau Telaga Dewi, dari cadas akan tampak gunung marapi yang kokoh tegak berdiri serta awan-awan yang berlalu lalang di hembus angin yang lirih. Tidak lupa pula Edelweiss walaupu hanya sesekali di temui di cadas itupun tidak di jalur pendakian sedikit mengarah kejurang, ada juga sebuah Tugu yang di namakan “Tugu Galapagos” , Tugu ini di buat sebagai mengenang Hilangnya salah satu siswa pecinta alam SMA 1 Padang sekitar tahun 90-an.


Tak terasa perjalanan tinggal sedikit lagi menuju puncak sekitar tiga puluh menit berjalan maka akan tampak dari kejauhan telaga yang tersohor yaitu Telaga Dewi yang mengandung cerita mistisnya sendiri danau cantik di atas ketinggian 2877 MDPL,  danau tersebut terjadi akibat meredanya aktivitas gunung singgalang atau tidak aktifnya gunung tersebut sehingga memunculkan kaldera yang dulunya berasap pekat kini di penuhi air yang lambat laun memnuhi danau terseebut.


Banyak pendaki hanya sampai telaga dewi, namun masih ada puncak singgalang sekitar satu jaman lagi untuk menempuhnya, di puncak  ini kita akan menemukan tower pemanca yang merupakan muara dari tiang-tiang listrik yang kita temui selama di jalur pendakian, kamipun memutuskan bermalam di pinggiran danau untuk menikmatinindahnya malam di danau dengan bintang di  langit yang kemerlap bercahaya seakan menyapa kedatangan kami.

* Cadas Gunung Singgalang


* TIM NEPENTHES Medan yang melakukan pendakian. 

Komentar

Postingan Populer