Diam Demi Ketenangan

Aku pernah menaruh simpati yang penuh padamu, tapi itu dulu.  Ketika kita sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu. Sikap kerendahan hatimu yang membuatmu tampak menawan. Karena memang seseorang dinilai dari isi hatinya bukan dari warna kulitnya atau paras wajahnya. Tidak terasa sudah hampir tujuh tahun kita berteman akrab, sang waktu memang tampak begitu kejam memenjarakan segalanya. Perlahan-lahan namun pasti kita dan teman-teman yang lain mulai mencari jalan untuk kehidupan yang lebih baik. Ada yang memutuskan menikah setelah tamat, ada yang memutuskan bekerja untuk memenuhi tanggungjawab keluarga dan ada yang lebih memilih meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi lagi demi karier dan uang yang berlimpah. Membayangkannya saja begitu lucu, padahal baru seperti kemarin tamat sekolah dan sekarang udah banyak yang menikah, bahhkan sudah ada yang memiliki anak. Aku hanya senyum-senyum sendiri ketika membayangkan waktu kala itu. Aku sudah pernah menyelami bagaimana dan apa itu tujuan hidup, mulai dari berkelana sendirian masuk kedaerah-daerah yang belum pernah kudatangi, melihat langsung dari dekat warga indonesia dengan segudang aktivitasnya. Melihat para pedagang kaki lima, pengemis jalanan menjajakan senyuman. Apalagi seorang kakek tua yang mengayuh becak lusuh demi uang kertas untuk kebutuhan peribadi.

Apakah mereka senang dengan kehidupan yang mereka jalani?

Aku tidak tahu pasti. Dari kalangan bawah, tidak pernah terbersitpun dikehidupan mereka untuk maju walaupun sedikit, aku heran melihat warga indonesia. Setidaknya harus ada semangat sedikit saja untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Mereka semua seperti menyerah kepada keadaan yang menghempaskan mereka kejurang kehidupan yang sangat pahit.   Bagaimana dengan kalangan atas? Hidup yang serba mewah, dipenuhi dengan segala macam fasilitas, bekerja dengan nyaman. Apakah kehidupan seperti ini yang harus dituju. Aku pernah melihat seorang jutawan dengan segala macam bentuk harta kekayaannya tapi merasa miskin. Bukan hartanya yang miskin tapi isi hatinya, ketenangan hidup tidak didapatkannya. Kebermanfaatan uang, bekerja yang terus-menerus, menumpuk harta dan berkeluarga lalu menua hingga mati. Apakah jalan kehidupan seperti ini yang lebih baik. Nyatanya tidak. Belum lagi lilitan hutang-piutang atas kreditan mobil mewah, harta diperebutkan anak dan keluarga.

Aku tidak bisa membayangkannya. Bagaimana dengan kalangan menengah? Yang pergi pagi pulang petang bahkan hingga matahari sudah tenggelam. Akankah mereka menikmati hidup yang seperti ini, rumah seperti tempat persinggahan sementara. Padahal ada banyak hal yang bisa dilakukan selain bekerja. Sudikah diri menceburkan kedalam kehidupan seperti itu. Memang kita membutuhkan uang, kadang uang bisa menjadi raja bagi diri kita sendiri tanpa pernah kita sadari. Pikiranku pelik membayangkannya. Eksistensi kita sebagai manusia benar-benar teruji kali ini. Bukan hanya aku kamu dan juga mereka. Hanya satu yang menjadi tujuanku dalam hidup yang kini perlahan-lahan sudah kutemukan yaitu ketenangan, ketenangan untuk selalu dekat dengan sang pencipta, ketenangan untuk selalu mengangkat takbir. Ditambah lagi rentetan ketenangan lain yang selalu mengikutinya. Kita hanya sebagai musafir yang hanya singgah sebentar lalu akan pergi lagi. Aku tidak ingin terlena akan dunia yang indah ini namun mampu menjerumuskan. Aku ingin hidup dengan senang tenang dan tentunya masih bisa duduk santai dikursi malas dengan segelas kopi dan sebuah buku. Itu yang terpenting, menikmati hidup dengan senyuman bukan dengan keluhan.

Catatan 22 April 2017

Komentar

Postingan Populer