Burni Telong Dan Keeksotisannya

Tidak ada rencana apapun untuk melakukan pendakian ini bahkan salah satu temanku hanya iseng untuk menawarkan kepada teman-teman yang lain untuk mendaki gunung ini, ada gairah untuk mengexplore dataran tinggi aceh tengah yang terkenal dengan pacu kuda bukan hanya pacu kudanya saja yang terkenal hingga penjuru negeri tapi ada satu benda yang tak kalah terkenalnya juga yaitu “Rencong”, sebuah pisau yang berbentuk memanjang dan sedikit melengkung itulah senjata tradisional yang digunakan untuk melawan penjajah dahulu, namun sekarang rencong berubah fungsi yang kini menjadi sebuah hiasan atau untuk oleh-oleh dari aceh, hal itu sangat membantu untuk melestarikan senjata tradisional tersebut.


Kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendaki gunung ini, gunung yang akan kami daki ialah gunung burni telong, gunung yang memiliki ketinggian 2600 MDPL, sedangkan arti dari nama burni telong itu sendiri adalah “Gunung yang terbakar”, gunung ini berjarak lima kilo meter dari Redeolong, Ibu kota Bener Meriah dan Bandar Udara, untuk bagi teman-teman yang ingin mendaki gunung ini ada beberapa jalur pendakian yang bisa didaki salah satunya ialah jalur Edelweis, mengapa dinamkan jalir edelweiss? Karena disepanjang jalur pendakian kita akan menemukan banyak tumbuhan edelweiss yang tumbuh subur di sisi-sisi jurang yang berbatu, tak kalah pula tumbuhan blue berry menghiasi yang apabila beruntung kita bisa memakannya langsung.


Jalur ini diawali dengan jalan aspal mulai dari  simpang jalan utama Takengon-Biruen sampai kelereng Burni telong tepatnya didesa Bandar Lampahan Kecamatan timang Gajah yang berjarak sekitar 3 KM, gunung ini termasuk yang masih aktif hingga sekarang.


Hamparan pohon kopi milik warga menghiasi perjalanan kami, tidak lama setelahnya akan tampak pohon-pohon besar itu lah batas pegetasi mengawali sebuah pendakian artinya kami akan masuk pintu rimba gunung ini, suara burung dan para penghuninya tak luput dari telinga mereka seakan menyambut kedatang kami untuk pertama kalinya mengijakkan kaki di gunung ini.


Kami memulai pendakian pada pukul 8 pagi, agar kami bisa menikmati udar pagi dan ada banyak waktu untuk bersantai ketika kami melakukan pendakian, selama pendakian setiap pendaki diwajibkan membawa air karena diouncak tidak ada sumber air yang mempuni. Jalur yang dilaluipun terlhat jelas itu menandakan gunung ini sering di daki oleh warga sekitar.
Setelah memakan waktu kira-kira 5 jam kami menemukan tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda kami memilih untuk bermalam ditempat ini walaupun hari masih siang Karena sejatinya kami menikmati perjalanan ini bukan puncaklah yang kami tuju walaupun akhirnya akan sampai puncak namun dalam hal lain puncak hanyalah bonus, pengalaman dan pembelajaran selama pendakianlah yang terpenting, malam datang dengan begitu cepat tanpa terasa kami beristirahat untuk menuju puncak besok, karena hanya disinilah tempat yang cukup lapang membuka tenda kalau di atas ada tapi hanya bisa satu tenda tak cukup besar untuk kami semua.


Malam berganti kedudukan dengan sang pagi, bulan melambaikan tangan pada matahari yang perlahan muncul menghangatkan bumi kami bangun pagi untuk menuju puncak, di Burni telong terdapat pula “Hutan Pemisah”, itulah nama yang di sematkan kebanyakan orang yang sudah mendaki gunung ini, hutan di pisahkan oleh tumbuhan perdu selutut yang dibawahnya bukan lagi tanah melainkan bebatuan tak luput pula tumbuhan Edekweiss menari ditiup angin yang lirih, tidak ada lagi pohon-pohon besar yang menghiasi dataran maupun tebing yang ada disini dan tak lupa pula tumbuhan kantung semar yang tumbuh subur di gunung ini semakin menambah eksotis dan ciri kekhasan akan jalurnya.


Untuk sampai kepuncak kira-kira memakan waktu 4 jam lumayan memakan waktu dikarenakan jalur pendakian yang lumayan terjal apalagi gunung memiliki kontour batu yang tidak rata, siang hari kami sampai dipuncak, ternyata dipuncak ada sebuah gua yang tidak terlalu dalam bisa untuk membuat tenda dan berlindung dari hujan syukurlah selama kami mendaki gunung cuaca cerah seakan semesta mendukung niat kami untuk sampai kepuncak, aku masih tidak percaya bisa sampai kepuncak ini dari sebuah guruan yang tidak disengaja hingga sampailah niat untuk menggerakkan.


Kami mengabadikan moment ini awan-awan yang menari dibawah kaki, kabut tipis menampar pipi, angin bertiup sepi, memang indah ciptaan-Mu Tuhan kuteriakkan dalam hati. Satu jam kami diatas untuk menikmati semuanya sebelum kami turun ketenda, sampainya kami ditenda kami memutuskan untuk bermalam satu malam lagi Karena tak cukup waktu 2 hari untuk menikmati indahnya gunung ini.

Komentar

Postingan Populer